26 - Vingt Six

32.3K 2.5K 61
                                    


Nira tidur dengan lelap diapit oleh orang tuanya. Risa berbaring menyamping menghadap anak kecil yang cantik dan manja ini. Nira tidur dengan nyenyak karena setelah sekian lama, dia kembali tidur ditemani kedua orang tuanya. Tangan Nira masing-masing memegang tangan Zaid dan tangan Risa.

"Nira tidur dengan nyenyak sekali," kata Zaid, pelan sekali agar tidak membangunkan Nira. Dia juga berbaring menyamping menghadap putrinya. Tangan lain yang tidak digenggam Nira, digunakan untuk menyangga tubuhnya.

"Hmm," Risa menggumam setuju. Tubuhnya dimajukan sejenak untuk mencium kening Nira. Perlahan, Risa berusaha melepaskan pegangan Nira pada jarinya.

"Kamu mau kemana?" Zaid terperangah.

"Aku akan tidur di kamar A Gani," Risa berhasil melepaskan pegangan Nira kemudian turun dari tempat tidurnya.

"Kenapa?"

Risa berbalik, menatap Zaid yang wajahnya sekarang terlihat gusar. "Kita gak mungkin tidur sekasur bertiga gini."

"Ah." Padahal tidur seperti ini bukan hal yang aneh. Mereka sering tidur begini ketika menginap di rumah Risa. Mereka juga tidur bertiga ketika Nira tidak mau tidur sendirian di apartemen. Mereka juga tidur bertiga saat pergi liburan.

Itu karena Risa ingat kepada suami dan anaknya. Jika itu dilakukan sekarang, Risa berpikir dia tidur dengan orang asing. Zaid harus bisa menerima kenyataan itu.

"Biar aku saja yang tidur di kamar Gani," Zaid menarik tangannya dari Nira. Putrinya bergerak sedikit namun tidak terbangun. "Aku sudah biasa tidur di kamar Gani. Kamu temani Nira saja."

Zaid berjalan keluar dari kamar Risa tanpa menoleh ke belakang lagi. Risa sendiri memperhatikan Zaid yang turun dari tempat tidur, berjalan keluar, dan menutup pintu kamarnya. Lega karena akhirnya Zaid pergi, Risa kembali berbaring, memeluk Nira dan memejamkan matanya.

***

Minggu pagi. Matahari bersinar cerah hari ini. Sama seperti raut wajah seorang anak berusia dua tahun. Begitu bangun, dia langsung berlari-lari di sekeliling rumah. Membuat kakek dan neneknya sibuk mengejar dan membuatnya diam. Nira baru mau duduk manis setelah disuguhkan tayangan kartun di TV dan dibuatkan sarapan susu dengan kue pukis yang dibelikan Mama dari pasar.

Nira mengangkat tangannya setiap melihat adegan di film kartun. Dia tampak begitu ceria, berbeda dengan orang dewasa yang duduk di sampingnya, menemaninya menonton. Wajah Zaid tampak mendung dan dia diam saja sejak keluar dari kamar Gani.

"Yah, dah," Nira melempar kue pukis yang tinggal sepotong ke atas piring. Kemudian anak ini mengambil gelas untuk meminum susu. Nira minum susu seperti sudah seharian tidak minum air. Gelasnya kosong dalam sekejap. Sekeliling bibirnya berwarna putih karena bekas susu.

"Belepotan. Sini," Zaid mengelap mulut Nira dengan tisu walaupun Nira mendorong tangan ayahnya jauh-jauh. Setelah merasa bersih, Zaid membiarkan Nira berlarian lagi. Sisa kue yang tidak habis dimakan Nira, Zaid suapkan ke mulutnya.

"Mbuuuu," Nira rupanya berlari ke kamar ibunya, mengetuk, tepatnya, menggebrak pintu, memanggil ibunya..

"Apa, Sayang?" Risa keluar dari kamar. Kemunculan ibunya membuat Nira sumringah.

"Ia mo bak," kata Nira, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah kamar mandi.

"Nira mau ibak? Boleh. Yuk, mandi sama Bubu ya," Risa mengulurkan tangannya dan Nira menyambut dengan riang gembira. Zaid memperhatikan hingga kedua orang itu masuk ke kamar mandi.

"Mau sampai kapan kalian tinggal terpisah gini?" Papa duduk di sebelah Zaid, tangannya meremas pundak menantu laki-laki satu-satunya ini.

"Entah, Pa," Zaid mengangkat bahu. "Tadi malam saja, Risa gak mau tidur sekasur sama saya."

The Fools - Trilogi Zaid Risa 3 - END (WATTPAD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang