POV Author
Kebanyakan orang mungkin berpikir menjadi seorang jurnalis merupakan pekerjaan yang sulit. Selain kegiatan sehari-harinya yang menuntut kecepatan dan ketepatan, menjadi seorang jurnalis juga dituntut harus mampu bekerja di antara deadline yang mengejar. Dan itu benar! Sangat benar! Semua harus mengalaminya, termasuk seorang Lena sekali pun.
Ini adalah jam makan siang, tapi Lena harus menghabiskan makanannya dengan sangat tidak nikmat. Ia harus mengunyah makan siangnya sambil menyunting berita yang baru ditulis jurnalisnya.
Saat sedang berkonsentrasi, tiba-tiba ponsel wanita itu berdering. Lena melihat nama sang atasan di layar ponselnya. Dengan cepat wanita itu mengangkat panggilan itu.
"Posisimu sekarang di mana?" cecar sang atasan.
"Di Blok M, Pak!"
"Bagus! Sekarang ke KPK! Ada menteri yang diperiksa. Kita live 30 menit lagi!"
"Ha? Sekarang pak?"
"Iya! Cepat! Waktumu hanya 30 menit!"
Belum sempat menanggapi, sambungan teleponnya sudah dimatikan oleh sang atasan. Lena memasukkan note dan penanya ke dalam tas.
"Bisa kita sunting berita ini nanti?" katanya kepada gadis di depannya. Ia membereskan pakaiannya sambil mengetikan beberapa nomor di atas ponselnya.
"Iya Mbak!" jawab gadis itu sambil mengangguk.
"Dion ke KPK sekarang! Kita ada live report di sana!" kata Lena setelah mendengar suara hallo dari ponselnya.
"Sekarang Len? Aku masih di kos!"
"Ini perintah Pak Satria. Kita live 30 menit lagi!"
"Ha? Oke. Oke aku jalan sekarang!"
Lena mengambil kunci mobil kantornya dan meninggalkan jurnalisnya yang tengah duduk sambil memperhatikan seniornya itu. Lena memacu mobilnya dengan cepat. Macet! Jakarta di jam makan siang seperti itu pasti macet. Dan itu sangat menyita waktu. Sungguh mengesalkan!
Sambil menunggu mobilnya berjalan, Lena mengeluarkan ponselnya dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi di gedung komisi pemberantasan korupsi itu.
XXXXX
Jakarta yang panas semakin memanas. Membuat semua orang berkeringat. Apalagi para wartawan yang ada di luar gedung itu.
Ketika beberapa orang keluar dari gedung yang berada jalan Kuningan itu, semua pemburu berita itu mendekat. Seperti gula yang dikerubuti semut-semut. Kilatan cahaya dari kamera mereka mulai menyilaukan mata para petugas KPK itu. Seorang menteri baru saja diperiksa. Tentu saja ini akan menjadi berita heboh. Mereka akan menjadikan ini sebagai salah satu headline dalam berita mereka. Dan untuk beberapa stasiun televisi, mereka tidak akan menyia-nyiakan kabar ini. Mereka akan menyiarkannya secara langsung dalam program breakingnews andalan mereka.
Suara reporter yang nyaring mulai mendengung. Saling berebut audio dan tampilan sebagai reporter yang paling depan mengabarkan berita terbaru. Pemandangan sama juga berlaku untuk Lena. Walau ia merasa heran kenapa seorang news anchor seperti dirinya, tiba-tiba harus menjadi reporter seperti itu. Hal aneh itu juga dirasakan oleh Dion dan patner live reportnya yang lain. Sudah lama sekali mereka tidak bekerja sama dengan Lena karena wanita lebih banyak ditempatkan di kantor.
"Terima kasih atas kerja samanya!" ucap Lena kepada rekan-rekannya. Semuanya bisa bernapas lega setelah menyelesaikan live report mereka.
Beberapa detik kemudian, ponsel Lena kembali berbunyi.
"Ya Lian?" tanyanya kepada pria diseberang sambungan.
"Mbak sudah sunting berita Adelia?"
Adelia? Lena berpikir sejenak. Ah itu jurnalisnya! Tunggu! Bukankah berita itu adalah berita yang diberikan kepadanya satu jam yang lalu?
"Belum aku sunting semua. Ada apa?"
"Gawat Mbak! 3 menit lagi beritanya naik!"
"Kamu ada salinannya? Bisa kirim ke email aku sekarang?"
"Iya Mbak!"
