Lembaran 38
Mengusap air mataku yang kembali menetes lalu menutup binder. Aku menoleh ketika mendengar suara pintu kamar kak Karel terbuka. Menatap kedua tanganku dan kembali teringat dengan kejadian dua hari yang lalu. Bertanya-tanya apakah dia baik-baik saja? Apa dia memaafkanku? Setelah apa yang aku lakukan padanya.
Cklek
Aku langsung berlari keluar. Senyumku yang nyaris muncul tertahan ketika kak Karel menatapku dingin. Ia lalu berjalan melewatiku.
"Kakak." Panggilku, semenjak hari aku menusuk kak Kegan, dia mendiamkanku. Seakan aku tidak ada di sekitarnya.
Langkah kak Karel terhenti, tapi tidak menoleh.
"Kenapa kakak jauhin aku?" Tanyaku pelan.
Ia akhirnya berbalik, menatapku.
"Lo nyaris nyelakain Papa, orangtua kita." Katanya.
Aku menelan ludah gugup.
"Maaf-"
"Kakak gak nyangka, bagian dalam diri lo jauh lebih mengerikan."
Aku berusaha menahan air mataku. Hal yang aku takutkan selama ini, tentang kak Karel yang perlahan akan berubah seperti Papa. Memperlakukanku dengan tidak sama lagi.
"Mengerikan ya?" Tanyaku, lebih pada diriku sendiri.
"Apa... Kakak udah capek?" Tanyaku mencoba menatapnya.
"Gue gak capek, tapi... Gue gak nyangka lo bisa ngelakuin ini semua. Tiana, Meiyana, bahkan Kegan?"
Aku mengusap air mataku.
Ia lalu berbalik hendak pergi. Kembali aku menahannya.
"Jika aku boleh memilih... Aku tidak ingin seperti ini. Aku tahu kelahiranku membuat Ibu kembali trauma, membuat kakak dan Papa kehilangan sosok Ibu dan istri dalam waktu yang cepat. Tapi... Aku tidak meminta untuk dilahirkan, aku tidak meminta di keluarga mana aku akan terlahir, aku tidak meminta siapa yang akan menjadi orangtuaku. Aku juga tidak meminta memiliki banyak aku di dalam diriku.
"Apa... Semuanya salahku? Jika boleh memilih, aku ingin lahir dengan kehidupan normal, lahir di keluarga yang menerima kehadiranku, dengan keadaan yang aku inginkan. Tapi sayangnya tidak semudah itu.
"Apa... Kehadiranku selama ini membuat kakak susah? Kalau begitu, kenapa tidak dari dulu kakak bersikap seperti Papa saja? Karena... Menyakitkan bagiku, sikap kakak yang tiba-tiba seperti ini." Aku mengusap kembali pipiku yang basah.
Kak Karel menghela napas, tidak membalas perkataanku dan melanjutkan langkahnya membuatku terisak.
Aku merasa... Sendirian.
🍃🍃🍃
Meringis ketika merasakan perutnya perih, lalu mengerjap ketika sinar mentari menerpanya. Kegan perlahan bangun dari tidurnya. Senyum merekah ketika ia sadar bahwa ia sudah berada di kamarnya. Itu artinya kemarin bukanlah mimpi ketika ia di perbolehkan pulang.
Segera ia beranjak dari tempat tidur bersiap untuk sekolah. Ia ingin bertemu seseorang yang membuat pikirannya penuh dengan wajah orang itu.
Menghabisakn beberapa waktu akhirnya bisa kembali melihat keadaan sekolahnya. Memang berubah setelah kejadian beberapa hari lalu. Ia bahkan mendengar dari teman-temannya;
KAMU SEDANG MEMBACA
I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]
Teen FictionAriellea Mahardika yang memiliki gangguan Dissociative Identity Disorder atau kepribadian ganda hanya ingin menjalani kehidupannya dengan normal seperti remaja lainnya dan berusaha untuk tidak membuat ulah yang akan menyebabkan beberapa sosok asing...
![I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/154423995-64-k903089.jpg)