51. Bergetar

3K 178 1
                                        

"Kamu bisa membuang ini ke tempat sampah," Ryuji menyodorkan tas sekolah yang Hana buang.

"Maaf..."

Hana mengulurkan tangannya, sekilas Ryuji melihat getaran di tangan dengan kulit putih bersih tersebut. Ia pun memandang Hana lekat-lekat.

Ptak!

"Akh!" Hana meringis karena Ryuji dengan teganya menjentik keras keningnya.

"Bodoh," ucap Ryuji.

Hana mengangkat pandangannya.

"Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan cinta dengan begitu mudah? Apakah menurutmu cinta hanyalah ungkapan biasa, seperti lapar, haus, atau lelah?"

"Tetapi—"

"Ya, aku tahu. Kamu memandang bocah itu sebagai teman, dan hanya aku pria di matamu. Jadi kamu berpikir itu adalah cinta."

Hana mendadak malu, ia langsung mengalihkan pandangannya.

"Bodoh! Daripada mengucapkan cinta, lebih baik kamu mengungkapkan ketika kamu merasa takut dan tidak suka."

Ucapan Ryuji membuat Hana kembali menoleh padanya dan tangan pria itu langsung saja meraih tangan kanannya.

"Lihat baik-baik," Ryuji menunjukan tangan tersebut ke pemiliknya yang tentu saja kebingungan.

"Kamu tidak mengerti?" dan Hana menggeleng.

Ia menghela napas, "Tanganmu bergetar karena kamu takut."

Mencari kebenaran, Hana kembali melihat tangannya dengan seksama dan dia harus mengakui bahwa memang jari-jarinya sedikit bergetar yang tentu tidak akan terlihat jika tidak memperhatikannya baik-baik.

Ryuji kemudian menghempaskan tangan Hana begitu saja. "Prioritaskan dirimu. Kamu terlalu memperhatikan orang lain dan melupakan dirimu sendiri."

Lalu helaan napas terdengar. "Kamu terlalu muda untuk membicarakan cinta. Lebih baik kamu mengenal dirimu sendiri."

"Kamu salah," ucap Hana membuat Ryuji makin menatapnya.

"Aku sangat mengenal diriku sendiri, tetapi itu tidak berarti aku juga mengenal orang lain."

"Huh?" Ryuji tidak mengerti, dan mengambil satu langkah mundur karena kedekatan mereka.

"Aku mengenal Leon selama bertahun-tahun, dia tidak pernah sekalipun berteriak padaku. Jadi hari ini, ketika dia melakukannya aku terkejut. Terlebih dia seperti orang yang tidak aku kenal."

"Kalau dia seperti orang yang tidak kamu kenal kenapa kamu malah berdiri seperti orang bodoh mendengarkan setiap teriakannya?"

"Kamu benar, itu karena aku takut."

Hana menunduk.

"Selama ini, setiap harinya, pada setiap kesempatan, Mama—Ahh... Maksudku wanita yang melahirkanku—ibuku selalu berteriak padaku. Dia tidak pernah berbicara dengan suara lembut. Selalu saja meninggikan nada bicaranya. Aku bahkan tidak bisa menjawab, karena dia akan semakin keras berbicara."

"Saat itu, aku hanya terdiam. Aku ingin menutup kedua telingaku. Tetapi itu tidak pernah berhasil. Aku hanya bisa berdiri dengan tubuh gemetar."

Hana melihat telapak tangannya, "Sama seperti tadi."

Hana mengangkat kepalanya. Ia menatap Ryuji lekat-lekat. "Aku takut. Aku sangat takut, Ryuji. Aku tidak bisa mendengar teriakan, apalagi yang tertuju padaku. Meski aku berusaha melupakannya, tubuhku akan selalu mengingat situasi tersebut. Aku gemetar karenanya."

Dengan lembut, Ryuji mengisi ruang kosong tangan Hana, dia menggenggam erat.

"Meski berat, tetapi lupakan. Aku... Aku yang ada di sini sekarang. Bukan Ibumu, Ayah, Kakakmu, atau orang lain."

Old Man is Mine [INDONESIA]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang