46. Jangan Menghakimi

6.5K 308 15
                                        

Handoko menatap Leon dengan serius.

"Daddy bukan bermaksud membela Ryuji, tetapi jangan biarkan kekecewaan dan kemarahanmu membutakanmu dari kebenaran. Kamu tidak bisa begitu saja memberi label tanpa bukti yang kuat. Kalau hal yang sama terjadi padamu, kamu pasti akan menyesal."

Leon membuang wajah dan tidak mau menjawab. Handoko hanya menghela napas dan bangkit.

"Dit, Daddy tahu kamu peduli dengan Hana, tetapi biarkan dia membuat keputusannya sendiri. Kamu memang sahabatnya, tetapi Hana berhak atas hidupnya sendiri. Kamu hanya bisa mengamati setiap langkahnya. Tidak ada seorang pun yang ingin terus-menerus bergantung pada bantuan orang lain."

Handoko mengusap kepala anaknya dan berjalan ke luar. Tepat sebelum ia menutup pintu, Handoko kembali berkata.

"Mommy khawatir sama kamu. Kamu belum makan, kan? Makan dulu, baru lanjut lagi merenungnya. Lagi pula penolakan cinta pertama itu sangat wajar," dan perkataan itu diakhiri dengan tawa jahil sang Daddy.

Leon langsung mendesis mendengar tawa itu namun dilain pihak ia juga memikirkan semua perkataan Daddy.

***

[Rumah Ryuji.]

Merasakan kehadiran seseorang, Hana perlahan membuka matanya.

"Sudah pulang?" tanya Hana pada Ryuji yang sejak tadi terus menatapnya.

"Ya," Ryuji menjawab singkat. Ia lalu menaruh laptop dan menyerahkan beberapa tas belanja ke Hana.

"Apa ini?"

Ryuji tidak menjawab, ia memilih pergi dan meninggalkan Hana dengan rasa penasarannya. Hana berdecak kesal, namun dengan cepat membuka tas-tas tersebut.

Tas belanja pertama yang ia buka berisi seragam sekolahnya, ransel sekolah, kaus kaki dan juga sepatu. Terkejut, Hana membuka isi tas belanja lainnya.

Tas kertas kedua berisikan dompet, ponsel, laptop, dan alat-alat tulis. Kemudian, di tas belanja ketiga, Hana mendapatkan beberapa jenis kue dan roti di dalamnya.

Hana mengeluarkan semua isi tas belanjanya dan menjajarkannya di atas meja hingga meja pun penuh. Pupil matanya membesar, merasa takjub dengan semua barang yang ada di hadapannya.

"Pria Tua...! Kenapa barang milikmu diberikan padaku???" teriak Hana.

Ryuji muncul dengan hanya mengenakan jubah mandi. "Kamu gila?"

Hana terdiam sejenak saat melihat tubuh bagian atas Ryuji yang tidak berbusana, lalu dengan cepat ia menggelengkan kepala.

"Kamu pikir aku akan mengenakan seragam sekolah itu? Seragam sekolah perempuan dan mengenakan rok?!" kesal Ryuji.

"Tentu tidak."

"Lalu kenapa bertanya?!"

Hana meringis, "Ahh... Tetapi kenapa kamu membelikan semua barang ini?"

"Kamu memintaku menjadi walimu bukan? Aku hanya melakukan kewajibanku karena bagaimanapun kamu sudah membayar."

Perlahan senyum Hana merekah, ia terlihat sangat senang.

"Sebagai wali, aku tidak akan membiarkan anak asuhku berpenampilan tidak menarik dan tidak berpendidikan. Mulai besok, kamu akan masuk dan bersekolah di sekolah lamamu untuk sementara."

Senyum Hana perlahan memudar, "Maksudmu aku akan pindah sekolah?"

Ryuji mengangguk. "Takiro akan menemanimu mengurus kepindahan sekolah. Kamu akan mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik."

"K-kenapa...? Bukankah seragam ini baru saja kamu belikan? Ini akan jadi sia-sia."

"Aku punya banyak uang. Membelikanmu seragam baru setiap hari pun tidak akan membuatku miskin. Lagi pula, bukankah lebih baik jika kamu pindah? Jika aku tidak salah hitung, kamu sudah absen selama sebulan. Bayangkan saja komentar buruk yang mungkin muncul dari teman-teman dan gurumu."

Old Man is Mine [INDONESIA]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang