Gilang mengalihkan pandangannya ke komputer. Langkah kakinya melewati begitu saja bangku yang Belva duduki.
Belva menatap nanar Gilang yang tak menyapanya sedikit pun.
Sebenarnya Belva benar-benar ingin marah sekarang semenjak foto yang Ara kirim, namun mendengar kabar Gilang yang baru saja tertimpa musibah rasanya Belva tak tega meluapkan amarahnya.
Gilang memasukan flashdisk ke cpu lalu mulai menghapusi virus dari Flash disk pak Suraya. Mata Gilang sebenarnya sangat-sangat ingin melirik melihat Belva sekarang bagaimana tidak, orang yang ia tunggu-tunggu selama ini sudah didepan matanya dan ia pun bisa menyentuhnya sekarang tetapi ego Gilang begitu tinggi, mengingat Belva yang tak menghubunginya lagi.
Belva masih bungkam, rasanya begitu perih melihat Gilang yang membisu.
Ia ragu untuk menyapanya terlebih dahulu. Apalagi Belva teringat akan foto itu, Belva jadi terbayang sendiri ketika kak Ara mencium kak Gilang, yang membuat ponselnya jatuh begitu na as.Mesin print mengeluarkan beberapa lembaran berkas yang Belva minta. Gilang telah selesai menyelesaikan tugasnya kini ia mengkarantina lembaran-lemabaran itu lalu ia satukan menggunakan paper clip.
Gilang beranjak setelah mencabut paksa Flash Disk dan mematikan komputer.
"Nih." Gilang melemparkan lembaran kertas ke meja yang berada didepan Belva.
Lalu ia beranjak pergi begitu saja keluar ruang osis.
Belva beranjak dan langsung menarik tangan kanan Ketos.
"Kak Gilang tunggu!"
"Aaaw!" Luka dibagian tangan Gilang masih terasa sakit apalagi tarikan Belva dan langkah kakinya yang maju seakan merobek kulitnya.
"Maaf kak." Belva melihat bekas luka ditangan Gilang yang masih diperban.
"Mau apa lagi? Urusan kita udah selesai dah sana ngilang lagi." Perkataan Ketos begitu dingin melebihi salju digunung Fuji.
"Kak kaka baik-baik aja? Kaka habis kecelakaan?"
"Tau dari mana?" Sebenarnya Gilang ingin sekali memeluk gadis itu untuk mengobati rasa perih didadanya.
"Itu tangannya.." Belva menunjuk ke tangan kanan Gilang yang diperban. Mata Belva berkaca-kaca ia ingin sekali menangis melihat keadaan Gilang sekarang.
"Peduli? Sejak kapan lo peduliin gue? Gak ngilang aja sana?" Bentak Gilang lalu ia melongos pergi tanpa menghiraukan Belva yang akan berkata.
"Tapi kak---."
Air mata Belva kini telah jatuh, rasanya begitu menyesakkan jujur Belva sangat merindukan Gilang sekarang namun mengapa Gilang tak memberi kesempatannya untuk berbicara?Ingin rasanya Belva luapkan saja kekesalannya. Yang teramat begitu sakit.
Meski sakit itu tak terlihat sekarang.Gilang memilih ke toilet dulu ketimbang melanjutkan mendengarkan pidato dari kanjeng mami yang hanya akan membuat kepalanya meledak. Gilang menyenderkam pasrah bahunya kedinding toilet setelah ia mengunci pintu toilet rapat-rapat.
Belva pun sama ia memilih menghapus airmatanya ke toilet menghilangkan jejak agar tak dicurigai oleh orang-orang terutama orang kantor.
Kini Belva pun menyender pasrah di dinding setelah mengunci pintu toilet.
Dinding itulah yang sekarang menjadi penghalang antara Belva dan Gilang.

KAMU SEDANG MEMBACA
ULAH KETOS
Teen Fiction[TAMAT] Ini cerita aneh dimana yang nembak bukan yang suka tapi yang ditembak malah yang suka tapi ga pake jaran goyang loh :v lah kok bisa sih yang nembak biasa aja ga ada rasa cinta malah yang ditembak yang punya rasa cinta? Dan gimana perasaan k...