PART 17 (TIDAK MENGERTI)

6.3K 323 84
                                        

Langit malam tampak begitu indah malam ini. Para bintang dan bulan yang bertaburan di sana seolah berlomba lomba memancarkan sinar terterangnya. Walaupun mereka terlihat bekerja keras menampilkan hal terindah dalam dirinya, hal itu tetap membuat Tiara tidak bisa menilai siapa yang terhebat diantara mereka.

Angin malam berhembus semakin kencang nan lembut hingga membuat helaian rambut Tiara tersibak perlahan lahan. Wanita itu masih setia duduk di kursi teras rumah menunggu suaminya yang belum kunjung pulang. Sesekali dia mengecek jam tangan braille nya untuk memastikan sudah jam berapa.

Tiara masih terus menunggu seperti kebiasaanya. Kegiatan ini sudah hampir berjalan satu tahun sejak dia menginjakkan kakinya di sini.

Tidak terasa satu bulan sudah sejak kepulangan Aldean dari rumah sakit. Setelah mengetahui kabar buruk dari dokter yang menimpa suaminya, Tiara sama sekali tidak memperhatikan kondisinya dan lebih memprioritaskan kondisi suaminya. Bagi dia, kesehatan suaminya lah yang utama.

Tiara tampak lebih kurus dari sebelumnya mungkin karena dia yang kurang memperhatikan kondisinya sendiri.

Setiap hari dia yang menjadi alarm Aldean untuk mempersiapkan dan memastikan suaminya meminum obat yang telah diberikan oleh dokter. Dia rela dikatain apa aja oleh Aldean hanya untuk sekedar memastikan dan bertanya apakah suaminya sudah minum obat atau belum.

Setiap hari juga, Tiara lah satu satunya orang yang menghadapi langsung respon tubuh suaminya akibat penyakit tersebut seperti mual dan muntah, sakit kepala, demam, perubahan mantal. Jika sudah berhadapan dengan kondisi yang seperti itu Tiara hanya bisa manenangkan suaminya dengan sabar walau tak jarang dia mendapati perlakuan buruk dari Aldean yang sering marah dan murka terhadap dirinya. Walau begitu, Tiara tetap tabah meski harga dirinya sudah diinjak injak oleh Aldean. Karena dia tidak memiliki siapapun kecuali suaminya itu.

TUTTTTTTTT........

Terdengar suara klakson mobil dari arah luar rumah. Perasaan lega langsung seketika menyelinap dalam hatinya. Tiara yang sedang duduk menunggu Aldean dengan spontan langsung berdiri.

Setelah memasukkan mobilnya ke garasi mobil, tak beberapa lama Aldean berjalan memasuki rumah dan seperti biasa Tiara sudah menunggu di depan pintu.

ALDEAN POV

Gak bosen apa dia setiap malam menunggu di dekat pintu?

"sudah pulang, Mas?" dia berdiri sambil tersenyum, aku hanya melihatnya sekilas tidak berselera. Bagaimana tidak? Wanita itu hanya mengenakan kaos biasa berwarna biru dan rok sebatas lutut berwarna putih. Tidak menarik

" Pertanyaan tidak bermutu. Kau sudah mendengar klakson mobil. Siapa lagi yang datang kalau bukan aku." Dia tertunduk. Itu sajalah yang kau tahu. " ini bawakan tas kerjaku dan taruh di meja kerja seperti biasa" aku memberikan tas kantor ku padanya.

Aku berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air putih untuk melegakan kerongkonganku.

Aku melihat ke arah meja makan ternyata makan malam telah tersaji di sana. Perutku memang sudah lapar. Namun badanku yang lumayan gerah seharian bekerja membuatku langsung bergegas ke kamar mandi di dalam kamarku untuk membersihkan diri.

Anak tangga terasa sungguh banyak jika aku menaikinya dalam kondisi lelah seperti ini pikirku.

Ketika tiba di kamar aku melihat wanita itu sedang mempersiapkan baju yang hendak aku pakai. Aku duduk sebentar di kasur sambil memperhatikannya.

"Dimana handuk? aku ingin mandi" aku meminta handuk milikku padanya sambil membuka kancing kemejaku satu per satu.

Aku meliriknya secara tajam, seolah sudah paham keberadaan barang barang pribadiku, dia langsung memberikan handuk itu kepadaku. Aku langsung menerimanya setelah semua pakaian yang membuatku sesak hari ini telah sukses lepas dari tubuhku. Handuk putih tersebut kini telah rapi melingkar di pinggangku.

DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang