Lena menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Huh! Agendanya sangat padat. Seorang wartawan, dari hari ke hari, dari jam ke jam, harus berburu berita. Melelahkan memang. Sangat!
Lena melirik ponsel yang ada di tangannya. Ia membaca salah satu portal berita. Horoskop dan ramalan. Wanita itu meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia sangat malas membaca hal-hal yang berbau ramalan apalagi yang berkaitan dengan kehidupan asmara dan cinta.
Wanita itu punya pandangan sendiri tentang cinta. Menurutnya, cinta tak ubah sebuah segitiga yang mengikat antara hasrat, keintiman dan komitmen. Ketiga komponen cinta yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Setidaknya, itulah yang ia baca dari buku karya Robert Sternberg. Jika kau ingin melepas salah satunya, maka cintamu bukanlah cinta sesungguhnya. Tetapi jika kau terlalu menonjolkan salah satunya maka cintamu akan menjadi cacat.
Ketika kau hanya memiliki hasrat itu disebut cinta nafsu. Jika kau memiliki keintiman dan komitmen, itu disebut cinta persahabatan. Beda halnya jika kau memiliki keintiman dan hasrat, mungkin itu bisa dibilang cinta yang romantis. Tapi cinta romantis bukanlah cinta sejati sebab cinta sejati hanya bisa terbentuk ketika kau memiliki keintiman, hasrat dan komitmen. Sulit bukan? Sangat sulit hingga membuat Lena tidak percaya dengan cinta. Karena baginya hasrat balas dendam dan ambisinya lebih besar dari kedua komponen lainnya.
Lalu bagaimana dengan hubungan yang dijalaninya dengan Daniel?
Lena berpikir bahwa hubungan mereka hanya sekedar komitmen. Ini adalah cinta hambar. Jenis cinta yang hanya berlandaskan sebuah kompromi antar keduanya. Cinta yang hampa. Wanita itu tidak mengacuhkan keanehan hubungan mereka. Kadang-kadang justru itulah yang ia inginkan. Tapi ia masih membutuhkan Daniel. Ia butuh pria itu untuk membalas dendamnya kepada mantan majikannya. Sedangkan Daniel membutuhkan ikatan pernikahan untuk menyenangkan hati keluarganya. Bukankah ini simbiosis mutualisme? Tidak ada yang dirugikan kan?
Lena dan Daniel telah menikah selama dua minggu. Mereka tetap bekerja sesuai profesi mereka masing-masing. Lena sebagai jurnalis dan Daniel sebagai dokter. Lena tetap bekerja dengan gigih walaupun sekarang ia telah diberi harta berlimpah oleh keluarga Alvaro. Daniel, pria itu sangat bertanggung jawab dengan semua perkataannya. Ia memberikan kartu kredit, kartu ATM, mobil dan semua fasilitas mewah lainnya. Namun bukan Arlena namanya jika wanita itu menerima semua itu dengan cuma-cuma. Ia masih mempunyai harga diri dan tekad kuat yang memungkinkannya untuk bekerja. Ia akan terus bekerja sehingga ia tidak takut jika sewaktu-waktu dirinya dan Daniel akan berpisah. Ia bisa membiayai hidupnya sendiri. Itulah yang ia yakini.
Daniel memang mengatakan tidak akan ada perpisahan apa lagi perceraian dalam pernikahan mereka. Namun Lena tak pernah mempercayai perkataan orang lain. Apalagi jika perkataan itu keluar dari mulut laki-laki. Mereka adalah makhluk yang sering berucap manis untuk mendapatkan tujuannya. Jika telah selesai, mereka akan kembali ke tabiat asli mereka. Jadi, bisa diartikan bahwa apa yang mereka katakan sebagian besar hanya bualan dan omong kosong belaka. Tapi tak menutup kemungkinan hal itu juga dilakukan oleh para wanita. Karena pada dasarnya semua manusia akan melakukan apapun demi memenuhi ambisi dan tujuannya.
Sudahlah! Semua pemikirannya itu membuat Lena merasa letih. Beransur-ansur ia memejamkan matanya dan terlelap.
XXXX
Suara alarm di ponsel Lena berbunyi keras menandakan waktu yang telah sampai pada jam 5 dinihari. "Ya ampun!" Lena meloncat dari ranjangnya, bergegas menuju ke kamar mandi. Usai membersihkan diri, Lena mengambil pakaian yang telah ia siapkan di atas sofa. Dengan buru-buru ia mengenakan pakaiannya, lengkap dengan sweater birunya. Sambil mengambil tas, wanita itu mengangkat panggilan telepon di ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Last Yesterday
Romance(Novel ini adalah novel dewasa yang memuat adegan-adegan dewasa pula. Dimohon kebijaksanaan pembaca yang ingin membacanya!) Masa lalu yang kelam dan dendam yang membara membuat seorang wanita begitu ambisius ingin menjadi seorang dokter. Namun takdi...
