25 - Vingt Cing

32.2K 2.4K 71
                                    

Dulu, sejarah berpacaran Risa bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Dia hanya punya satu mantan pacar yang benar-benar dia sayangi. Sisanya hanya pria yang dekat, datang, dan pergi. Satu di antara pria yang datang dan pergi sempat membuat Risa merasa sangat rendah diri. Mereka dekat selama beberapa waktu, makan bersama, menonton film, janji bertemu di suatu tempat yang membuat hatinya berdebar, namun tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Sebulan kemudian Risa mendapat kabar bahwa dia sudah menjalin hubungan dengan wanita lain.

It's okay, bukan masalah. Risa pikir. Dia akan menemukan orang lain lagi. Walaupun pengalaman itu memang sempat membuatnya kesal setengah mati dan merasa tidak berdaya.

Sekarang Risa memiliki perasaan bahwa dia akan menghadapi hal yang sama. Berhubungan, lalu dicampakkan. Perasaan itu muncul semakin kuat seiring dengan langkahnya menuju sebuah coffee shop dimana Rey sudah menunggunya.

"Hai," Rey melambaikan tangan, senyumnya sama seperti biasa.

Risa membalas senyum Rey lalu duduk di hadapannya. Demi mengulur waktu atas entah apa yang akan datang sebentar lagi, Risa sengaja berlama-lama memilih menu. Padahal sejak tadi dia sudah membayangkan rasa segarnya Iced Chocolate.

Tiga menit berlalu dan si petugas sudah mulai merasa jengkel. "Iced Chocolate," pesan Risa akhirnya. Pelayan itu mengangguk lega dan segera membawa pesanan Risa ke dapur. Pada akhirnya Risa harus menghadap Rey dan menerima apa pun alasan Rey mengajaknya bertemu secara mendadak.

"Ris, I've been thinking lately." Bahkan kalimat pertama Rey saja sudah bisa menimbulkan debaran jantung yang lebih cepat dan meningkatkan kewaspadaan Risa. Rey sama sekali tidak berbasa-basi. Basa basi bukan kebiasaannya.

"Tentang apa?"

"Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lebih dari sekedar seorang User dengan Klien," Rey begitu tenang saat mengatakan ini. Namun Risa tetap melihat sorot sedih di mata Rey. Apakah bagi Rey tidak mudah mengatakan ini?

"Aku sadar bahwa meskipun kamu lupa, kamu tetap merupakan istri dari seorang laki-laki. Pada prinsipku, aku gak bisa bersama perempuan yang sudah memiliki pasangan. Awalnya aku memang berniat maju terus, aku pikir mungkin bahwa kamu dan suamimu akan selesai. Ternyata tidak...."

"Kenapa kamu berpikir bahwa aku dan Zaid tidak akan selesai?" Rahang Risa mengeras. Dari mana Rey bisa memiliki pikiran itu? Tidakkah Rey merasa cukup dengan Risa yang nyaman berada di sisinya?

"Suamimu mengajak aku bertemu."

"Apa? Kapan? Dia bilang apa?" Berani-beraninya Zaid menemui Rey? Segitu inginnya Zaid menghalangi kebahagiaan Risa?

"Ada beberapa hal yang kita bicarakan. Hal-hal yang kita bahas dan membuat aku banyak berpikir. Kamu memang lebih baik tetap berada bersama suami dan anakmu. Bukannya aku mudah mengatakan ini Ris. Aku pun sebenarnya ingin kita bisa terus sama-sama. Tapi aku tahu posisiku dan aku tahu posisimu."

Risa tidak tahu harus berkata apa. Rey memberikan ketenangan yang sudah lama tidak Risa rasakan setelah kecelakaan. Risa juga tahu bahwa dirinya masih merupakan istri sah dari pria lain. Pria yang hingga sekarang masih membuat Risa pusing dan sakit. Literally. Apa yang harus Risa lakukan?

"Dia tidak akan menceraikan kamu, Ris," Rey menambahkan, seakan mengerti rencana apa yang terlintas di kepala Risa.

"I hate this but this is how it was supposed to be," Rey mengulurkan tangannya lalu mengelus tangan Risa.

Untuk sementara waktu, Risa membiarkan mereka seperti ini saja.

***

"So, hmm, kamu sudah datang," Zaid berdeham beberapa kali. Tangannya dimasukkan ke dalam saku dan dia berdiri salah tingkah.

The Fools - Trilogi Zaid Risa 3 - END (WATTPAD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang