Strategi Mengambil Hati

4.6K 273 8
                                        

Daniel baru pulang pukul dua dini hari. Ia sangat lelah saat ini. Sebenarnya ia bisa saja mencari hotel di sekitar rumah sakitnya atau ia juga bisa tidur di ruang kerja rumah sakit yang memang sengaja disediakan sebuah kamar khusus untuknya. Namun, entah mengapa, ia justru memilih untuk pulang ke apartemennya.

Daniel menekan beberapa tombol pengaman apartemennya. Lalu ia membuka pintu apartemennya dan menghidupkan lampu ruang tamu. Mata Daniel langsung menangkap bayangan Lena yang sedang tidur di atas sofa di ruangan itu. Daniel berjalan mendekatinya.

Daniel tiba-tiba disergap rasa iba tatkala melihat wajah istrinya yang tertidur pulas. Selama ini, tak ada satupun yang menunggu kepulangannya kecuali Margareth, pengasuhnya saat di Amerika dulu. Pria itu sempat tertegun saat melihat tangan Lena yang berhias memar akibat luka bakar dan goresan beberapa pisau.

Daniel menghela napas panjang. Dengan langkah yang sangat pelan, ia mengangkat tubuh Lena dan membaringkannya di atas ranjang. Ia memandang lagi wajah Lena.

Daniel bukannya tidak tahu apa yang dikerjakan oleh wanita itu. Walau ia tidak berada di dekat Lena, namun tak satu informasi pun yang ia lewatkan. Ia selalu mendapat pesan dari Romi tentang aktivitas Lena selama lebih dari seminggu ini.

Minggu lalu ia benar-benar marah, namun alasannya tidak pulang ke apartemennya bukan karena amarahnya terhadap Lena. Ia menerima banyak pasien di beberapa rumah sakit miliknya yang mengharuskannya berkeliling Indonesia untuk melakukan beberapa operasi.

Setelah puas memandang wajah Lena, Daniel mengecup kening Lena lalu keluar dari kamar wanita itu dan berjalan ke kamarnya.

XXXXX

Lena bangun lebih awal. Ia tahu bahwa Daniel sudah pulang ke apartemen mereka. Ia bisa menyadarinya dari aroma khas rumah sakit yang memenuhi kamarnya. Itulah sebabnya ia tidak bertanya-tanya tentang dirinya yang sudah berada di dalam kamarnya, karena Lena sudah mengetahui siapa yang memindahkan tubuhnya dari ruang tamu.

Lena bergegas menuju ke dapur. Awalnya ia sempat menolak saran Romi yang memintanya untuk memasak. Namun setelah mempertimbangkannya lagi, akhirnya Lena ingin mencoba saran itu.

Romi banyak menceritakan bagaimana kehidupan Daniel dahulu. Termasuk makanan kesukaan pria itu dan alasan mengapa pria itu mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Saat di Brooklyn, Daniel bahkan sering memasak untuk dirinya dan pengasuhnya.

Setibanya di dapur, Lena memakai apron biru di sana sekenanya. Ia menatap bahan-bahan di depannya. Rencananya, ia akan membuat nasi goreng untuk sarapan hari ini. Lena tak pernah memasak untuk orang lain sebelumnya, kecuali untuk kakaknya. Jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri pun ia sangat jarang melakukannya.

Dahulu, rekan-rekan kerja Lena sering menasihatinya untuk belajar memasak. Mereka mengatakan jika bukan Lena, yang berperan sebagai istri yang memasak untuk keluarganya, lalu siapa lagi? Mau makan apa suami dan anak-anaknya kelak? Dan Lena hanya menjawab dengan ringan, jika begitu, ia memilih untuk berperan sebagai suami. Ia sangat tidak suka anggapan bahwa sudah kodrat seorang istri hanya boleh berada di wilayah internal keluarga. Dapur, ruang keluarga dan kamar. Memasak, mengurus anak dan melayani suami. Itu bukan kodrat. Itu hanya paradigma yang saat ini banyak dikritisi oleh paradigma lain.

Daniel tengah mengambil sebotol susu di dalam kulkas tepat setelah Lena menyiapkan makanannya di atas meja.

"Selamat Pagi," sapa Lena dengan senyuman. Cukup lama ia telah menunggu Daniel.

"Hmm," jawab Daniel datar.

"Kau ingin sarapan? Aku sudah menyiapkan nasi goreng untukmu."

Daniel tidak menggubrisnya. Ia hanya mengambil roti dan mengoleskan selai di atasnya. Lalu memakannya dengan santai.

My Last YesterdayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang