Sudut bibir yang berdarah dan lebam di sudut mata tetap tidak membuat Leon menghentikan tatapan tajam dan gertakannya pada sederet siswa yang sudah babak belur ia hajar.
***
[Ruang Kepala Sekolah.]
Bam!
Kepala Sekolah menggebrak meja melihat tingkah laku Leon yang tanpa takut.
"Kamu pikir kamu jagoan?!"
"Jagoan atau bukan, mereka semua pantas dipukul," seru Leon.
"Diam kamu!"
"Yon..." Hana mencoba meredam kemarahan sahabatnya itu.
"Kamu ini bukan hanya memukul satu tetapi sepuluh siswa! Belum lagi siswi yang kamu takut-takuti itu! Ini bukan permasalahan sepele yang bisa diselesaikan dengan skorsing oleh Guru Konseling!" jelas Kepala Sekolah seraya menunjuk sepuluh siswa yang hanya diam saja dari tadi.
Leon hanya memutar matanya jengah.
"Dan kamu, Hana. Apa penjelasan kamu setelah absen selama ini? Kamu pikir sekolah hanya tempat rekreasi yang kamu datangi ketika bosan?!"
Hana hanya terdiam.
"Pfft..." Leon menahan tawanya, "Tempat rekreasi yang didatangi ketika bosan? Lelucon macam apa itu?"
"Leon!" Kepala Sekolah kembali menegurnya.
"Maaf Pak, tetapi aku kalau bosan gak akan pernah datang ke tempat seperti ini, yang semua isinya cuma sampah."
"Tolong dijaga ucapan kamu, Leon," ujar Guru Konseling ikut berbicara.
Kepala Sekolah memegang kepalanya, pusing dengan sikap Leon yang memberontak.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Mereka sudah babak belur, tidak mungkin melupakan masalah hanya dengan permintaan maaf."
"Siapa juga yang mau minta maaf? Lagi pula permasalahan semua sudah selesai. Aku bilang untuk menyelesaikannya dengan melawan aku, dan mereka semua melakukannya. Aku dan mereka sudah sama-sama melawan, jadi semua permasalahan selesai. Kalau babak belur itu salah mereka, siapa suruh menjadi lemah?"
Hana kesal mendengar omongan Leon yang tidak masuk akal, ia akhirnya mencubit paha Leon yang duduk tepat di sebelahnya.
"Akh! Hana...!" jerit Leon.
"Maaf Pak, ini semua kesalahan aku. Leon hanya mencoba membela aku dan pada akhirnya semua terjadi. Aku meminta maaf atas nama Leon," ucap Hana.
"Loh, Na? Gak bisa begitu dong. Lo ya lo, gue ya gue. Jangan main ambil permasalahan orang saja," sanggah Leon.
Hana meliriknya tajam, "Keep your bacot, please!"
Hana kembali menghadap ke Kepala Sekolah, "Aku akan mengambil semua konsekuensi semua permasalahan hari ini, juga termasuk ketidakhadiran aku selama ini."
"Gak ada! Ini masalah gue!" ujar Leon keras kepala.
Guru Konseling menghela napas, kemudian menyuruh para siswa yang babak belur untuk keluar dan membiarkan ini menjadi obrolan hanya di antara mereka berempat.
"Jadi, Hana... Kamu mau mengambil semua tanggung jawab?"
Hana mengiyakan pertanyaan Guru Konseling.
"Tetapi hal tersebut bisa membuat kamu dikeluarkan. Meskipun kamu siswi kebanggaan sekolah, tetap tidak ada dispensasi untuk kamu."
Hana mengangguk mengerti, "Aku sangat mengerti, Pak."
BAM!
Leon menggebrak meja dengan berapi-api. "Kalau Bapak melimpahkan semua kesalahan ke Hana. Aku pastikan kredibilitas Bapak akan jatuh, bahkan Bapak akan dipecat! Bagaimana mungkin Bapak mengkambing hitamkan seseorang atas semua masalah?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Old Man is Mine [INDONESIA]
RomanceJudul: Old Man is Mine - Buku 1 [INDONESIA] Seri: Old Man is Mine Bahasa: Indonesia Rekomendasi Usia: 18 tahun ke atas °•.•°•.•°•.•°•.•°•.•° •.•°•.•°•.•°•.•° Hana Naomi Sachie, seorang gadis 16 tahun, tumbuh dalam keluarga toksik yang membuatnya jat...
![Old Man is Mine [INDONESIA]](https://img.wattpad.com/cover/148468207-64-k539594.jpg)