Lembaran 27

671 79 26
                                        

Lembaran 27

"Dari mana aja kamu pulang jam segini?!"

Kegan menghela napas ketika ia baru saja menutup pintu rumahnya. Ia berbalik berjalan mendekati Papanya. Hingga akhirnya pria itu menampar pipi Kegan.

"Mau jadi apa kamu kerjaannya kelayapan mulu?!" Teriaknya kembali memukulkan sepatunya ke kepala Kegan membuat cowok itu membungkuk dengan tangan melindungi belakang kepalanya.

"Kegan juga pengen main, Pa."

"Main hah?! Main kamu bilang!" Kembali Dirga memukulkan sepatunya di punggung cowok itu.

"Papa hidupin kamu bukan buat cuman main!" Teriaknya marah, ia kini mendorong tubuh Kegan dengan kakinya hingga cowok itu terduduk.

"Maaf, Pa." Gumam Kegan.

Dirga membanting sepatunya kearah Kegan sebelum ia pergi.

Cowok itu meringis merasakan sakit akibat pukulan papanya, ia mendengkus. Kedua kalinya ia mendapat pukulan Papanya ketika cowok itu menghabiskan waktunya bersama Ariel.

Kegan mencoba berdiri dari duduknya, berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya. Memutar kenop pintu, setelah menutup pintunya ia langsung menyandarkan tubuhnya di pintu dan merosot duduk.

Memejamkan matanya menahan sakit di punggungnya yang tertekan karena ia bersender.

🍃🍃🍃

Diwaktu yang sama, namun di tempat yang berbeda. Ariel-Dona tengah mencoba menyatukan robekan sertifikat dengan lakban bening, ia duduk begitu saja di lantai, bahkan ia masih memakai seragamnya. Pipinya yang memerah kini mulai membiru, masih berdenyut tapi ia tidak peduli.

Tangan mungilnya mengambil gunting, menarik lakban hingga panjangnya sesuai yang dia inginkan. Lalu merekatkannya pada sertifikat juara pertama dalam karya cipta cerpen ketika ia duduk di bangku SMP. Lalu meletakkannya dengan hati-hati diantara sertifikat lainnya yang sudah utuh kembali.

Beberapa trofi juga sudah ia rekatkan dengan lem meski ada beberapa bagian yang sudah tidak bisa ia perbaiki. Wajahnya tanpa beriak emosi apapun. Tidak ada air mata atau tatapan kesal. Begitu dingin.

Ia kini mengambil robekan kecil, membaca penggalan kata  dan mencari robekan lainnya lagi yang akan menjadi pasangannya. Mengusapnya sebelum kembali diletakkan di ubin, mengambil lakban dan gunting, terus melakukan hal itu dari beberapa jam yang lalu.

Tok tok tok

"Dek?"

Kembali, ia tidak menyahuti, suara itu sudah ada tiga puluh menit yang lalu dan Ariel-Dona membiarkannya. Ia masih fokus dengan benda yang menjadi harta Ariel.

"Dek, please buka pintunya kamu belum makan, nanti sakit." Terdengar suara Karel yang begitu khawatir dan akan selalu mengubah kata 'lo-gue' jadi 'aku atau kakak-kamu' jika sudah seperti ini.

Ariel-Dona mendengus, hanya orang bodoh yang masih sempat memikirkan perutnya ketika hatinya tengah hancur.

Kini suara kenop pintu yang di putar terdengar namun ia tidak peduli, ia sudah mengunci pintunya double dengan kunci biasa dan kunci selot.

"Dek, kamu baik-baik aja 'kan?" Kini terdengar nada cemas dan sedikit panik.

Ariel-Dona menghela napas, sepertinya ia tidak akan tenang dengan suara Karel yang selalu mengganggunya. Berat hati ia beranjak dari tempatnya, dengan malas membuka kedua kunci. Membuka pintunya sedikit, sangat sedikit hanya setengah wajah.

I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang