Ryuji memperhatikan Hana dan Leon yang terlihat canggung satu sama lain. Ia pun menghela napas.
"Aku sarankan kalian masuk dan membahas apa pun yang ingin kalian bahas."
"Tidak, aku tidak mau masuk ke rumahmu. Siapa tahu jebakan apa yang sudah kamu siapkan."
Ryuji menaikkan sebelah alisnya. "Jebakan? Apa sih yang anak ini bicarakan? Kamu yang berdiri di depan rumahku, tapi kamu juga yang takut ada jebakan. Seharusnya aku yang merasa takut karena kalian berdua, yang asing bagiku, mungkin saja ingin membunuhku."
Manda tersenyum. "Kurasa kita semua takut pada orang lain. Itu naluri dan sifat alami manusia."
Meski enggan, Manda memaksa Leon untuk masuk ke rumah Ryuji. Mereka lalu berkumpul di ruang tamu.
Hana duduk berdempetan dengan Ryuji, Leon melihatnya dengan geram, dan Manda memperhatikan interaksi itu sambil menghela napas.
"Kalian berdua butuh klarifikasi," jelas Ryuji, yang langsung ditentang keras oleh Hana.
"Tidak, kami baik-baik saja. Dia akan pulang sekarang."
"Dengar, kamu memilihku sebagai wali, dan sekarang tugasku memastikan kamu tidak memiliki beban, baik secara fisik maupun mental. Lebih tepatnya, aku tidak mau punya beban. Karena bebanmu adalah bebanku."
Hana menunduk pasrah.
"Aku akan keluar membeli minuman," Ryuji beranjak pergi, dan Manda pun mengikutinya.
"Aku juga ikut. Kalian berdua bisa bicara sekarang."
***
Leon memperhatikan Hana yang terus saja memalingkan wajahnya.
"Mengapa kamu menghindari menatapku?"
Hana hanya diam.
"Kamu terkejut karena aku bisa mengucapkan mantra dengan lancar, seperti kamu?"
Hana menghela napas, lalu menghadap Leon dan perlahan mengangkat wajahnya, menatap wajah sahabatnya.
"Tadi, saat aku mendengar kamu berbicara dalam bahasa Inggris, aku terkejut. Aku punya banyak pertanyaan, tapi pertanyaan utamaku adalah, apakah pria ini telah berbohong padaku selama ini? Tiba-tiba, aku merasa marah—"
"Tapi aku tidak punya hak untuk itu. Aku mengecewakanmu, dengan cara terburuk yang bisa kulakukan. Melihat wajah marahmu, aku tahu tidak ada pengampunan untukku. Aku yang bersalah."
Leon mengambil napas dalam-dalam, berusaha untuk tenang. "Bisakah kamu bayangkan? Kamu tiba-tiba menghilang, seperti gelembung yang pecah di udara. Aku tak bisa menjangkau kamu. Aku tak bisa melihat kamu. Pikiranku kacau. Kesadaranku tenggelam—"
"Aku tidak tahu apakah harus merasa bersyukur atau justru mengamuk karena kakakmu yang datang dan menemuiku."
Pupil mata Hana membesar mendengar Leon menyebut kakaknya.
"Kirana mengatakan sesuatu yang membuatku ingin membunuhnya. Dia memberitahuku segalanya, atau mungkin tidak semuanya, tapi kata-katanya cukup untuk membuatku bertanya-tanya neraka seperti apa yang sedang kamu jalani, siksaan seperti apa yang kamu rasakan, dan seberapa besar rasa sakitmu—"
"Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyalahkan diriku sendiri," jelas Leon.
Hana menunduk. Ia tidak tahu hal apa yang Kirana katakan. Tetapi yang jelas, Kirana sudah pasti membuka semua kotak pandoranya.
Perkataan Hana penuh rasa sakit, "Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf—"
"Alasan kenapa aku tidak pernah membuka diri kepadamu adalah karena kamu akan terluka seperti aku yang terluka. Aku sudah cukup dengan semua itu. Aku hanya ingin kebahagiaan, bersamamu—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Old Man is Mine [INDONESIA]
RomantizmJudul: Old Man is Mine - Buku 1 [INDONESIA] Seri: Old Man is Mine Bahasa: Indonesia Rekomendasi Usia: 18 tahun ke atas °•.•°•.•°•.•°•.•°•.•° •.•°•.•°•.•°•.•° Hana Naomi Sachie, seorang gadis 16 tahun, tumbuh dalam keluarga toksik yang membuatnya jat...
![Old Man is Mine [INDONESIA]](https://img.wattpad.com/cover/148468207-64-k539594.jpg)