Lembaran 26
Akhirnya setelah aku bermain Pump beberapa kali, kak Karel datang menyusul dan sekarang ia tengah bertaruh dengan kak Kegan untuk mendapatkan point terbanyak di level 8. Kaki mereka tampak lincah bergerak kesana kemari untuk menginjak lantai kotak. Bahkan beberapa pengunjung berhenti sejenak untuk menonton aksi mereka yang tampak seru.
Mereka terlihat sangat fokus menatap layar, seakan mata mereka enggan berkedip. Terlihat tangan mereka yang memegang pegangan di belakang mereka terlihat berurat menunjukkan mereka begitu semangat.
Hingga satu lagu usai dan tepuk tangan yang lain riuh terdengar, kak Kegan melempar senyum menang pada kak Karel yang kalah, ia berada beberapa poin di bawah kak Kegan. Ini permainan mereka yang terakhir sebelum turun dari tempat itu dan ikut duduk disampingku, hingga aku berada di tengah-tengah.
"Gue gak tahu kalo lo jago juga main ginian." Kata kak Karel takjub.
Kak Kegan masih terengah dan mengatur deru napasnya.
"Sesuai janji kakak, kamu mau beli novel apa aja kakak beliin." Kata kak Karel, aku langsung menoleh menatapnya senang.
Aku langsung berdiri, menarik tangannya seperti anak kecil.
"Ayo kakak, sekarang!" Rengekku.
Kak Karel tergelak,
"Udah lama gue gak liat lo manja kayak gini. Jadi, kangen." Katanya sembari berdiri.
Kak Kegan ikut berdiri sesekali tangannya mengibaskan kaos putih polos yang melapisi tubuhnya sebelum seragam. Seragamnya sendiri sudah ia lepas dan tersampir di bahu kirinya.
Aku masih memakai jaket kak Kegan dan kak Karel juga memakai hoodie-nya. Kami berjalan beriringan menuju toko buku. Aku segera berlari kecil menuju rak deretan novel karya Merari Siregar mengambil novel berjudul Azab dan Sengsara, lalu pada karya Abdoel Moeis, Sutan takdir Alisjahbana, hingga novel yang aku bawa berjumlah enam buah.
Kak Karel yang melongo hanya bisa berkedip tanpa protes menggiringku ke kasir dan membayarnya, tidak lama kak Kegan datang dengan sebuah majalah.
"Habis ini kemana?" Tanya kak Kegan.
"Makan habis itu pulang." Jawab kak Karel yang diangguki oleh kak Kegan.
"Lo mau makan apa dek?" Tanya kak Karel padaku, aku mendongkak untuk menatapnya.
"Kak Tiana udah pulang belum? Ajak sekalian kak." Kataku, ia mengangguk merogoh saku seragamnya dan menghubungi seseorang.
"Lo dimana? Udah pulang belum?... Oke, kita makan dulu yuk... Di tempat biasa kita kalau lagi jalan bertiga.... Sekarang ada gue, Ariel sama Kegan... Oke, hati-hati dijalannya." Lalu kak Karel menyimpan kembali gawainya.
🍃🍃🍃
"Pasti Papa bangga sama lo," ujar kak Tiana.
"Kasih sertifikat itu dan bikin Papa luluh." Tambah kak Karel sembari melepas seat belt, begitupun kak Tiana yang duduk disampingnya.
Kami bertiga keluar dari mobil kak Karel tepat saat Papa dan Mama keluar dari rumah menyambut kedatangan kami. Aku gugup luar biasa.
Kami berjalan mendekat hingga berhadapan dengan Papa.
"Jadi?" Tanya Papa,
Aku menghela napas, tersenyum mengingat apa yang sudah aku raih. Lalu tanganku terulur menunjukkan sertifikat kejuaraan.
"Ariel menang, Pa." Gumamku, dan hatiku senang ketika Papa menarik sertifikat itu, melihatnya dengan kedua alis saling bertautan sebelum hal yang membuat mataku membola dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]
Teen FictionAriellea Mahardika yang memiliki gangguan Dissociative Identity Disorder atau kepribadian ganda hanya ingin menjalani kehidupannya dengan normal seperti remaja lainnya dan berusaha untuk tidak membuat ulah yang akan menyebabkan beberapa sosok asing...
![I Borrow Your Boyfriend [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/154423995-64-k903089.jpg)