Good Evening Guys😍
Update part Alert!!!!!
Vote & comment nya aku tunggu ya
Thankk you 😘
Matahari mulai menerangi semesta. Cahaya terasa semakin menghangat kala detik demi detik berlalu. Dari balik jendela, cahaya menyelinap masuk saat tirai tersibak sedikit di kamar mewah tempat seorang wanita terlelap. Tiara mengernyit saat merasakan sinar itu menyentuh wajahnya lalu merasakan kehangatan di sana. Dia lalu terbangun.
Perlahan mata itu terbuka menampilkan sepasang iris mata yang sangat indah. Iris mata berwarna coklat dan hijau yang menyatu menjadi warna hazel. Mata tersebut semakin menambah kesan sempurna dengan bulu mata lentik menghiasi kelopak matanya.
TIARA POV
Mata ini sudah sukses terbuka, namun nyawa ini belum sepenuhnya terkumpul. Aku bangun dari tidurku perlahan lahan sambil memegang perut ini lalu mulai duduk bersandar di kepala tempat tidur. Menyapa janin ini setelah bangun tidur sudah menjadi rutinitasku. Aku tersenyum membayangan rupanya yang akan hadir ke dunia.
Pendingin udara kamar ini sengaja aku matikan dari kemarin agar tubuhku secara alami bisa berkeringat. Dan benar saja, sekarang keringat sudah membasahi tubuhku. Itu artinya aku sudah mulai membaik. Aku tersenyum bersemangat ingin memulai aktivitas lagi.
Aku mulai bergegas membersihkan diri. Selesai mandi dan berpakaian, aku berjalan menuju dapur. Mulai hari ini, aku tidak ingin merepotkan bibi lagi, sudah cukup aku merepotkannya selama beberapa minggu belakangan ini. Syukurnya, kamar tempat aku beristirahat saat ini tidak terlalu jauh menuju dapur sehingga tidak mempersulitku untuk berjalan.
Aku telah sampai di meja makan kemudian duduk di salah satu kursinya. Telinga ini menangkap suara seseorang yang sedang sibuk di dapur. Siapa lagi kalau bukan Bi Minah.
"Bi, Bibi sedang masak apa?" Aku berkata sambil menuang air minum ke dalam gelas di tanganku.
"Non Tia???" Suara Bi Minah sedikit terkejut. Bibi berjalan ke arahku lalu kurasakan tangannya menyentuh pundak dan dahi ini. "Non Tia mengapa ke dapur, Non? Biar Bibi saja ke kamar Non mengantarkan sarapan" nada suara wanita itu terdengar sangat khawatir.
Aku menarik nafas ini. "Aku sudah sehat, Bi. Bibi ga usah khawatir. Sudah mendingan" aku tersenyum.
"Iya Bibi tahu, tapi kan-"
Aku menggenggam erat tangan Bibi, perkataan wanita itu terputus.
"Shutttt, ga apa apa Bi" ucapku mengelus tangan Bibi kembali sambil meyakinkannya.
"Bibi masak apa? Harum sekali" aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
Bibi menghela nafas berat. Sepertinya Bibi tahu aku mengalihkan pembicaraan dan beliau memilih untuk tidak berdebat denganku.
"Masak opor ayam, makanan kesukaan Non" Dia memegang pipiku lembut "Non, mau makan sekarang? Biar Bibi siapkan" tanyanya.
Aku mengangguk antusias.
"Tunggu sebentar ya Non" Bi Minah meninggalkanku. Aku mulai meneguk segelas air yang sudah aku tuang tadi. Setelah selesai aku meletakkannya di atas meja. Aku masih menunggu Bibi dan semakin merekatkan sweeter di tubuh ini.
Tidak lama, Bi Minah terdengar datang mendekat kearahku lalu duduk di kursi sebelah.
"Ayo Non dimakan, ini sudah Bibi siapkan. Mulai hari ini Non Tia harus makan yang banyak" ujarnya.
"Iya Bi" aku tersenyum.
Bibi menuntun tangan kananku untuk terbuka lalu memberikan sesuatu yaitu sebuah sendok makan "Ini sendoknya, Non" lanjutnya. Hal itu sudah biasa dilakukan oleh Bibi padaku ketika hendak makan. Beliau tahu bahwa aku tidak suka disuapi dan lebih memilih untuk melakukannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darkness
RomanceDarkness, itulah kata yang tepat untuk mendiskripsikan hidupku. Aku buta secara fisik, namun tidak hatiku. Instingku selalu mengatakan hal yang benar, itulah kata kakakku. Aku hanyalah seorang gadis buta yang dimanfaatkan seorang pria kejam untuk me...
