Obat dari Rasa Sakit

5.4K 277 6
                                        

Lena mengerjapkan matanya. Berlahan-lahan terbuka. Aroma khas rumah sakit menyambutnya. Wanita itu paham jika saat ini ia sedang berada di rumah sakit.

Lena menoleh. Ia terkejut karena melihat Daniel tengah duduk di kursi di samping ranjangnya. Pria itu tersenyum melihat Lena telah membuka matanya dan mengulurkan tangannya menyentuh kepala Lena. Kemudian tangannya menggenggam tangan Lena. Besar, hangat dan nyaman. Pria itu berbicara dengan suara yang berat. "Maafkan aku."

Lena tersentak. Mengapa pria itu yang meminta maaf? Tapi ia tak bisa berbicara sekarang. Tenggorokannya serasa tercekat. Ia hanya diam sambil tetap membiarkan pria itu menggenggam tangannya karena ia bisa merasakan kekhawatiran pria itu lewat sentuhan tubuh mereka.

Daniel memang cemas. Ia tidak mau lagi membayangkan bagaimana kalutnya ia semalam. Istrinya tergeletak begitu saja dengan lantai berlumuran darah dan kaca. Ia sempat merasa takut jika Lena saat itu meninggalkannya karena menurut Daniel, wanita itu punya alasan kuat untuk pergi darinya dan wanita itu tentunya sanggup untuk melalukan itu.

Namun, ternyata, Lena tidak berniat untuk bunuh diri. Wanita itu pernah belajar mengenai ilmu medis. Ia tahu di mana titik-titik vital di tubuhnya. Jika ia memang ingin menghampiri maut, ia pasti menyayat bagian itu. Terbukti ia tidak melakukannya. Tapi tetap saja itu membuat Daniel panik. Andai saja ia terlambat untuk pulang, mungkin Lena saat ini sudah tewas karena kehabisan darah.

Beberapa saat kemudian, setelah merasa sedikit tenang, barulah Daniel mengangkat suara. "Kau juga bersalah karena telah menyakiti dirimu. Apa kau berniat untuk menjadikan aku duda tampan, hhmm?" katanya sambil memandang Lena dengan mata hazelnya yang menghujam dan tajam.

Lena yang awalnya merasa iba, kini memutar bola matanya jengah. "Mr. Alvaro, bukankah bagus jika kau menjadi duda? Aku rasa para gadis tidak akan mempedulikan statusmu."

"Apa kau masih merasa cemburu dengan kejadian bulan madu kita di Jepang kemarin?"

"Apa? Aku cemburu? Cih! Yang benar saja!" elak Lena. "Lagi pula itu bukan bulan maduku. Jangan menyebutnya seperti itu! Itu bulan madumu sendiri," ucap Lena dengan keyakinan.

"Hahahha... Baiklah sayang... Aku akan menyiapkan bulan madu yang jauh lebih baik untuk kita." Daniel mengelus tangan Lena. "Aku lebih suka kau berdebat denganku dibandingkan kau berbaring lemah seperti semalam."

"Kau terlihat sangat sedih Mr. Alvaro. Aku yakin pasti saat ini kau tidak bisa hidup tanpaku," ucap Lena angkuh.

Daniel terkekeh, "Hahaha... Astaga! Istriku sekarang sudah sangat pandai membaca isi hatiku," ujarnya sembari mengecup tangan Lena.

XXXX

"Lena, kau akan terluka jika terus keras kepala seperti ini! Kau baru saja keluar dari rumah sakit kemarin!"

Seperti biasa. Siang ini apartemen mereka dipenuhi dengan perdebatan suami istri itu.

"Terluka? Luka mana yang kau bicarakan? Sejak kecil aku sudah terluka dan bahkan aku sudah tidak bisa merasakan sakit lagi jika terluka."

"Mengapa kau ingin pergi ke acara pernikahan itu? Aku tidak bisa menemanimu ke sana. Aku ada jadwal operasi nanti."

"Lakukan apa yang penting bagimu. Aku akan melakukan apa yang penting bagiku. Itulah keadilan."

Daniel mengacak-acak rambutnya kesal. "Apa kau ingin menjatuhkan harga dirimu lagi di sana?"

"Apa yang kau katakan?" ucap Lena dengan nada meninggi.

"Kau memohon pada mereka minggu lalu. Apa kau tidak pernah menganggap keberadaanku?" kata Daniel dengan suara yang tak kalah meninggi. Lena memohon kepada Nyonya Hendrawan dan kenyataan itu telah melukai harga diri Daniel.

My Last YesterdayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang