Come back is real 🤗
.
.
.
TIARA POV
Seminggu kemudian.
Hari ini tepat satu minggu kepergian suamiku ke luar kota. Entah mengapa, aku tidak memiliki semangat akhir akhir ini. Untuk makan saja aku terkadang malas, untung Bibi masih mengingatkanku untuk makan.
Seminggu ini juga, aku hanya menghabiskan waktuku di balkon kamar. Tidak ada yang aku lakukan, hanya diam termenung menunggu senja. Ketika sudah senja menunggu malam hingga aku ngantuk dan mulai tidur. Sangat tidak produktif. Hari hariku yang biasanya selalu diisi oleh kegiatan, tapi sekarang rasanya cukup berbeda. Cuaca di luar juga sedang hujan, menambah diriku semakin betah duduk di sini merasakan semilir angin dan bulir air hujan yang terkadang menerpa wajahku.
Aku tidak mendapat kabarnya sama sekali sejak terakhir kali dia memintaku untuk tidak menghubunginya lagi. Dia tidak nyaman dan aku cukup paham posisinya. Namun sebaliknya, dengan kondisi seperti ini sangat membuatku tidak nyaman dan semakin bertanya tanya bagaimana keadaannya sekarang. Apa dia baik baik saja?
Aku masih melamun hingga aku tersadar dengan senggolan ringan tangan seseorang di pundakku.
"Iya bi? Ada apa?" Tanyaku kembali ke alam sadar.
"Dari tadi Bibi panggil, tapi non masih saja melamun. Kalau ada apa apa, cerita aja sama bibi, Non" ujar Bi Minah.
"Maaf ya Bi, Tiara tadi tidak mendengar panggilan Bibi" ucap wanita itu lembut.
"Bibi hanya ingin berpesan, kalau ada masalah, jangan terlalu dibawa pikiran. Terus saja berdoa, pasti dapat jalan keluarnya" ujar Bibi menasihatiku.
"Iya bi" ungkapku menarik nafas dalam sambil mendengar nasihat bibi. Jalan keluar yang seperti apa yang telah Tuhan rencanakan untuk hidupku yang rumit ini. Aku tersenyum sambil memejamkan mataku untuk merasakan angin dan rintik hujan sekali lagi. Aku iri dengan mereka yang bisa hidup bebas tanpa ada masalah.
"Yang penting non Tia ingat kata dokter minggu lalu toh. Jangan terlalu banyak pikiran karena itu bisa mempengaruhi tumbuh kembang janin."
Mataku terbuka. Aku kembali mengingat nasihat dokter minggu lalu.
'Jika ingin calon bayi yang sehat maka pikiran mamanya juga harus sehat'
Aku mengelus perut yang mulai membesar ini. Pikiranku juga kembali mengingat kejadian minggu lalu. Perutku sakit mendadak sesaat setelah menerima panggilan dari suamiku. Tidak sampai sepuluh menit sejak panggilan terputus, perut ini bergejolak hebat. Secepat itu pengaruh pikiranku terhadap janin. Pasti anakku tidak ingin aku dilukai oleh papanya sendiri.
"Iya bi, siap" aku tersenyum.
Aku tersadar. Aku harus mengikuti nasihat dokter agar anakku bisa tumbuh sehat. Yakinlah Tiara, kamu pasti bisa. Aku memberikan semangat kepada diriku sendiri. Aku harus memprioritaskan makhluk kecil di dalam rahimku ini. Lebih baik aku fokus terhadapnya agar dia bisa tumbuh dengan baik daripada terus terusan memikirkan papanya yang selalu menyakiti kami.
"Nah, gitu kan enak liat non tersenyum". Bi Minah memegang rambutku. "Dari pada Non Tia melamun di sini, lebih baik Non ikut Bibi saja ya ke bawah. Ga baik melamun terus untuk ibu hamil. Nanti kalau hujannya sudah berhenti, kita ke halaman belakang rumah ngurus tanaman. Bibi akan mengajarkan Non Tia bercocok tanam dan merawat bunga supaya Non ga bosan di rumah dan bisa sambil menghirup udara segar di sana" jelas Bibi berharap Tiara mau mengikuti anjurannya.
"Iya Bi, ayo kita ke sana" ucapku semangat. Aku harus melupakannya.
"Ayo Non" terdengar suara bibi yang senang. Dia mulai mengarahkanku ke taman belakang rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darkness
RomanceDarkness, itulah kata yang tepat untuk mendiskripsikan hidupku. Aku buta secara fisik, namun tidak hatiku. Instingku selalu mengatakan hal yang benar, itulah kata kakakku. Aku hanyalah seorang gadis buta yang dimanfaatkan seorang pria kejam untuk me...
