Setelah malam itu, Soojae menolak memikirkan apa pun yang dikatakan Taehyung. Hubungan mereka merenggang dan tegang seperti senar gitar. Entah karena apa, Soojae menyadari Taehyung sengaja menjaga jarak darinya.
Dua hari berikut hanya diisi oleh obrolan-obrolan singkat, menolak menatap satu sama lain dan berbicara soal keintiman malam itu. Sejak kapan mereka menjadi begitu jauh? Soojae tidak tahu dan tidak tahan melalui sisa hari berikutnya dengan terus berdiam diri atau ia akan menggila seperti kera.
Taehyung menolak menyentuh dan terlibat pembicaraan apa pun dengannya. Soojae dongkol sampai lambungnya terasa perih.
Jadi, dengan tekad berkobar-kobar. Ia mengikuti Taehyung ke lumbung untuk membicarakan beberapa hal dengannya.
"Apa aku boleh masuk?"
"Kau tidak perlu meminta izin."
Soojae masuk melalui pintu kayu dan menengadah menatap Taehyung. Pria itu sedang memberikan Jack segenggam rumput segar dan air minum dari ember kecil.
"Aku ingin bicara denganmu, Taehyung."
Tanpa menatap Soojae, Taehyung berkata, "Katakan saja."
"Kau sungguh tidak sopan!" Soojae mengulurkan tangan. Mencengkram lengan Taehyung yang menonjolkan otot dan urat-urat seksi.
"Apa yang kau maksud tidak sopan?"
"Kau! Kau tidak mau menatapku!"
Saat berbalik menghadap Soojae. Mata Taehyung gelap oleh kesendirian. Soojae mundur ke belakang sampai punggungnya menabrak istal kuda. Siapakah pria ini? Soojae menelan kesedihan di dalam hati. Pria di hadapannya bukanlah pria yang kemarin lalu telah menyelamatkannya dari seorang monster. Pria ini bukan pria yang beberapa malam lalu hampir bercinta dengannya.
Pria ini terlalu asing, dingin dan sangat menjaga jarak. Hati Soojae perih bagai diiris. Taehyung telah kembali membangun tembok tinggi yang sudah susah payah Soojae robohkan. Ia telah kehilangan Taehyung, sorot mata pria itu terlalu dingin dan kejam sampai membuat tubuhnya menggigil ketakutan.
"Apa yang ingin kaukatakan?"
"Aku ingin mengatakan kalau aku tidak sudi ada di sini terlalu lama. Bawa aku pulang!"
"Baguslah," katanya serak. Lalu, berpaling menatap Jack.
"Besok pagi kita berangkat."
"Besok?" Tenggorokan Soojae tersekat oleh kepahitan. Membayangkan dirinya pergi meninggalkan pondok dan Taehyung membuat perut Soojae mual dan sakit.
"Siapkan semua barang-barangmu untuk dibawa."
"Aku tidak punya banyak barang, tapi aku akan bersiap-siap." Soojae menahan agar matanya tetap kering, tetapi ketika mengingat betapa mudahnya Taehyung setuju, Soojae meneteskan air mata.
"Bagus, karena lebih cepat kau pergi dari sini, akan lebih baik."
"Teganya kau berkata begitu, Taehyung. Teganya kau mengatakan itu setelah apa yang kita lalui bersama!"
Saat Taehyung kembali berpaling menatap Soojae, wajah pria itu datar tanpa ekspresi. "Kebersamaan kita akan segera berakhir begitu kau pergi dari sini. Jadi lupakan sajalah. Bagiku itu tidak ada apa-apanya."
Ucapan Taehyung begitu ringan, tapi menancap dalam-dalam di jantung Soojae. Gadis itu menggigit lidah agar tangisnya tak terdengar jadi lebih keras. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan dan menarik napas.
"Kau benar. Hubungan kita terjadi ketika aku datang ke sini, hubungan itu juga akan berakhir begitu aku pergi."
"Kau gadis yang cerdas."
KAMU SEDANG MEMBACA
[KTH] My Patron ✔
FanfictionChoi Soojae tumbuh dan besar dalam dunia gemerlap kota Seoul. Saat mengalami kecelakaan tragis itu, ia diharuskan bertahan hidup di hutan yang tak pernah terjamah oleh manusia. Dalam keadaan yang tidak berdaya, Kim Taehyung datang menyelamatkannya...
![[KTH] My Patron ✔](https://img.wattpad.com/cover/177055408-64-k508428.jpg)