Seharusnya aku sadar saat hendak meninggalkan HarunoNemoto dan aki mobilku mati berarti ini pertanda buruk untuk bertemu dengan Akasuna Temari.
Urat sarafku begitu tegang. Selama tiga hari terakhir, sejak aku membaca bagian Jurang Naomi di mana Sasuke menuduhku tidak peka, aku berusaha memerhatikan semua detail kecil yang terjadi di sekitar, tidak hanya sekedar fokus lurus ke depan. Mungkin itu yang dia maksud, tapi entahlah. Tapi cukup sudah. Gara-gara dia, aku tidak sengaja menubruk hidran pemadam kebakaran, cangkir hampir jatuh ketika menuangkan teh, aku tidak sengaja menyenggol botol kecap dan hampir mengenai Tenten. Kuputuskan untuk tidak lagi memedulikan makna tersembunyi dari tulisan Sasuke, lagi pula bukan salahku terlahir seperti ini.
Aku tiba di Restoran Narisawa pukul tujuh lewat lima menit. Bau daging panggang menyengat hidung dan mata ketika aku memasuki restoran yang nyaris kosong ini. Temari sudah menunggu. Dia tampak kesal. Di depannya sudah terhampar binder bersampul kulit yang tebal, dia lalu mendorong cangkir kopinya ke samping sebelum memasukkan kembali binder itu ke dalam tas. Bibir Temari mengerucut, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabaran.
"Kau terlambat."
"Maaf, mobilku bermasalah."
Temari makin jemu. "Terserahmu saja."
Dengan tubuh yang ramping, rambut pirang, dan sepasang mata bagai almond, Temari tampak cantik alami. Jika Temari memutuskan untuk pakai lipstik, rok, dan sepatu hak tinggi, dia bisa membuat ruang sidang bertekuk lutut padanya. Tapi sama seperti aku, Temari tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Oke, dia jauh lebih parah daripada aku tentang masalah yang satu ini. Dia selipkan rambutnya di bawah topi loper koran, seluruh tubuhnya tersembunyi dalam jaket longgar dan baju kaus yang menampilkan kalimat sindiran. Malam ini baju kausnya bertuliskan: Tidak punya sopan-santun? Tulis kata "tolong" di keningmu.
"Asal kau tahu saja," kata Temari, "Aku melakukan ini bukan karena kebaikan hatiku. Kuanggap ini pekerjaan serius."
Tubuhku membeku, menu makanan baru setengah terbuka. Mampukah aku membayar apa yang dia rencanakan?
"Tenang. Aku tidak menuntut biaya yang terlalu mahal. Cuma sedikit uang sakumu untuk menyelamatkan mukaku."
Kuhembuskan napas lega. "Tolong jangan pernah jadi relawan untuk acara amal anak-anak," kataku sambil mengangguk ke arah baju kausnya.
"Kecuali jika itu ada hubungannya dengan anak-anak Labrador. Ini," Temari memberi isyarat pada kami berdua, "adalah amal terbesar yang pernah kulakukan."
Aku cemberut memahami implikasi ucapannya.
"Oh, ya ampun, Haruno, jangan sakit hati begitu."
Aku mendengus marah. Temari ragu menatapku. Pelayan datang untuk mengambil pesanan kami - kami tidak lapar, jadi kami hanya memesan kopi lagi. Kami bicara sedikit tentang rumah yang baru dia renovasi, lalu anak Labrador yang mulai dia latih (Temari hampir berhasil merayuku untuk mengadopsi anak anjingnya), sampai waktunya telah tiba.
Saat aku meniup kopiku yang mengepul, Temari mengaduk-aduk tasnya, lalu kembali meletakkan binder hitam yang kulihat tadi di atas meja.
"Apa ini?" aku hendak meraihnya, namun Temari tetap memegangnya dengan erat.
"Penelitian. Aku sudah melakukan riset kecil-kecilan terhadap teman kecilmu itu, Karin, dan inilah yang berhasil kutemukan. Dia lawan berat. Apa kau tahu dia seorang ratu kecantikan?"
Aku menggeleng. Aku sungguh tidak tahu banyak tentang Kanako Karin, kecuali keterlibatannya dengan Sasuke.
"Juara dua kontes kecantikan Yamanashi tahun 2007," kata Temari sambil membubuhi gula ke dalam cangkirnya. "Ayah seorang Wakil Presiden Direktur di perusahaan besar, Ibu seorang sosialita di Yamanashi. Putrinya seorang juara berkuda dan anggota regu pemandu sorak saat SMA. Kanako benar-benar tipe keluarga yang sungguh klise. Tapi Karin pintar dan pekerja keras. Dia seorang editorial tamu untuk koran akhir pekan sebuah sekolah setempat. Dia berhasil masuk ke Universitas Tsurui tanpa bantuan orang dalam. Dan Sasuke jelas melihat sesuatu yang menarik dalam dirinya, jadi jangan remehkan kehebatan Karin."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pirouette of Whitewater
Fanfiction-- SasuSaku Fanfiksi -- 🍃 [SELESAI] • Naruto © Masashi Kishimoto • Bagi masyarakat luas, Uchiha Sasuke adalah seorang penulis ternama, namun bagi Haruno Sakura, dia pria yang tega menghancurkan hatinya demi mengejar karir. Di sisi lain, Sakura sang...
