01 : Accident

25.6K 1.9K 156
                                        


Choi Soojae menginap dan tinggal di desa kecil yang terletak di kaki gunung bersama sepupunya. Tidak pernah terpikir oleh Soojae bahwa ia bisa berada di sana. Di desa yang terpencil dan jauh dari segala kemewahan kota. Desa yang tidak memiliki aliran listrik, tapi mampu membuat penduduknya hidup dengan rukun.

Sebenernya ia tidak begitu ingin ada di sana, tapi Hoseok terus memaksa agar ia ikut andil dalam perjalanan itu. Bukannya tanpa alasan. Hoseok tahu, Soojae terlalu banyak bekerja di dunia yang penuh tekanan. Soojae terlalu mengejar target dalam dunia kerjanya, menekan dirinya pada standar yang tinggi.

"Aku akan sangat merindukanmu," kata Hoseok sambil tersenyum.

"Kau berlebihan sekali, dasar tukang paksa."

Mereka berjalan beriringan di antara jalan setapak yang di sisi kanan dan kirinya diapit sawah. Sunggup Pemandangan yang sangat jarang ditemui di tengah kota. Biasanya, pagi-pagi begini ia melihat orang-orang berlalu-lalang yang hendak pergi ke tempat kerja. Keputusannya untuk datang kemari sudah tepat, ya Soojae sadar. Ia seharusnya pergi ke tempat ini jauh-jauh hari yang lalu, tetapi mau bagaimana lagi. Ini tuntutan pekerjaan, ia harus profesional dan menjalani semua pekerjaan sepenuh jiwa dan raga.

"Omong-omong, kau benar-benar akan pulang sekarang ini?"

"Ya, begitulah Oppa. Aku harus bekerja seperti biasa. Restoranku terbengkalai, aku tidak bisa meninggalkan tempat yang sudah kubangun susah payah terlalu lama. Kasihan Jira, dia pasti banyak mengalami kesulitan sendiri."

Mendengar hal tersebut, Hoseok mendecak lidah. "Kerja lagi, kerja lagi. Tidak bosan memangnya? Jelas-jelas di sini lebih asyik. Benar, bukan?"

Soojae menganggukkan kepalanya, itu ungkapan yang benar. Soojae sangat suka tempat ini, meskipun pada awalnya ia sudah berpikiran buruk. Berpikir bahwa ia tidak akan pernah bisa tinggal di desa, tapi pada akhirnya ialah yang langsung jatuh cinta dan tidak ingin pulang.

Belum lagi para penduduk desa di sini sangat ramah dan beradab. Mereka mempunyai adat yang unik. Membuat beberapa kamera miliknya terisi penuh oleh gambar-gambar para penduduk beserta kegiatannya yang unik.

"Besok saja, bisa, 'kan?" bujuknya lagi.
Soojae buru-buru menggelengkan kepalanya, membuat kepangan rambut sepinggulnya bercambuk-cambuk seperti ekor sapi.

"Tidak, hari ini aku harus pulang. Toh, Oppa punya banyak teman di sini," kata Soojae sambil terus melangkah.

"Tapi tidak akan seru kalau kau pulang."

"Aku harus pulang, Oppa." Soojae peluk abang sepupunya itu. Hoseok akhirnya pasrah dan hanya tersenyum samar. Pria itu merasakan hatinya terus berkata untuk tidak membiarkan gadis manis itu  pergi.

"Kumohon, pulangnya minggu depan saja," bujuk Hoseok sekali lagi. Ia masih belum bisa menerima keputusan gadis itu.

"Tidak bisa, aku harus pergi." Soojae berkata tegas, lalu berkacak pinggang. Bukan Soojae namanya kalau ia langsung menurut dan tidak keras kepala.

"Ah, yasudah terserah. Kau pasti akan menyesal karena meninggalkan tempat ini," kekeh Hoseok. Lalu, merangkul Soojae sekali lagi.

"Baiklah, aku pamit pulang, Oppa. Aku akan menjelaskan pada pacarmu, kalau kau masih ingin ada di sini. Selama menikmati hari libur. Aku pergi."

Sementara Soojae sudah memboyong tas besarnya di punggung, Hoseok berkata, "Aku akan sangat merindukanmu, Soojae."

"Kau sudah mengatakannya berulang kali!" Hoseok terbahak ketika Soojae mengacungkan jari tengahnya.

"Nona, apa tidak ada yang tertinggal lagi?" Saat Soojae menghampiri mobil. Paman Han langsung menyambutnya.

"Paman Han, hati-hati di jalan," kata
Hoseok sambil tersenyum lebar sekali.

[KTH] My Patron ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang