TIARA POV
Aldean menarikku dengan paksa lalu membawaku masuk ke dalam mobil. Aku benar benar takut. Di sepanjang perjalanan aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan janinku.
Setelah sampai, dia kembali menarikku keluar dari mobil dan tibalah aku di ruangan yang cukup asing di rongga penciumanku. Atmosfer ruangan ini cukup mencekam menurutku.
"Gugurkan kandungannya" Aku mendengar seorang pria yang tak lain adalah suamiku berkata kepada seseorang. Sontak air mata jatuh dari sudut mata ini pertanda pertahananku telah hancur. Nafasku terengah memahami seorang pria yang ingin melenyapkan benihnya sendiri. Dengan ringannya dia mengatakan hal itu.
"TIDAK, tidak akan ada yang bisa menyakiti anak ini. Aku ibunya, aku yang mengandungnya, kalian tidak berhak atas dirinya." Aku berlari menjauhi ruangan ini, namun tiba tiba sepasang tangan pria yang aku yakini adalah tangan ayah dari anak ini telah menggenggam dan menarikku untuk berbaring di ranjang. Aku mencoba memberontak, tapi tidak bisa tenaga dia jauh lebih besar.
"Mas tolong jangan lakukan ini, dia darah daging kamu, dia bagian dari diri kamu." Aku memohon dan mencoba menghentikan suamiku berharap masih tersisa kebaikan di hatinya. Namun dia tidak merespon ucapanku.
Seorang wanita datang lalu menyuruhku untuk meminum segelas air yang berada di tangannya. Aku yakin itu adalah minuman perangsang.
"Ayo diminum" Wanita itu memaksa membuka mulutku, tapi aku tetap menutup mulut ini dengan kencang.
"MMMMMPPPPPP" tangis, marah kecewa bercampur di diri ini. Aku meronta ronta sambil menangis mencoba menyingkirkan minuman itu dariku. Dan dikarenakan kegusaranku, gelas itu terjatuh dan pecah.
...PRAKKKK...
"Mas tolong aku, hentikan dia" aku mencari jemarinya lalu ku genggam mencoba meminta belas kasih darinya. Tapi dia tetap tidak memperdulikanku. Dia masih sama tidak mengatakan apapun.
Wanita itu datang lagi dan menyuruhku meminumnya atau lebih tepatnya memaksa.
"Ayoo diminum, jangan sampai gelas ini terjatuh lagi" jelas wanita itu.
Aku masih tetap sama, tidak membuka mulutku dan menutupnya semakin kuat.
"MMMMPPPPP"
"MINUM!!!" perintah wanita dihadapanku ini. Suamiku bahkan membantu wanita ini dengan mencengkram rahangku. Namun lagi lagi mulutku tertutup dengan rapat. Mereka kesulitan membukanya. Aku memberontak dan mencampakkan gelas itu lagi.
...PRAKKK...
Gelas kembali pecah karenaku.
Tidak lama kemudian gelas ketiga kembali datang dan mereka melakukan hal yang sama seperti tadi. Aku tetap menutup mulut ini dan memberontak hebat.
Aku mencoba menepis gelas itu lagi, tapi sepertinya mereka tahu dan menahan tanganku. Mereka membuka paksa mulutku dan berhasil. Lalu terburu buru menuangkan minuman racun itu ke mulutku. Aku terus meronta dalam tangisku dan dengan beraninya mengeluarkan dan memuntahkan semua cairan yang memenuhi mulutku itu. "HUEKKKK" semua cairan sukses jatuh ke lantai. Dan gelas tersebut juga berhasil kujatuhkan.
...PRAKKKK...
Tapi tiba tiba...
PLAKKK...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku seiring dengan gelas yang terjatuh. Kepala ini terasa pusing akibat tamparan itu. Amis terasa dari sudut bibirku ini.
Suamiku menamparku lagi? Aku semakin menangis menyadarinya.
"BODOHH!!! Kau menjatuhkan gelasnya lagi" nada suara pria itu meninggi. Aku semakin sesak menahan amarah di dalam diri ini.
"YA AKU MEMANG BODOH MAS, AKU TAHU, KAMU TIDAK PERLU MENGATAKANNYA LAGI. NAMUN SATU HAL YANG AKU SESALI, KAMU LEBIH SAYANG DENGAN SEBUAH GELAS DIBANDINGKAN NYAWA ANAK KAMU SENDIRI" Aku berteriak padanya. Ini pertama kalinya aku meneriaki suamiku. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku menangis meratapi nasibku.
Emosiku semakin memuncak.
"DAN UNTUK KAU PEMBAWA MINUMAN, AKU TAU KAU SEORANG WANITA, DIMANA PERASAANMU SEBAGAI SEORANG WANITA MELIHAT WANITA LAINNYA SEDANG MEMPERTAHANKAN JANINNYA SEDANG DIRIMU MEMBANTU MELENYAPKANNYA. DIMANA PERASAANMU ITU?"
Aku menangis terisak saat ini. Tidak ada yang menolongku, ayah anak ini bahkan mendukung perbuatan keji tersebut.
Tangan kananku kini beralih memegang perutku. Mama kuat di sini nak, kamu jangan khawatir ya. Mataku mendadak memanas dan mulai meneteskan cairan bening.
Doakan mama sayang, supaya kita bisa keluar dari ruangan ini dengan selamat. Aku menangis semakin menjadi jadi.
"Hiksss, dan kamu mas, kamu pasti memiliki seorang ibu, dimana perasaanmu jika ayahmu ingin melenyapkanmu semasa kau masih berada di rahim ibumu, sedangkan ibumu berjuang sendirian mempertahankanmu? Bagaimana perasaanmu? Begitulah perasaan janin ini sekarang." aku mengelus perut datarku.
Aku tidak tahu sudah berapa banyak air mata yang aku keluarkan sejak tadi. Lama mereka terdiam.
"Kamu aman bersama Mama sayang, tidak ada yang boleh melenyapkanmu" Aku mengelusnya lagi, air mata kembali jatuh dari sudut mataku. "Mama tahu, kamu sedang sedih saat ini sama seperti Mama, Mama bisa merasakannya, tapi Mama mohon kamu kuat di sana ya nak. Kita berjuang bersama sama. Mama yakin kamu bisa melihat dunia"
Kupejamkan mataku merasakan kesedihan ini. Jika aku bisa memutar waktu dan memilih, lebih baik aku tidak menikah kontrak dengannya, jika pada akhirnya ada nyawa yang harus dikorbankan, seorang makhluk kecil tidak bersalah. Lama aku menangis dan aku tidak tahu di mana mereka.
.
.
.
.
"Ayo kita pulang" kata pria itu.
"Pulang?" Tanyaku, tanpa mendengar jawaban dari pertanyaannya itu, aku langsung berdiri dan berjalan menjauhi ruangan itu.
Aku kemudian memasuki mobil milik suamiku. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya menyuruh kami pulang. Tapi aku ingin berterimakasih padanya. Aku mencoba mencari keberadaan tangan suamiku. Setelah dapat, kugenggam tangannya kemudian kukecup.
"Terimakasih mas"
ALDEAN POV
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, sesekali aku memperhatikan wanita itu dari posisi kemudi. Dia tertidur cukup pulas.
Butir butir keringat membasahi anak rambut di sekitaran wajahnya. Bekas air mata yang telah mengering juga terlihat jelas sana.
Aku menurunkan suhu AC mobil supaya dia lebih nyaman dalam tidurnya. Sesekali terdengar sesenggukan khas anak kecil dengan pola teratur dari mulutnya akibat tangisnya tadi.
Mata itu terlihat sembab dari biasanya. Dia sering menangis ketika bersamaku namun aku belum pernah melihatnya menangis dengan sangat terpukul seperti tadi. Sebegitunya dia menginginkan dan mempertahankan janin itu.
Tadi aku sangat bersikeras ingin melenyapkan janin itu dan aku bahkan menampar dirinya yang lagi lagi memecahkan gelas minuman. Aku menarik tangan kiriku dari kemudi kemudian melihatnya.
"Tangan ini yang menampar dirinya tadi" tidak tahu mengapa aku merasa sedikit sedih.
Ku perhatikan lagi wajahnya, terdapat bekas merah di pipi kanannya dan sedikit darah di sudut bibirnya. Hatiku sakit. Tapi tidak tahu sakit apa ini.
Aku kembali fokus ke perjalanan. Saat ini ada kata kata dari dirinya yang masih terngiang jelas di ingatanku. Kata itu yang akhirnya membuat diriku untuk membawanya pulang tanpa melanjutkan menggugurkan janin itu. Aku terdiam.
Dan kamu mas, kamu pasti memiliki seorang ibu, dimana perasaanmu jika ayahmu ingin melenyapkanmu semasa kau masih berada di rahim ibumu, sedangkan ibumu berjuang sendirian mempertahankanmu ? Bagaimana perasaanmu? Begitulah perasaan janin ini sekarang.
Aku terhenyak dengan kata kata tersebut. Aku bahkan tidak menyadarinya.
"Bagaimana ini, bantu aku Ma apakah aku tetap pada egoku atau mempertahankannya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Darkness
RomanceDarkness, itulah kata yang tepat untuk mendiskripsikan hidupku. Aku buta secara fisik, namun tidak hatiku. Instingku selalu mengatakan hal yang benar, itulah kata kakakku. Aku hanyalah seorang gadis buta yang dimanfaatkan seorang pria kejam untuk me...
