Bab 2

5.1K 553 63
                                        

Aku termenung menatap papan tulis kosong di ruang brainstorming sambil mengetuk-ngetuk penghapus spidol di lutut. Biasanya aku tidak pernah kesulitan menuangkan ide di ruang brainstorming yang kucintai ini. Ketika aku beli rumah bobrok berukuran besar ini di Sunagakure untuk dirombak jadi tempat bisnis HarunoNemoto, Konsultan Humas/Pemasaran, hal pertama yang kurancang adalah ruang brainstorming dengan dinding bercat ungu yang hangat, bingkai foto berwarna kuning, dan kursi art-deco yang nyaman. Oh, dan juga lampu hias gantung cantik yang kutemukan di festival seni lokal, seluruhnya terbuat dari kaca daur ulang. Kami bahkan merombak sebagian langit-langit dan menambahkan pipa besi merah untuk dekorasinya. Dan dari segalanya itu, yang jadi pusat adalah: papan tulisku yang lebar ini.

Aku terus mengetuk lutut ... Setelah menghela napas beberapa kali, kulempar spidol ke atas meja dan kupegang rambutku. Sepertinya aku perlu potong rambut. Mungkin sedikit lebih pendek agar terlihat profesional.

Aku dan Tenten akan mengajukan proposal pada calon klien kami minggu depan - Balai Pusat Seni Rupa Sunagakure - dan aku juga harus membuat papan cerita untuk mereka.

Sejak kembali dari Takumi beberapa hari yang lalu, segala kegelisahan kembali berkumpul di tubuhku dan secara negatif memengaruhi pekerjaanku.

Dia akan pulang untuk menghadiri pernikahan Izumi. Dua bulan lagi hingga pertengahan Juli nanti. Dua bulan lagi sampai aku harus berdiri di depannya, di altar yang sama, untuk menyaksikan pasangan lain berjanji untuk saling mencintai sehidup-semati.

Kutatap papan tulis, berharap ide-ide segera muncul untuk mengisinya. Tidak, masih kosong. Papan tulis bahkan sedang mengejekku sekarang. Kuhela napas - prosesku cuma berjalan di tempat. Aku butuh Tenten.

Kutemukan dia di mejanya, kacamata menekan hidungnya, jemarinya yang kurus sedang sibuk mengetik. Tenten jelas tidak kesulitan mendapat inspirasi.

"Apa itu situs terbaru untuk Taman Nasional Ogano?" tanyaku, terkesan.

Tenten mengangguk. "Bagaimana menurutmu?"

"Sempurna. Kerja yang bagus! Hei, apa kau mau ikut sesi brainstorming? Aku tidak bisa memikirkan apa-apa tentang Balai Pusat Seni Rupa."

"Ya, aku juga ingin istirahat dari situs ini." Tenten menyimpan pekerjaannya, lalu mengikutiku ke ruangan, meraih spidol.

Aku dan Nemoto Tenten punya bisnis bersama selama hampir satu dekade sejak kami mendirikan HarunoNemoto di kamar asrama mahasiswa kami yang sederhana. Bahkan setelah aku menikah, kami tetap menggunakan nama HarunoNemoto. Merupakan impian kami untuk memiliki sebuah agensi kreatif. Setelah lulus, kami berhasil mendapat investor kecil dan dana pinjaman. Aku dan Tenten bersama dengan Koichi Neji mulai bekerja, membangun basis klien. Kami melakukan segalanya sendiri. Mulai dari mempromosikan diri, desain grafis, membuat situs, hingga copywriting. Tapi begitu kabar tersebar luas dan bisnis terus bergulir, kami bertiga mengambil alih posisi eksekutif dan merekrut sepuluh orang staf. Sekarang aku menangani akun klien, Tenten sebagai penata artistik, dan Neji sebagai webmaster.

Dan Sunagakure terbukti jadi lokasi yang menggairahkan. Klien kami kebanyakan perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata: taman, restoran, kebun anggur, museum, galeri seni, petualangan alam bebas. Karena kami warga lokal, kami punya keunggulan dibandingkan agensi lain yang lebih besar. Kami kenal dengan banyak pemilik bisnis di seluruh Semenanjung Sunagakure. Kami bisa saja bicara bisnis sambil minum kopi di Latte Lodge. Mengajak mereka makan malam di restoran Downrigger. Aku bahkan dapat tato bunga sakura bertinta putih secara cuma-cuma di bawah jempol kakiku dari salah seorang klien kami yang memiliki studio tato. Ukuran tatoku itu kecil - lebih tampak seperti bekas luka yang cantik, dan aku menyukainya.

The Pirouette of WhitewaterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang