Bab 4

3.5K 467 51
                                        

Aku berusaha untuk tidak memeriksa email tiap lima menit sekali. Ketika ponsel berdengung, kupaksa diriku untuk menunggu satu menit sebelum baca pesan. Aku pun menahan napas ... lalu menghembuskannya dengan lega ketika melihat pengirimnya adalah Tenten, atau seorang klien, atau ibuku, atau salah satu dari sekian banyak buletin bulanan yang jadi langgananku karena pekerjaan. Apa peduliku jika Kebun Binatang Sunagakure akan mengadakan pameran yang bertema "The Scoop on Poop"? Siapa yang rela mengeluarkan uang hanya untuk melihat hewan buang kotoran? (Jujur, aku agak iri dengan siapa pun yang menciptakan slogan itu.)

Setelah satu minggu, aku menyerah. Sepertinya dia tidak akan balas email dariku. Entah karena dia tidak peduli lagi kejadian dua tahun yang lalu atau dia ingin menghormati Karin. Karena kenal dengan Sasuke, kemungkinan besar alasannya adalah yang kedua. Dia bukan orang yang suka mempermainkan isi pikiran orang lain - hanya pikirannya sendiri.

Jadi jika dia tidak mau bicara denganku, kenapa aku sedang dalam perjalanan menuju acara tanda-tangan novelnya?

Salahkan Ino.

"Ingat, Sakura, bersikaplah sombong dan profesional," perintah Ino saat dia berbelok di tikungan jalan basah menuju pusat kota Sunagakure. "Tak ada balas dendam yang lebih manis daripada memamerkan keseksianmu di wajahnya."

Sai tersedak di kursi penumpang depan, karena tengah menelan teh hijau dari termosnya. Kutepuk-tepuk pundak Sai, tubuhnya gemetar menahan tawa.

"Ya, Ino, aku ingat. Tapi bagaimana kalau aku memamerkan kebahagiaanku di wajahnya?"

Ino mengabaikanku.

"Lagi pula, ini bukan balas dendam," lanjutku. "Ini cara untuk mendapatkan jawaban."

"Terserah kau mau sebut ini apa, Sakura." Kulihat Ino memutar matanya dari kaca spion. "Berjalan dengan percaya diri ke mejanya-"

"-tatap matanya-"

"Dan katakan dengan suara seksi-"

"Selamat datang kembali, Uchiha," sambungku dengan suara seksi terbaik.

Sai sekarang tertawa keras. "Bukankah ini sama jeleknya dengan sit-com tahun tujuh puluhan?"

Kutepuk dahiku. "Kau benar, ini sungguh klise. Bagaimana kalau aku bilang 'Sasuke' saja? Itu cukup seksi, bukan?"

"Bagaimana kalau kau bersikap sopan dan normal saja?" sahut Sai. "Itu akan memberi kesan yang lebih dalam."

"Menurutmu Sakura tidak akan bersikap sopan, Sai? Sakura ke sana bukan untuk mencabik-cabik wajahnya sampai mati. Sakura hanya perlu memproyeksikan kepercayaan dirinya." Ino melirikku di belakang saat dia berbelok ke kanan. "Percaya diri, bukan membunuh. Benar, Sakura?"

Aku terlalu sibuk bergelantungan pada pegangan di atas pintu mobil. "Ino, lihat jalan!"

"Oh!" Ino kembali banting setir ke jalur yang tepat saat ban kanan bergemuruh di sepanjang bahu jalan, menggiling kerikil basah.

Sai mengotak-atik radio dan memilih stasiun rock klasik. "Bagaimana pelajaranmu, Sakura?" tanya Sai.

"Masih gelap," jawabku singkat. Novel terbaru Sasuke, Jurang Naomi, baru diluncurkan dua hari yang lalu. Meskipun permintaan akan novel ini begitu tinggi, aku berhasil mendapatkannya di salah satu toko buku Sunagakure setelah pulang kerja. Tapi karena seluruh tim HarunoNemoto begitu sibuk mempersiapkan proyek kampanye 'Petualangan Alam Liar Semenanjung Sunagakure', aku jadi tidak punya waktu untuk membaca. Dan sekarang aku buru-buru melalap habis buku ini.

Meskipun ada subplot romantis dalam seri ini, tapi itu bukan milik Naomi - dan aku sungguh bersyukur. Sepertinya aku tidak akan tahan membaca aku versi fiktif berada dalam situasi semacam itu. Kepala Sasuke akan kupenggal. Majalah Hi no Kuni Times memuji saga ini sebagai "keindahan dalam lanskap pasca-kehancuran"; majalah Fire Today menggambarkan karya Uchiha Sasuke sebagai "perpaduan buah pikiran dua penulis klasik yang terikat dalam alegori yang luar biasa". Terserah apa kata mereka. Novelnya memang penuh aksi, misteri-misteri yang epik berlatarkan pegunungan yang ditinggali oleh para ninja Sasuke. Semua alur ceritanya memuncak pada semacam pertikaian baik-lawan-jahat yang aneh. Dan tentu saja, perjuangan itu berpusat pada Ninja Naomi, seorang gadis naif namun baik hati dan bermaksud mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada teman-temannya - Narika, Noboru, dan Naoki.

The Pirouette of WhitewaterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang