Bab 30

3.1K 305 38
                                        

THE PIROUETTE OF WHITEWATER

Draf 2.33

© 2018 Uchiha Sasuke & Haruno Sakura

31. TAKDIR & PILIHAN

Tuan Uchira,

Ayolah, kirimkan tulisan yang bagus padaku. Mana ada editor besar yang mau melirik kisah yang mirip dengan Romeo dan Juliet. Mereka langsung membuangnya setelah baca paragraf pertama. Kekasihku bilang tulisan yang kau bagikan di seminar sangat fenomenal, tapi aku belum melihatnya. Jika kau tidak punya nyali untuk membagikan tulisanmu pada dunia, maka karirmu akan berakhir. Sekali lagi, Taka. Kirimkan tulisanmu yang layak kuberikan pada editorku, atau kesempatan ini akan berlalu begitu saja.

KK, Editor Junior
Penerbit Besar

Dasar penyihir. Taka buka lembar tulisan yang dikirimnya pada pacar temannya itu, 'Dua Wajah Zetsu', yang menguraikan tentang berbagai pilihan hidup, namun tak jelas cerita ini akan berakhir sebagai komedi atau tragedi. Taka percaya takdir, tapi setelah malam ini, masa depannya hanya akan bergantung pada pilihan. Dan pilihan itu bukanlah miliknya ... itu milik Sakiko.

Mereka bagai disergap malam ini. Orang tua mereka mengajak minum kopi setelah makan malam geladi resik pernikahan - sebagai upaya terakhir untuk memberi pengertian pada anak-anak.

"Sayang, aku cuma tidak ingin berkata 'aku bilang juga apa' padamu dua tahun lagi," Ibu Sasiko memohon.

Otot berkedut di jemari Sakiko yang sedang memegang tangan Taka. Gerakan kecil itu membuat amarah Taka melaju hingga sumsum tulang.

Bagi Sakiko, kedutan jemarinya itu berarti teriakan minta dilepaskan. Sakiko mengerti maksud ibunya yang sebenarnya. Dia tidak ingin anak perempuannya itu jadi stagnan, menetap di kota yang tak begitu dicintainya, memangku seorang bayi yang membuatnya ketakutan, dan punya suami yang begitu hambar, lidahnya bahkan lupa bagaimana rasa makanan ... tapi itu semua tidak cukup. Sakiko bisa dengar kata-kata yang tak diucapkan oleh ibunya: jika kau jadi seorang Uchira, kau akan tetap berada di Kimigakure selamanya.

Pada saat jemari Sasiko bergerak-gerak, kumis Kepala Anbu juga ikut bergerak. Namun rasa sakit yang sama, yang membuat mereka berdua terdiam mendorong Taka untuk bicara.

"Bibi tidak perlu mengatakan 'aku bilang juga apa' nanti. Aku bersumpah pada Bibi, pada kalian semua, aku akan jaga Sakiko. Aku mencintainya. Aku ingin menjadi suaminya."

"Kalian berdua masih sangat muda," kata Dokter Uchira. "Kumohon, tunggulah beberapa tahun lagi."

"Tidak. Kami akan menikah besok."

"Sakiko?" tanya Kepala Anbu.

Mata Sakiko tertuju pada sandalnya, mengamati jemari kakinya yang terkepal, bergoyang-goyang, lalu kembali terkepal. Taka menahan napas saat Sakiko mengangkat kepala.

"Aku mencintai Taka."

Pundak Taka langsung rileks, dia hembuskan napas lega. Dia tidak sadar Sakiko tidak mengatakan 'aku ingin menikahi Taka' atau 'aku ingin menjadi istri Taka'. Namun orang tuanya sadar akan hal itu. Kepala Anbu juga sadar. Kumisnya kembali berkedut. Tapi Taka terlalu gembira melihat kilau pembangkangan di mata Sakiko, menantang mereka semua untuk mempertanyakan cintanya pada Taka. Sakiko rela berjalan menuju altar, asalkan Taka mendapat apa yang dia inginkan.

The Pirouette of WhitewaterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang