Aku ingin bilang pendakian Gunung Tonegawa kami berjalan selembut buah ceri di musim panas dan Sasuke tidak perlu khawatir. Namun kenyataannya ada bencana dalam pendakian ini ... dan sekaligus menjadi hari terbaik dalam hidupku. Melihat ke sekeliling saat menjelajah itu sangat penting, walaupun yang kami lihat ternyata hanyalah sampah. Kami juga bertemu dengan pendaki gunung dari Moyagakure.
Semuanya dimulai dengan benda merah misterius yang terjepit di jurang es, tiga meter di bawah sana.
"Kurasa itu ... ah ..." Sai memicingkan matanya dari sinar matahari yang terpantul dari es. "Sebenarnya, aku tidak tahu benda apa itu."
Kami berdesakan di sekitar tepi lereng, angin menggigit pipi saat kami menatap noda merah itu
"Apa menurutmu itu ... darah?" tanya Ino, dia menyebutkan kata pamali.
Aku menggeleng. "Mungkin itu cuma topi seorang pendaki yang tertinggal."
"Ini tantangan, bukan? Ayo! Ayo kita kejar!"
Aku menjerit kaget saat mendengar suara tak dikenal tepat di sebelah telingaku. Aku berbalik dan melihat tiga orang pria sudah bersiap-siap turun dengan tali pengaman, wajah mereka penuh dengan kegembiraan.
Ternyata benda merah itu cuma sebungkus cokelat
Tiga pendaki itu berasal dari Moyagakure, mereka sedang liburan. Mereka juga pecandu adrenalin yang sangat serius, dan Sasori langsung tertarik pada mereka. Kami bagi delapan sebungkus cokelat itu dan melanjutkan perjalanan menuju area perkemahan dekat puncak gunung. Ternyata tidak banyak pendaki gunung yang ada di sini. Yang terlihat hanyalah padang salju dan es.
Orang Moyagakure punya reputasi atas kesopanan mereka, dan ketiga pria itu juga tidak ada bedanya. Mereka kalahkan kami dan sampai di tenda umum sepuluh menit lebih awal, dan sudah sepantasnya tempat tidur jadi milik mereka.
"Oh tidak, kami memaksa perempuan kalian untuk mengambil dua ranjang terakhir." Ino mendengus saat mereka bilang 'perempuan kalian'. Tapi, hei, kami tidak keberatan memainkan kartu perempuan-lebih-lemah-daripada-lelaki jika itu berarti kami dapat tidur di tenda umum yang hangat.
"Aku cinta dengan orang Moyagakure!" teriak Ino. "Kalian benar-benar lelaki sejati." Dia kecup pipi mereka dan aku bersumpah wajah mereka jadi semerah apel.
•••
"Goob ..."
"Teruskan."
"Gob ...."
"Lagi."
Kupejamkan mata rapat-rapat dan menggeleng, seolah-olah sedang menggigit lemon. "Aku tidak mau, Ino."
"Goblok, Sakura. Kau sudah pernah bilang goblok sebelumnya saat memaki Karin. Ayo sebutkan lagi? Orang goblok mana yang tidak bisa menyebut kata goblok? Lihat? Tidak sesulit itu, bukan?"
Aku merengut pada pelatih linguistik yang berusaha menjejalkan kata-kata kotor di mulutku ini.
"Goooo ... lok. Sial. Aku tidak mau bilang kata-kata seperti itu."
"Bagus, Sakura. Sungguh dewasa." Ino membuka kaus kaki dan menggoyang sebotol cat kuku dengan keras.
"Setidaknya aku berkelas, bukan sepertimu yang punya mulut sejorok selokan."
"Ucap wanita yang memakai celana yoga ke kantor," celetuk Ino. Kulemparkan bantal ke kepala Ino. Dia menangkisnya.
"Satu kali. Cuma satu kali. Dan warnanya hitam."
Ino dengan hati-hati merapikan cat kuku di ujung jempol kakinya yang sudah terkelupas, lalu dengan gembira menggoyangkan jemarinya.
"Aku tidak percaya kau bawa cat kuku saat mendaki gunung."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pirouette of Whitewater
Fanfiction-- SasuSaku Fanfiksi -- 🍃 [SELESAI] • Naruto © Masashi Kishimoto • Bagi masyarakat luas, Uchiha Sasuke adalah seorang penulis ternama, namun bagi Haruno Sakura, dia pria yang tega menghancurkan hatinya demi mengejar karir. Di sisi lain, Sakura sang...
