Tiga tahun kemudian, beberapa hal memang tidak pernah berubah ...
"Arrrrgh! Itachi!"
Kayak kami tersentak dan terguncang ketika mendekati jeram pusaran air. Ini tahun keberuntungan. Kami akan taklukan pusaran air terkutuk itu sekarang.
"Dayung, Sakura, dayung! Tidak ... ya ... meringkuk!" Air sungai yang dingin menabrak sisi-sisi kayak, tumpah ke pangkuan kami, mengitari pergelangan kaki. Kami tergagap dan membungkuk, berusaha mendayung kayak ke atas gelombang. Kayak kemudian tenang, begitu selaras dengan gerak sungai. Kayak kami naik, berselancar di atas gelombang ombak ... selama dua detik.
Sebelum aku sempat berteriak dengan penuh kemenangan, kayak sudah merosot dan kakiku terbang hingga ke atas kepala. Aku gagal. Lagi.
Meringkuk ... ikuti arah arus ... oh sial, dingin sekali airnya! ... langit ... abu-abu ... langit ... abu-abu ... masih tetap sama, masih tetap sama ...
Dan tidak ada lagi air yang menghalangi pandanganku, cuma ada langit biru yang megah.
Ada yang meraih bagian belakang jaket pelampungku, mengangkut tubuhku ke permukaan. Sasuke yang sudah menungguku di tepi sungai, langsung menyelamatkan aku, sekaligus meraih dayung yang mengapung.
"Kami ... hampir ... menaklukkan pusaran ... air ... kali ini," aku tergagap, karena gigiku terus bergemeletuk.
Sasuke tersenyum. "Hampir menaklukkan, Sayang. Percobaan terakhir, benar?"
"Percobaan terakhir." Aku dan Itachi sama-sama setuju - kami tidak ingin meninggalkan kesedihan untuk orang yang kami cintai. Terutama setelah bulan-bulan tragis yang penuh tragedi, yang baru saja kami alami.
Beberapa hal tidak pernah berubah. Namun pada saat yang bersamaan, tentu saja ada yang berubah. Seperti nama depanku, tiga tahun yang lalu ...
•••
"Bukankah kau baru ke sini Bulan Mei yang lalu?"
"Ya, tapi aku harus ganti nama lagi." Kuletakkan surat nikah di atas meja kantor sosial. Wanita itu mengamati surat nikah, lalu ragu-ragu mengamatiku.
"Kau ganti namamu dari Haruno ke Uchiha. Lagi. Kau mengubah pikiranmu, lagi?"
Itu bukan urusanmu, tapi ... "Ya. Tentang banyak hal." Kau tidak akan percaya betapa banyaknya hal yang berubah, Nona.
Dia menggeleng. "Pasangan muda sering terburu-buru untuk bercerai. Apa pun yang terjadi, kau telah berhasil menyelesaikan masalahmu, bukan?"
Aku menghela napas, tidak ingin terlibat dalam perdebatan moral. "Aku setuju. Tapi kurasa warna hidup juga bukan sekedar hitam dan putih. Ketika kau terperosok dalam rasa sakit dan amarah, sulit untuk berpikir lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan."
"Kau benar." Dia bersiul ketika memindai informasi yang kuberikan. "Menikah di kapel, ya? Tidak ingin buang waktu rupanya!"
"Kami sudah terlalu banyak membuang waktu." Sebenarnya kami langsung mendaftar akan menikah sepulang dari Gunung Tonegawa. Rambutku yang lepek masih ditutupi topi rajut, tapi itu berhasil menghalangi tulisan 'aku cinta Uchiha Sasuke' di dahiku. Sasuke, sayangnya, memproklamirkan diri bahwa dia masih seorang 'pecundang'.
Kami mulai merencanakan pernikahan di Konohagakure, tapi setelah perselisihan mengenai tempat, kami déjà vu dan takut kenangan lama akan terulang, jadi kami langsung berangkat ke sebuah kapel kecil dekat danau - perbatasan antara Konohagakure dan Sunagakure. Menikah di gereja atau di kapel tidak ada bedanya. Hanya saja jika di gereja kami harus ikuti berbagai macam protokol, namun di kapel kami bisa langsung menikah. Kami bahkan tidak mengadakan resepsi. Satu-satunya syarat yang diberikan Sasuke adalah dia boleh membelikan cincin apa pun untukku, dan aku tidak boleh mengomel masalah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Pirouette of Whitewater
Fanfiction-- SasuSaku Fanfiksi -- 🍃 [SELESAI] • Naruto © Masashi Kishimoto • Bagi masyarakat luas, Uchiha Sasuke adalah seorang penulis ternama, namun bagi Haruno Sakura, dia pria yang tega menghancurkan hatinya demi mengejar karir. Di sisi lain, Sakura sang...
