Bab 8

3.1K 412 72
                                        

"Ibu, aku ingin menanyakan suatu hal yang aneh." Aku bersandar di tempat sayuran warna-warni sementara ibuku, Mebuki, mengatur susunan paprika segar. Setelah makan siang Jumat, aku ikut Ino kembali ke toko ibuku untuk menghabiskan waktu bersama keluarga sebelum bertemu Temari. Aku berusaha membaca lebih banyak lagi Jurang Naomi di belakang meja setelah Ino pulang pukul lima. Tapi hal yang dikatakan Sasuke saat makan siang begitu mengganggu pikiran ini, menurutku ucapannya mengaburkan masa lalu. Setelah berusaha konsentrasi untuk membaca namun tidak kunjung berhasil, kututup buku dan mencari Ibu.

"Baiklah, Sayang, ada apa?"

"Ketika aku dan Sasuke tumbuh dewasa, apa menurutku dia itu sempurna?"

Ibu tertawa pelan - tidak mengherankan. Ibu tertawa terbahak-bahak saat menghadapi segala macam situasi, termasuk saat takut. Terkadang perlu undian untuk melihat ke arah mana Ibu akan pergi. "Oh Sakura, kau pikir matahari terbit dan terbenam di bawah kaki anak itu. Itu sangat manis, caramu bersikap pura-pura tangguh di dekatnya, bertengkar dengannya - seolah-olah kau dapat membodohi kami. Tapi kami melihat segalanya. Dalam pikiranmu, dia tidak pernah berbuat salah." Tiba-tiba Ibu termenung.

"Ada apa, Ibu?"

Ibu menatap wajahku lekat-lekat, aku tahu Ibu sedang memendam sesuatu.

"Katakan saja, Ibu, kumohon - apa pun yang Ibu pikirkan."

Ibu menghela napas, lalu menyerah. "Ya, terkadang aku masih bertanya-tanya apa aku dan ayahmu sudah menghadapi pertunanganmu dengan Sasuke sebaik mungkin."

"Maksud Ibu?"

"Maksudku ... kau dari dulu punya rasa takut yang berlebihan akan pernikahan, kurasa, kau seperti takut akan ditakdirkan gagal dalam pernikahan karena melihat aku dan Kizashi. Aku tahu perceraian kami sangat memengaruhimu, lebih dari yang kami bayangkan." Ibu kembali mengambil paprika, lalu merapikan susunannya. "Mungkin seharusnya kami berusaha lebih keras untuk mencegahmu nikah muda. Entahlah. Bisa kulihat kau ragu-ragu, tapi Sasuke begitu tekun, sangat antusias. Dan kalian berdua saling mencintai, amat-sangat mencintai."

Dengan gelisah kutarik-tarik ujung baju, merenungi apa yang dikatakan Ibu. Apa Ibu benar? Apa perceraian itu terjadi karena aku sudah mengira dari awal bahwa memang akan terjadi perceraian dalam pernikahanku?

"Apa menurut Ibu aku terlalu buru-buru mengajukan gugatan cerai?"

"Entahlah. Sulit untuk membuat penilaian, terutama karena aku tidak tahu semua detailnya. Dan aku curiga ada begitu banyak hal yang tidak kuketahui tentang masalah ini. Seseorang tidak mau menceritakannya padaku." Ibu menyemprot sayuran dengan botol air sambil melirikku dari sudut matanya.

Tentu saja Ibu tidak tahu segalanya - aku tidak pernah cerita detail kepergian Sasuke atau perjalanan singkatku ke Tsurui. Bahkan Ino dan Izumi - sahabatku sendiri - tidak tahu lebih banyak daripada Ibu. Aku tidak pernah membicarakannya, kecuali pada Ayah Obito.

Ibu masih melirikku saat dia berpindah ke tempat tomat, mengelapnya agar tampak mengkilat. Mungkin sudah saatnya untuk sedikit berbagi, membongkar secuil rahasia berat itu. Kukumpulkan keberanian, berjuang mencari cara untuk mengutarakannya, namun sekaligus tidak ingin membuat Ibu sedih.

"Banyak orang berpikir aku terlalu cepat mengajukan perceraian, Ibu. Termasuk Izumi dan sepertinya Ino juga begitu berpikir demikian, walaupun Ino tidak pernah mengatakannya. Hanya saja ... beberapa hal seperti ..."

Ibu berhenti bekerja, lalu berbalik ke arahku. "Seperti apa?"

Tanganku mulai gemetaran. Kumasukkan ke dalam saku jaket. "Bagaimana jika ... sesuatu terjadi dan hal itu membuat Ibu sadar bahwa orang tersebut bukan seperti yang Ibu pikirkan selama ini? Dan itu terasa begitu menyakitkan. Sangat pedih, sampai-sampai rasanya Ibu ingin mencabik-cabik hati Ibu sendiri dan melemparkannya pada orang itu?"

The Pirouette of WhitewaterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang