1 bulan kemudian
Pagi hari
Di kantor
Beberapa orang telah berkumpul di suatu ruangan meeting sejak satu jam yang lalu. Semua orang di sini adalah orang berpengaruh dan berkumpul demi kepentingan.
Tak terkecuali seorang pria berparas tampan pemilik perusahaan real estate yang mencakup kawasan komersial, industri, perumahan dan banyak bidang lainnya yang sedari tadi mempersentasikan proyek kerjasamanya dengan perusahaan Wijaya Group.
Seorang pria yang telah menorehkan prestasi dalam mencapai kesuksesan dan membuat perusahaannya terdaftar sebagai perusahaan properti terbaik di Indonesia dan sedang merambah ke Internasional.
Kesuksesan yang telah dicapainya sampai saat ini tidak membuatnya surut dalam menjalin kerjasama lagi dan lagi.
Tepuk tangan riuh didapat oleh pria itu setelah selesai memaparkan poin poin penting di layar slide tersebut.
"Good job, best presentation Mr. Megara" ujar seorang pria sambil berdiri menepuk tangan.
"Thank you" pria yang sedang dipuji tersebut ikut tersenyum.
"Okay Mr. Megara, we accept your cooperation. Being the best partner" ujar seorang pria lain sambil mengulurkan tangannya.
"Thank you Mr. Wijaya, I hope so" ujar pria itu sambil berjabat tangan.
Setelah selesai, Aldean kembali ke ruangannya bersama Ricky sahabatnya yang mencakup sebagai teman kerjanya juga. Dua sejoli yang sedari tadi menyembunyikan kepribadian aslinya di ruang meeting demi mendapat sebuah kata wibawa, kini sedang menumpahkan kebahagiaannya di ruangan sang pemilik perusahaan tersebut.
"Wow, well done bro" kata Ricky sambil mengetos tangan sahabatnya kegirangan.
"Yeahhh, thank you bro, makasi juga buat kerja keras lo " ujar Aldean sambil tersenyum bahagia.
Setelah euforia kebahagiaan itu sedikit surut, mereka duduk di sofa di dalam ruangan tersebut. Perbincangan ringan terjadi diantara mereka.
"What's next?" tanya Ricky sambil mengambil minuman di kulkas.
"Cerai" jawab Aldean singkat sambil tersenyum penuh arti. Pria itu kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi dan menaikkan sebelah kakinya ke kaki yang lain.
"Perceraian siapa?" Ricky bertanya sambil mengkerutkan dahinya.
"Perceraian gue sama wanita buta itu" jelas Aldean.
"Enggak boleh, terlalu cepat menurut gue" kata Ricky menatap Aldean serius.
"Cepat apanya bro, sudah satu tahun lebih, benar benar di luar prediksi kita di awal" jelas Aldean.
"Memangnya kalau sudah resmi bercerai, Tiara mau diantar kemana?" Tanya Ricky tetap dengan wajah serius seperti tadi.
"Ngapain diantar? Usir aja dari rumah gue, selesai" Aldean berkata polos tanpa bersalah.
"Ga, gue ga setuju, sadis lo Yan, dia itu wanita, punya keterbatasan fisik lagi, masa iya lo tega mencampakkannya setelah kepentingan lo selesai" Ricky berkata sesuai hatinya. Dia tidak habis pikir dengan pria di hadapannya tersebut.
"Bukan urusan gue lah, masih baik ga gue bunuh, dan ingat gue ga butuh persetujuan dari lo." Aldean tersenyum sadis sambil melihat ke arah luar jendela.
"Yan liat gue, gue akui gue adalah pria bejat. Dan asal lo tau, bejat gue hanya sekedar prilaku nakal ke cewek. Tapi kalau yang namanya perasaan, gue masih punya. Gue masih punya adik perempuan, gue ga bisa ngebayangi kalau adik gue berada di posisi Tiara saat ini, melihat perlakuan jahat lo" Ricky berkata cukup serius di hadapan Aldean sambil berdiri.
"Itukan lo, bukan gue. Dan gue peringatkan gue ga punya adik perempuan" Aldean kembali menantang mata Ricky sahabatnya. Tidak terima mendapat nasihat seperti itu membuatnya berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan ruangannya itu.
"Yan.. Dengar gue dulu.. Yan" Ricky mengejar sahabatnya itu. Tapi Aldean berlari cukup cepat meninggalkan ruangan.
"Mengapa lo sangat keras kepala Yan" gerutu Ricky terdiam meratapi kepergian teman sedari kecilnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darkness
RomanceDarkness, itulah kata yang tepat untuk mendiskripsikan hidupku. Aku buta secara fisik, namun tidak hatiku. Instingku selalu mengatakan hal yang benar, itulah kata kakakku. Aku hanyalah seorang gadis buta yang dimanfaatkan seorang pria kejam untuk me...
