Ketika kebutuhan mengalahkan
rasa gengsi.
Taehyung menyeka keringat di dahi, menengadah menatap awan mendung di langit. Tidak lama lagi hujan akan turun. Buru-buru ia selesaikan kegiatan membelah kayu. Rintikan air hujan terjun membasahi tubuhnya yang hanya terbalut kemeja dan celana pendek selutut.
Sambil berlari ke dalam pondok, ia membuka pintu pondok. Langkahnya lebar-lebar saat ia beranjak untuk mengambil selembar kain dari tumpukan pakaian. Disampirkannya handuk kasar itu ke bahu, tanpa memedulikan sepasang mata cantik yang kini tengah memerhatikannya.
Dari ujung matanya, jelas sekali Taehyung bisa lihat kalau gadis itu nampak sangat kesakitan dan kelelahan. Saat ia terang-terangan menatap wajahnya. Mendadak pipinya si gadis berubah merah, tatapan matanya sungguh sayu, seperti gadis yang kelelahan karena seharian bercinta. Betapa seksi bibirnya dan betapa cantiknya gadis itu meski wajahnya pucat pasih. Membuat Taehyung menyumpah-nyumpah di dalam hati.
Tersadar karena ia sudah berpikir tak karuan, dengan marah ia melangkah ke sisi lain pondok untuk membersihkan diri. Pondok miliknya hanya terbuat dari papan-papan kayu ek, atapnya terbuat dari lapisan dedaunan palem kering. Hanya ada dua ruangan di sana. Satu ruangan besar untuk kamar tidur sekaligus dapur, ia mengubah beranda belakangnya menjadi lebih tinggi dan membuat semacam kamar mandi kecil. Setiap akan melakukan kegiatan bersih-bersih, ia harus bolak-balik mengisi bak mandi dari dalam sumur batu tua.
Saat ia sudah selesai memakai celana dan sedang memasukan kemeja bagian belakangnya ke ban pinggang, Soojae menatapinya dengan aneh. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi bukan itu yang mengganggu Taehyung. Melainkan betapa menggodanya gadis tidak berdaya itu.
5 tahun, 5 tahun ia sudah tinggal di pondok ini. Selama waktu itu berlalu, sekiranya setiap 6 bulan sekali ia pergi ke perkampungan. Ia mendapatkan uang dengan menjual kulit dan bulu-bulu binatang hasil buruannya. Selama 5 tahun, ia tidak pernah berhubungan dengan seorang gadis, dan atau menyewa jalang untuk memuaskan hasratnya.
Ia memang beberapa kali melihat seorang gadis, tapi tidak secantik gadis yang tengah berbaring di tempat tidurnya. Sebenarnya, untuk ukuran pria yang selama ini hanya tinggal hutan, seorang gadis tidak perlu cantik untuk bisa membangkitkan minatnya. Kendati begitu, ini pertama kalinya ia merasa sangat terancam pada seorang gadis yang bahkan tidak bisa apa-apa.
"Apa yang kau lihat?" kata Taehyung dengan nada marah, lalu menyelesaikan kegiatan memakai pakaiannya. Begitu benar-benar selesai, Taehyung mendekat. Membuat Soojae menahan napas ketika torso si pria berjongkok di sisi tubuhnya, Soojae hanya membisu, ia dapat dengan jelas mendengar napas Taehyung di dekatnya.
"kau takut denganku?"
"T-tidak. Mana mungkin."
"Oh, ya?"
"Ya!"
"Dasar gadis pembohong!"
"Jangan membentak-bentak aku!" balas Soojae tak kalah sengit, Taehyung menyeringai, lalu sengaja mendudukan bokongnya di dekat Soojae. Tangan kekarnya menyibak selimut, mengangkatnya hati-hati. Pria itu mulai membuka bebatannya seperti tadi pagi, menatapi luka tersebut dengan seksama.
"Lukanya sudah kering, tidak bengkak juga. Beruntunglah, tidak mengalami infeksi."
Taehyung membuang kain bekas bebat itu ke sudut ruangan. Netra tajamnya tertuju pada bagian perut Soojae. Dada gadis itu naik turun-naik dengan ringan, napasnya teratur.
KAMU SEDANG MEMBACA
[KTH] My Patron ✔
Fiksi PenggemarChoi Soojae tumbuh dan besar dalam dunia gemerlap kota Seoul. Saat mengalami kecelakaan tragis itu, ia diharuskan bertahan hidup di hutan yang tak pernah terjamah oleh manusia. Dalam keadaan yang tidak berdaya, Kim Taehyung datang menyelamatkannya...
![[KTH] My Patron ✔](https://img.wattpad.com/cover/177055408-64-k508428.jpg)