Bab 32

2.5K 282 47
                                        

Rapat kami berikutnya dengan 'para dewa,' seperti julukan Karin, berjalan bagai diarahkan oleh koreografer. Juugo bertanya apa aku sudah persiapkan klienku untuk wawancara pers hari Senin nanti. "Tentu saja," kata Sasuke dengan mulus menjawab untukku, meskipun kami sama sekali tidak pernah membicarakannya. Kami meringis membaca tumpukan bukti tertulis dari hal-hal yang ada di buku Sui, termasuk keterangan dari penyanyi indie mantan kekasih Sasuke, beberapa orang kolega pasca-sarjananya, dan juga dari si rambut pirang pecandu kokain yang sering menghantui mimpiku - Hotaru. Untungnya, tim Misato Tayuya menyuruh Karin enyah ke neraka saat dia berusaha mengorek informasi bagaimana sebenarnya hubungan Sasuke dan Tayuya.

Tapi Orochimaru mencuri lampu sorot ketika dia meletakkan salinan baru buku Sui.

"Saya mengerti kenapa Anda bersikeras untuk mendapatkan buku ini sendiri, Nona Haruno." Jarinya yang seperti reptil itu mengusap sampul buku. "Saya mohon maaf atas keterlambatan."

Aku bolak-balikan halaman. Ini identik dengan salinan yang dikirim Aoi. Sial, seandainya saja aku bisa menangkap basah kelicikan Orochimaru. Aku sungguh yakin mereka berencana untuk mengedit buku itu sebelum memberikannya padaku agar kami semua sepakat bahwa Karin adalah seorang diktaktor. Shion tertunduk, dan aku sadar dia telah memberi tahu Orochimaru bahwa aku sudah dapat salinan buku ini. Sial.

Ketika kami mengemasi laptop dan dokumen, Deidara berjalan ke mari. "Jadi pacarmu berencana pakai baju apa untuk pesta 'amal' nanti?"

Ah ya, pesta itu jatuh tepat pada hari ulang tahunku. Setelah hari yang melelahkan dengan wawancara pers lintas promosi - novel Jurang Naomi dan film Ninja Kimigakure (untuk mengganti berbagai acara yang batal dihadiri oleh Sasuke di Kirigakure), Yashagoro mengadakan resepsi megah di ballroom Hotel Miyagi dan mengundang para pemain Ninja Kimigakure, produser, dan media. Itu sekaligus jadi acara amal untuk yayasan seni Tsurui yang berada di bawah naungan Yashagoro Grup. Menurut Deidara, ballroom hotel itu seperti studio jet set, punya pintu paling berat di seluruh kota dan hanya perusahaan-perusahaan besar yang mampu membuat acara di sana.

"Sasuke pakai setelan jas. Jas abu-abu terang yang dipilih Karin untuknya di Kirigakure. Kenapa, kau ingin pakai baju kembar dengannya?" godaku.

"Tidak. Apa yang akan kau kenakan?"

"Jas."

"Ke ballroom Hotel Miyagi? Yang benar saja! Itu pertama kalinya Sasuke dan Tayuya terlihat bersama di depan umum sejak mereka putus, dan kau malah ingin pakai jas? Tidak boleh. Kau harus mengenakan gaun cantik."

"Tapi setelan jasku juga penuh gaya," kataku membela diri. "Lagi pula itu bukan acara kencan."

"Jika kau tidak pakai gaun, kau akan sangat menonjol saat berada di sana, karena bisa kupastikan cuma kau satu-satunya wanita yang tidak pakai gaun. Aku mau saja mengajakmu berbelanja, tapi seleraku fesyenku jelek."

Aku benci menghadiri acara-acara seperti itu.

Siangnya kucari-cari pakaian yang kugantung di lemari Sasuke, menarik keluar apa pun yang mungkin bisa diterima untuk acara di ballroom Hotel Miyagi. Baju katun ... katun ... katun lagi ... Semua pakaian terlalu santai. Kutelepon Ino, lalu Izumi, namun tidak menghasilkan apa-apa.

"Ada toko di area Hanazono yang ingin kukunjungi setelah nonton dokumenter fesyen Tsurui," kata Ino. "Mereka membuat kain yang cantik, rok penuh manik-manik, dan segala macamnya. Kau harus lihat gaun di sana!"

"Setelan jas, apa kau bercanda?" pekik Izumi. "Kau ada di Tsurui! Pergilah ke Kintetsu!"

Tapi aku tidak pernah berbelanja barang desainer sebelumnya, dan aku takut petugas toko akan mengira aku ini seorang kleptomania. Itulah sebabnya kenapa Sasuke menemukan aku duduk bersila di depan lemari, gaun, sepatu berserakan di sekitarku, dan aku cemberut.

The Pirouette of WhitewaterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang