36. Depresi Akut

4.8K 283 1
                                        

[Masa kini.]

Soji keluar dari kamar dan menghadap Ryuji dengan marah.

"Biarkan dia pergi."

Klik. Klik.

Ryuji memantik korek gas dan membakar rokoknya.

"Apa? Kenapa kamu berisik sekali?"

"Aku tidak tahu alasan kenapa kamu membawa gadis itu, tapi aku akan mengatakan ini... Biarkan dia pergi. Dia tidak pantas dengan tempat ini. Kamu hanya akan membunuhnya."

Fuhhh...

Ryuji meniup asap rokok dan merespons Soji dengan santai walaupun pria itu seperti ingin membunuhnya.

"Aku tidak membunuhnya."

"Ya, kamu membunuhnya!"

"Kenapa kamu begitu keras kepala?!"

"Kamu benar-benar tidak tahu?"

"Tidak."

Soji merebut rokok Ryuji dan meremasnya hingga hancur.

"Ryuji, kamu harus melepaskannya. Dia hanya akan mati jika terus berada di sini. Terlebih Ketua Kelima telah menaruh ketertarikannya pada gadis itu. Dia tidak akan bisa mengatasi kegilaan Ketua Kelima."

Ryuji menatapnya tajam, "Kamu berbicara sampah!"

Soji mendengus keras, ia langsung menghampiri Takiro dan merebut paksa ponselnya. Ia langsung saja menarik telunjuk Takiro untuk membuka kunci layar, dan mengetuk email miliknya.

Dalam deretan pesan terkirim, ia membuka satu email dengan subjek Hana Naomi Sachie. Soji membacanya dan benar-benar yakin bahwa Ryuji tidak mengetahui apa pun tentang gadis itu.

Informasi yang diberikan oleh Takiro hanyalah informasi umum. Tidak ada informasi mengenai kesehatan gadis itu, yang menjadi perhatian Soji saat ini.

"Kamu hanya akan semakin menghancurkannya, Ryuji," Soji tetap bersikeras.

"Soji, apa yang kamu maksud sebenarnya?" Takiro kembali berbicara karena ia merasa Soji terus berbicara hal yang tidak masuk akal.

"Kamu...!" Soji menunjuk tepat ke wajah Takiro.

"Aku berikan saran. Lain kali, ketika kamu mencari informasi, pastikan kamu mendapatkan semuanya. Meskipun itu hanya jenis udara yang dia hirup! Atau kamu akan menghancurkan hidup seseorang yang sebenarnya sudah hancur!"

Takiro makin tidak mengerti. Sementara wajah Soji memerah menahan emosi.

"Gadis itu, dia menderita depresi akut! Dia butuh obat seumur hidup! Tekanan apa pun hanya akan memperburuk keadaannya!" jelas Soji.

Ryuji terdiam, ia tidak mengatakan apa pun. Soji mengarahkan kemarahannya pada Ryuji.

"Gadis itu muntah-muntah bukan karena dia sakit. Dia merasa stres! Kamu seharusnya lebih tahu. Bagi penderita depresi akut, mereka bisa bunuh diri kapan saja!"

"Lalu?"

Respon dingin Ryuji membuat Soji terdiam tidak percaya.

"Soji, gadis itu bukan Ayahmu. Jangan menganggap semua orang sama sepertinya."

"Ryuji-sama!" Takiro mengingatkan bahwa perkataan Ryuji sudah keterlaluan.

Soji tersenyum sinis. "Ya, Ayahku meninggal karena depresi. Dia bunuh diri. Kamu benar, tidak semua orang yang depresi akan mati, kan?"

Takiro berusaha menenangkan suasana. "Soji, Ryuji-sama tidak bermaksud untuk—"

"Aku mengerti, Takiro." Soji berjalan keluar. "Aku akan mengambil obatnya, pastikan kamu menjaga dia sampai aku kembali."

Old Man is Mine [INDONESIA]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang