Lena saat ini sudah berada di Indonesia, lebih tepatnya di Lampung. Tadi pagi ia mendapatkan kabar yang begitu tidak mengenakkan. Sebelum pulang, ia sempat mencari Daniel. Namun pria itu sedang mengurus kepentingannya yang tidak bisa diganggu oleh siapapun.
Lena sedang dalam kondisi amat marah. Tidak ada orang yang bisa menenangkannya termaksud Romi yang saat ini ikut mengantarkannya. Ini memang kejadian yang luar biasa. Lena bahkan tidak bisa duduk karena tubuhnya gemetar karena begitu banyak menahan emosi.
Rumah keluarga Hendrawan. Lena menatap pintunya dengan nanar. Brengsek! Banyangan masa kecilnya yang menyedihkan berkelibat di kepalanya. Begitu menyesakkan. Tapi ia harus melakukannya, mendatangi kandang musuhnya demi mendapatkan penjelasan dari sahabatnya.
"Claudy," suara kaget dari Sandi ketika mengetahui sahabatnya adalah orang yang mengetuk pintu rumahnya.
Telinga Lena dapat mendengat dengan jelas suara terkejut Sandi. Ia memandang wajah pria di depannya. Begitu pula dengan Sandi yang tengah menatap kedua bola mata Lena. Untuk beberapa waktu lamanya mereka berdiri di sana. Saling memandang dan kaku.
Lena tak kuasa sekarang. Tubuhnya bagai tersambar petir. Kesedihan batin yang amat sangat membuat semua pertahanannya luluh lantah. Ia begitu kecewa dan tersayat-sayat. Hatinya remuk sekali. Tubunya panas bagai tersulut api yang berkobar-kobar. Menggiring sesuatu yang ingin ke luar dari dalam dirinya. Tapi tak bisa. Air matanya benar-benar sudah mengering
"Apa salahku Sandi?" ucap Lena lemah.
"Maafkan aku..." Hanya kalimat itu yang bisa dikatakan oleh Sandi. Ia tahu wanita itu pasti akan kecewa dengan tindakannya.
"Katakan, di mana letak kesalahanku?"
"Maafkan aku..."
"Kau bisa membunuhku jika aku melakukan kesalahan yang membuatmu membenciku. Tapi mengapa kau memilih untuk mengkhianatiku?"
"Maafkan aku..."
"Kenapa harus wanita brengsek itu? Kenapa harus Sia?" Lena mencoba menenangkan napasnya yang memburu. "Kenapa kau ingin menikahi wanita yang kau tahu adalah musuhku, orang yang aku benci melebihi apapun," kata Lena yang menyiratkan rasa sedih, marah dan kecewa.
Sandi terdiam kemudian ia berkata lagi, "Maafkan aku..."
"Siapa sayang?" Suara khas yang Lena sangat kenali tiba-tiba terdengar dari balik tubuh Sandi.
"Kau? Kenapa kau ke mari? Apa kau ke mari untuk mengucapkan selamat untuk pernikahan anakku?"
"Hahaha..." Lena tertawa mengejek. "Aku yakin ini pasti ulahmu Nyonya. Kau benar-benar iblis."
Nyonya Hendrawan terlihat sangat murka mendengar perkataan Lena. "Kau benar-benar anak yang kurang ajar. Baiklah. Aku akan mengajarimu bagaimana caranya bersikap terhadapku."
Sang Nyonya mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar. "Aku akan merobohkan pohon-pohon ini dan membangun sebuah kafe di sana. Bagaimana? Bukankah itu bagus untuk hadiah pernikahan anakku?"
Lena tersentak melihat gambar di ponsel itu. Itu adalah sebuah kebun milik keluarga Hendrawan. Tetapi di kebun itu pula Tuan Hendrawan menguburkan kedua orang tua Lena.
"Mami, kau berkata akan menyerahkannya pada Claudy!!!" ucap Sandi yang tak kalah terkejutnya dengan Lena.
"Aku akan menyerahkannya, tetapi ada syaratnya, anakku sayang." Nyonya Hendrawan memandang Lena. "Berlutut dan memohonlah kepadaku."
Sandi terkejut dan tercengang. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin ibunya melakukan hal sekejam itu. "Claudy, jangan lakukan itu!" Sandi menoleh ke arah ibunya. "Mami! Apa yang mami lakukan?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Last Yesterday
Romance(Novel ini adalah novel dewasa yang memuat adegan-adegan dewasa pula. Dimohon kebijaksanaan pembaca yang ingin membacanya!) Masa lalu yang kelam dan dendam yang membara membuat seorang wanita begitu ambisius ingin menjadi seorang dokter. Namun takdi...
