Dari jauh terdengar ucapan, "Terima kasih dan selamat malam!" lalu diikuti oleh sorak-sorai penonton. Kami bergegas melewati kerumunan, menuju penginapan. Bangunan bertingkat menjulang tinggi di atas kepala, di kedua sisi jalan. Beberapa jendela kantor masih ada yang menyala, dan aku bertanya-tanya kenapa masih ada yang mau bekerja di kemeriahan Festival Odori malam ini.
Meriah ... sampai ponselku kembali berdering. Kediaman Uchiha. Mereka menelepon dua kali dalam setengah jam terakhir, dan aku terus mengabaikannya seperti remaja yang mengelak dari tugas. Jika ini keadaan darurat, mereka bisa tinggalkan pesan. Seandainya saja mereka mengerti.
Entah Sasuke tahu atau tidak, dia tidak mengucapkan apa-apa tiap kali aku mengabaikan telepon. Sejenak aku penasaran apa mereka juga berusaha menelepon Sasuke, dan dia juga mengabaikan ponselnya. Cepat atau lambat kami memang harus berurusan dengan masalah ini. Aku tahu apa yang Sasuke lakukan. Sasuke menyayangi orang tuanya dan dia berusaha memikul seluruh tanggung jawab mereka. Yang tidak kumengerti adalah kenapa.
Aku sungguh tidak paham.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ayah Obito dan Ibu Rin menatap wajahku dan menyambutku di rumah mereka - ratusan kali - sejak perceraian. Setelah mereka pulang dari Tsurui, Sasuke mungkin hanya bertemu dengan mereka sepuluh kali ... Tidak, tidak, tidak, aku sendirilah yang harus berhadapan dengan mereka, tanpa ada Sasuke. Tapi malam ini bukan saatnya untuk konfrontasi, karena aku ingin seks. Berhubungan seks dengan putra mereka yang tampan ini.
Udara agak lebih dingin. Kurapatkan sweter. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa klaustrofobia dan ingin cepat-cepat keluar dari bawah bangunan yang menyembunyikan langit terbuka ini. Atau mungkin ini bukan sensasi klaustrofobia. Mungkin ini cuma urat sarafku yang tegang, karena ... kami akan, seperti yang dulu disebut Sasuke, "mengguncang kamar hotel."
Kata orang jika seks dilakukan dengan spontan, kau sama sekali tidak akan cemas - aku tidak perlu mengkhawatirkan apa aku masih seseksi dulu, atau apa Sasuke akan memerhatikan payudaraku yang tidak semencuat ketika berumur awal dua puluhan. Walaupun bentuk tubuhku sekarang lebih padat, karena senang beraktivitas yang memacu adrenalin, namun gaya hidup itu juga ikut mengotori tubuhku dengan bekas-bekas luka kecil. Belum lagi ada beberapa bagian kulitku yang menghitam karena sengatan matahari.
"Kulitmu sangat lembut," kata Sasuke sambil mengisap leherku, lalu dia menghela napas di sana, aku jadi merinding. Sasuke sepertinya tidak sadar dengan perubahan tubuhku. Atau sekali pun dia sadar, Sasuke tidak peduli, karena lengannya sibuk memeluk tubuhku sembari menenangkan urat saraf ini saat kami menaiki tangga luar hotel.
Jemariku ikut merangkak di pinggang Sasuke dan mengusap perutnya, merasakan kencangnya otot Sasuke di bawah kemeja. "Apa kau tidak gugup?" suaraku gemetar, karena adrenalin telah terpacu dan udara dingin berhembus. Sasuke meraba-raba kunci kamar kami, menggesekkan kartu dua kali, lalu memutar kenop pintu hingga terbuka. Sebelah tangan Sasuke berada di punggungku, dia membimbingku masuk sebelum menutup pintu. Sasuke bahkan tidak menyalakan lampu, dia langsung menekan tubuhku ke dinding, saklar lampu menggiling tulang belikatku sembari pinggul dan mulutnya dengan penuh semangat mendesakku.
"Ya," Sasuke mengaku di antara ciuman kami. "Kau?"
"Sedikit."
Sasuke berhenti. "Sakura, kita tidak harus bercinta hanya karena sekarang Festival Odori. Jika kau belum siap ..."
"Tidak, aku menginginkannya." Sasuke meraba-raba dinding di belakang punggungku, lalu menekan saklar lampu. Cahaya yang putih terang tiba-tiba membuatku buta dan aku memicingkan mata. Sasuke bergumam minta maaf, lalu mematikan lampu. Aku senang sekarang sudah kembali gelap - aku butuh kegelapan untuk menenangkan diri. Walaupun cahaya cuma menerangi kami sejenak, tapi sempat kulihat keraguan di wajah Sasuke, dia sedang bertanya-tanya apa aku bicara jujur. Dalam hati dia yakinkan dirinya sendiri untuk jangan berhubungan seks kali ini, sungguh tipikal Sasuke. Buka dia dengan hati-hati, Sakura. Jangan bertingkah gegabah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pirouette of Whitewater
Fanfiction-- SasuSaku Fanfiksi -- 🍃 [SELESAI] • Naruto © Masashi Kishimoto • Bagi masyarakat luas, Uchiha Sasuke adalah seorang penulis ternama, namun bagi Haruno Sakura, dia pria yang tega menghancurkan hatinya demi mengejar karir. Di sisi lain, Sakura sang...
