THE PIROUETTE OF WHITEWATER [RENCANA JUDUL]
Draf 2.10
© 2018 Uchiha Sasuke
7. KELELAWAR KARET
Lelaki berusia sebelas tahun tidak boleh menangis. Izuho bilang begitu pada Taka ketika dia dengar tangisannya malam itu, Izuho melewati kamarnya saat hendak ke kamar mandi. Izuho pikir dia tengah menghibur Taka dengan menepuk-nepuk punggungnya, lalu menawarkan diri untuk membacakan cerita Pulau Harta Karun. Bibinya membacakan cerita itu satu bab untuk mereka tiap malam. Pulau Harta Karun adalah pilihan Taka.
Sebelumnya, bibinya membacakan cerita Taman Rahasia. Itu adalah pilihan Izuho, tapi Taka juga suka dengan ceritanya (meskipun dia tidak pernah mengaku pada Izuho tentang hal itu). Izuho mencemooh betapa kasarnya Mary Lennox dan Colin Craven. Mereka sangat suka memerintah dan jahat. Tapi Taka bisa memahami mereka ketimbang Izuho. Mary dulu tinggal di India bersama seorang ibu yang tak menyukainya. Dan Colin terkunci di dalam kamarnya sendirian, takut dia akan jadi bungkuk seperti ayahnya. Dan Ayah Colin tidak menginginkannya, karena Colin memiliki mata abu-abu yang aneh seperti ibunya.
Taka memikirkan ibunya sendiri ... dia tidak pernah membacakan cerita untuk Taka di malam hari sebelum tidur seperti yang dilakukan bibinya. Setelah Ayah Taka meninggal, ibunya selalu berbaring di tempat tidur sambil menangis bersama Taka, memegangi kemeja ayahnya dan menyuruh Taka untuk berbalik, karena dia tidak tahan melihat mata cokelat hitam terkutuk itu menatapnya.
Tapi anak yang paling disukai Taka adalah Dickon Sowerby. Dia dapat berlari dengan liar, seperti tupai dan rubah. Aroma tubuhnya pun seperti rumput dan daun. Di satu sisi, Sakiko agak mirip Dickon, namun Sakiko memilih untuk berkelahi dengan Taka - sangat sering. Ya, mungkin ada beberapa hal dari Mary yang juga ada di dalam diri Sakiko. Taka selalu membayangkan Sakiko di luar mengendarai sepedanya, mengarungi sungai, memanjat pohon (dan sering jatuh), sambil menggendong gitar merah muda di punggungnya. Dan Sakiko selalu bau seperti tanah yang menempel di lutut dan di bawah kukunya, terkadang juga sampai mengotori pipinya.
Taka mengusap sisa air mata dari pipinya dan menyadari dia tidak lagi menangis. Berpikir tentang Sakiko membantu Taka menghilangkan kesedihan. Tapi sekarang tenggorokannya kering. Dia berbalik hendak menyalakan lampu di samping tempat tidur. Taka duduk untuk minum. Kakinya menyentuh lantai.
Ada yang mencicit!
Taka melompat sambil berteriak. Ada sesuatu yang menggeliat di bawah kakinya, dingin dan berbulu, seperti hewan. Mata Taka terpaku ke karpet tempat ... benda ... itu tergeletak, sayapnya terbentang luas.
Itu kelelawar hitam yang besar.
"Ayah! Ibu!" teriak Taka memanggil paman dan bibinya sambil melesat ke lorong. Dia tidak berani lagi masuk ke dalam kamar karena takut hewan itu akan terbang. Taka menunggu bibi dan pamannya datang untuk menyelamatkannya, tapi mereka tidak dengar. Namun Izuho dengar teriakannya.
Izuho terhuyung-huyung ke kamar Taka, rambutnya mencuat ke segala arah seperti boneka Barbie Sakiko. Izuho meluruskan piyama kuningnya dan memelototi Taka.
"Kelelawar!" seru Taka, menunjuk ke sisi lain tempat tidurnya.
Sambil merengut, Izuho menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, lalu mengikuti arah jari Taka. "Ih!" Izuho melompat kaget, lalu melangkah lebih dekat. "Taka, ambil tongkat bisbolmu."
"Tidak! Aku tidak mau tongkat bisbolku kotor, aku perlu itu untuk latihan besok."
"Baiklah," kata Izuho kesal, lalu mengambil sendiri tongkat bisbol Taka dari sudut kamar sebelum dia sempat protes. Izuho lalu menyodok benda hitam di lantai itu. Dia kemudian tersenyum lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pirouette of Whitewater
Fanfiction-- SasuSaku Fanfiksi -- 🍃 [SELESAI] • Naruto © Masashi Kishimoto • Bagi masyarakat luas, Uchiha Sasuke adalah seorang penulis ternama, namun bagi Haruno Sakura, dia pria yang tega menghancurkan hatinya demi mengejar karir. Di sisi lain, Sakura sang...
