THE PIROUETTE OF WHITEWATER [RENCANA JUDUL]
Draf 1.7
© 2018 Uchiha Sasuke
7. TANDA DI RUMAH POHON
Tak seorang pun menyangka hari itu hujan akan turun lebat. Hari-hari sebelumnya cuaca begitu cerah bagi standar Kimigakure, dan akhir pekan itu mestinya tidak berbeda. Sepanjang musim panas, Izuho, Itsuki, dan Taka menghabiskan waktu di halaman belakang kediaman Uchira, membangun rumah pohon dari kayu bekas, sementara Sakiko duduk di antara akar-akar pohon, bermain dengan boneka Barbie-nya. Dia potong pendek rambut boneka itu, jadi sekarang kepala bonekanya tampak botak dengan beberapa helai rambut pirang mencuat ke segala arah.
Dokter Uchira membantu mereka membangun rumah pohon ketika tidak sedang bekerja, jadi rangka dan papan lantai rumah pohon itu cukup kuat untuk menahan berat badan mereka semua. Sepanjang sore mereka memalu kayu di dinding, ditemani oleh suara musik dari radio. Rumah pohon itu hampir selesai, tinggal dinding di sebelah utara dan diberi lapisan cat. Izuho bersikeras ingin mengecatnya dengan warna merah. Itsuki ingin warna biru. Taka tidak punya preferensi, asalkan cat itu tidak menghalangi tanda yang telah dia buat dengan cermat:
Klub Uchira. Harus berusia sepuluh tahun atau lebih.
Taka ingat pernah melihat tanda serupa di klub malam Otogakure, ketika itu dia saksikan para wanita dan pria tertawa gembira, berpakaian mentereng, kadang-kadang tersandung ketika keluar-masuk pintu yang diterangi lampu neon di sebelah trotoar yang telah retak. Taka menunggu di mobil, dia telah pakai piyama, sampai ibunya selesai bekerja di dalam. Dia merunduk di kursi tiap kali ada yang berjalan dekat dengan mobil. Menit-menit berlalu. Kemudian sampai satu jam. Taka mulai takut ibunya telah melupakannya. Hei, Cokelat Hitam, ucap ibunya ketika dia kembali, lihat sesuatu yang menyenangkan? Bagaimana caranya dia bilang pada ibunya tentang pria yang muntah di selokan? Wanita berambut keriting terpuruk ke dalam taksi, sementara sebelah payudaranya keluar dari baju? Apa semua itu sesuatu yang menyenangkan? Pipi Taka panas terbakar karena malu. Ibunya naik ke mobil dan mereka melaju, lampu-lampu kota mengaburkan jendelanya. Taka menekan dahinya ke kaca, merasakan kesejukan ...
Taka senang rumah pohon mereka akan dilengkapi tanda seperti itu. Itu berarti dia tidak perlu terang-terangan menyakiti perasaan Sakiko - Sakiko akan tahu dia tidak cukup dewasa untuk memanjat tangga tali.
Izuho dan Itsuki kesal pada Sakiko. Sakiko baru kelas tiga, sedangkan yang lain sudah kelas lima. Mereka tidak mau Sakiko terus ikut. Bahkan Taka harus mengakui bahwa Sakiko mulai cengeng. Semakin mereka berusaha menjauh dari Sakiko, semakin erat Sakiko menempel pada mereka. Karena itulah, tanda di luar rumah pohon ditulis dengan huruf merah.
Yang lain yakin itu akan berhasil. Namun Taka sejujurnya tidak begitu percaya. Sakiko sangat keras kepala, dan dia benci ditinggalkan.
Dan itulah yang menyebabkan mereka bertiga - Izuho, Itsuki, dan Taka - duduk di belakang mobil Kepala Anbu. Wiper kaca depan terus berayun, mengisi keheningan dengan suara yang konstan. Sang Kepala Anbu memelototi mereka dari kaca spion. Sakiko berada di kursi depan, di sebelah ayahnya, tubuhnya tenggelam dalam jaket kulit milik ayahnya itu. Sakiko terisak dan bersin. Ingus keluar dari hidungnya, dan dia mengelapnya dengan baju.
Tidak pernah Taka merasa seperti ini sejak ibunya meninggal.
"Jadi siapa yang akan memberitahuku apa yang telah terjadi?"
Semua anak tetap diam sementara sang Kepala Anbu menatap mereka satu per satu.
Itsuki panik, berusaha mengingat apa benar itu idenya untuk meninggalkan Sakiko di rumah pohon tanpa tangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pirouette of Whitewater
Fanfiction-- SasuSaku Fanfiksi -- 🍃 [SELESAI] • Naruto © Masashi Kishimoto • Bagi masyarakat luas, Uchiha Sasuke adalah seorang penulis ternama, namun bagi Haruno Sakura, dia pria yang tega menghancurkan hatinya demi mengejar karir. Di sisi lain, Sakura sang...