Lena kembali berkutat dengan ponselnya. Mencari keberimbangan berita dari media online yang menurutnya cukup kompeten. Wanita itu memukul kepalanya. Ia membandingkan isi berita yang ditulis oleh jurnalisnya dengan berita yang ada di media online itu. Dan ternyata ada ketidakakuratan data. Berita yang upload lima menit lalu di media itu mengabarkan bahwa korban kasus penusukan itu masih dirawat di ruang UGD. Sedangkan berita yang ditulis oleh Adelia mengabarkan bahwa korbannya telah meninggal dunia.
Dengan segera Lena memacu mobilnya kembali ke kantor. Di perjalanan ia mencoba menghubungi tim berita siang. Namun semua panggilannya tidak ada yang terjawab. Lena membuka aplikasi live streaming di ponselnya. Gadis itu terdiam. Matanya menatap layar ponselnya. Sial! Sudah tidak sempat lagi! Beritanya sudah ditayangkan dan sang penyiar sudah menyebutkan bahwa sang korban telah meninggal dunia. Lena membanting tangannya di atas stir mobilnya. Tangannya mengacak-acak rambutnya yang panjang.
Setibanya di kantor, Lena berlari ke ruang redaksi. Di sana ia menemukan sang direktur yang menatapnya dengan murka. Pria yang berusia 54 tahun itu melempar setumpukan kertas ke depan Lena.
Lena membungkuk, mengambil kertas-kertas itu dan membacanya. Diberitakan Telah Meninggal, Keluarga Korban Tidak Terima. Stasiun TV Ini Kabarkan Berita 'Bohong'. Keluarga Korban Siap Laporkan Stasiun TV Y Ke Polisi.
Luar biasa! Hanya berselang 20 menit saja, pemberitaan media massa lain sudah seheboh ini. Tidak hanya itu, kabar-kabar dari media online ikut meramaikannya dengan pemberitaan yang jauh lebih kejam dan menyudutkan.
Lena menggigit ujung kuku ibu jarinya. Hal yang sering ia lakukan jika pikirannya sedang tidak menentu atau ketika wanita itu dilanda rasa gugup.
Tidak lama setelah itu, suara telepon kantor televisi itu terus berbunyi. Para awak media yang ada di sana sibuk mengangkat dan menjelaskan kepada para wartawan lain yang terus-terusan bertanya tentang kejadian ini. Dalam hitungan jam, kantor stasiun televisi itu sudah dikepung oleh para wartawan. Hal ini tentu saja membuat pemimpin redaksi kalang kabut. Bahkan mereka juga menyembunyikan presenter yang menyampaikan berita itu.
Konferensi pers yang dilakukan beberapa hari setelahnya oleh pihak stasiun TV itu tidak berjalan baik. Para wartawan lain menjejal presenter dan jurnalis itu dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan. Dengan berat hati, Lena meminta maaf dan berkata bahwa semua itu adalah kesalahannya. Buntutnya, wanita itu harus rela semua gelar yang diberikan oleh dewan pers dan KPI, dicabut begitu saja.
Untuk pertama kali dalam karirnya, Lena menderita. Popularitasnya menurun. Ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengundurkan diri dari perusahaan yang telah membesarkan namanya. Itu adalah konsekuensinya sebagai redaktur. Ia harus bertanggungjawab atas semua berita yang ditulis oleh jurnalisnya.
Para penggemarnya tidak bisa melakukan apa-apa saat Lena hendak keluar dari gedung dengan 22 lantai itu. Mereka hanya bisa menunduk malu dan kecewa. Lena berjalan cepat ketika menyadari bahwa semua orang sedang memandanginya.
Namun, sebelum benar-benar keluar, Lena sempat melihat sekelilingnya. Ia bisa melihat dengan jelas senyuman yang merekah dari rekan-rekannya. Bukan untuk menyemangati, melainkan senyuman dengan rasa puas karena dapat membuat wanita itu tidak hanya turun dari jabatannya, mereka itu juga berhasil mengusir Lena dari perusahaan media elektronik itu. Semua tersenyum senang. Termasuk sang pembuat berita, Adelia. Ia bahkan menunjukkan senyuman kemenangan kepada Lena. Sangat ironis! Gadis yang ia bela justru membuatnya hengkang dari posisinya. Lena ikut tersenyum. Senyuman kecut di antara parasnya yang cantik.
####
Untung masih inget ceritanya...
Astaga aku sampe lupa lanjutin cerita ini... wkwkkwk 😁
Remember to vote and comment, guys... Danke..😚
KAMU SEDANG MEMBACA
My Last Yesterday
Romance(Novel ini adalah novel dewasa yang memuat adegan-adegan dewasa pula. Dimohon kebijaksanaan pembaca yang ingin membacanya!) Masa lalu yang kelam dan dendam yang membara membuat seorang wanita begitu ambisius ingin menjadi seorang dokter. Namun takdi...
