8 - Huit

52.4K 2.3K 27
                                    

"Mas Zaid jadinya mau bawa berapa coat?" Risa bertanya kepada Zaid sambil melipat beberapa baju dan memilah barang-barang.

Risa kira Zaid tidak menjawab karena dia sedang sibuk berpikir. Ternyata ketika Risa menoleh, suaminya sedang bersembunyi di balik sofa ruang tamu. Sesekali melirik ke arah Nira yang mondar mandir mencari ayahnya. Risa menepuk keningnya. Tidak habis pikir bagaimana cara Zaid sendiri mengepak barang-barangnya saat harus pergi ke luar kota ketika tidak ada Risa. Pasti lebih banyak terdistraksi oleh berbagai hal.

"Mas Zaid!" Risa kembali memanggil dengan suara lebih keras.

"Ssst!" Zaid menempelkan telunjuk di bibirnya. Memberi isyarat agar Risa tidak membuka persembunyiannya. Rupanya seruan Risa membuat Nira bisa menemukan ayahnya yang sedang bersembunyi.

"Ayyyaaahhhh!" seru Nira kemudian tergelak. Dia tertawa begitu lebar.

"Wah ketemu!" Zaid pura-pura kaget. Mereka berdua tertawa dan berpelukan hingga berguling di lantai. Nira terlihat begitu senang dan Zaid pun sama. "Ayah sembunyi lagi. Nira cari ayah ya."

Zaid melepaskan pelukannya dari Nira dan berlari. Nira mengejar ayahnya lalu menangkap kakinya sebelum Zaid bisa bersembunyi lebih lama. Risa hanya bisa memperhatikan kedua orang kesayangannya ini dalam diam. Terpaksa kegiatan packing untuk dinas Zaid ini dirinya yang mengatur.

Pakaian yang berserakan di karpet ruang keluarga kembali menjadi fokus Risa. Sengaja mereka melakukan packing di ruang keluarga dan bukan di kamar agar bisa sekaligus bermain dengan Nira. Realitanya malah Zaid yang fokus bermain dengan Nira dan Risa yang fokus packing. Namun memang begitulah kebiasaan dan keahliannya.

Risa yang rapi dan telaten akan lebih cermat menentukan barang-barang apa saja yang akan dibawa Zaid untuk dinas ke Wina, Berlin, Paris, dan terakhir di London. Cuaca di sana masih cukup dingin sehingga Zaid pasti harus membawa pakaian ekstra dan baju hangat. Zaid belum tentu ingat untuk membawa hal kecil yang terlihat sepele padahal dibutuhkan, seperti lip balm misalnya. Jika ternyata cuaca terlalu dingin dan menyebabkan tubuhnya kering. Padahal Zaid yang lebih sering berangkat ke luar negeri daripada Risa.

Ketika Risa sedang melipat beberapa baju dan memasukkan peralatan perawatan tubuh Zaid, tiba-tiba Nira berlari dan menjatuhkan diri di atas koper Zaid yang memang muat untuk dimasuki anak batita.

"Nira!" Risa memekik karena kaget. Berbanding terbalik dengan Nira yang tertawa girang karena dikejar ayahnya. Tawanya semakin histeris ketika Zaid menghampirinya. "Nira, ini kan Bubu lagi packing. Baju Ayah berantakan lagi nih. Mainnya di sana."

"Sorry, sorry," Zaid menghampiri Nira lalu mengambil putrinya dari dalam koper. Kemudian Zaid memangku Nira dan ikut duduk di samping Risa yang sekarang wajahnya cemberut. "Udahan ya kejar-kejarannya. Capek."

Nira masih tertawa saat Zaid memeluk dan mencium pipinya. Nira yang rupanya tidak betah duduk diam, melepaskan pelukan Zaid lalu menghampiri box mainannya. Tanpa ragu-ragu, memuntahkan isinya di lantai. Sekarang ruang keluarga berantakan dipenuhi barang-barang Zaid dan mainan Nira.

Risa hanya menatap itu semua dengan tatapan nanar.

"Gimana?" tanya Zaid sambil cengengesan.

"Apanya? Berantakan lagi ini isinya," jawab Risa sambil cemberut. Tanpa bicara lebih lanjut, Risa merapikan isi koper kemudian mempercepat proses packing. Sebelum ada lagi gangguan dari makhluk kecil yang sekarang sedang berguling di karpet.

"Santai aja Ris. Berangkatnya juga masih lama," kata Zaid kalem. Tangannya mengambil tas kecil berisi toiletries.

"Berangkatnya besok! Besok malem! Besok Mas Zaid berangkat..." Nada suara Risa semakin lemah seiring kata-katanya. Wajahnya yang tadinya galak berubah jadi sedih.

The Fools - Trilogi Zaid Risa 3 - END (WATTPAD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang