02 : Breath

14.3K 1.7K 185
                                        

Hujan turun dengan deras, seakan tidak ada kesempatan bagi siapapun untuk berkeliaran sembarang. Hewan-hewan masuk ke dalam sarang untuk saling menghangatkan, sementara Soojae menggigil kedinginan, bibirnya pucat, seluruh tubuhnya lemas tak berdaya. Energinya bagaikan terserap sesuatu yang tak terlihat. Ia payah dalam urusan bertahan hidup di hutan, lebih baik mati jika begini jadinya, sekarang, ia malah merasa semakin tersiksa.

Soojae tidak tahu sudah berapa lama hujan turun. Satu jam, dua jam atau bahkan tiga jam. Soojae tidak tahu pasti, yang ia ingat, sekiranya ada 15 kali petir menyambar dengan suara keras, yang membuat ia ketakutan setengah mati. Semua karena kejadian itu...

Shock akibat kecelakaan, Soojae hanya diam terpaku di bawah sebuah pohon. Langit musim hujan gelap tanpa bintang dan bulan.
Di dalam hati kecil Soojae. Gadis itu ingin sekali menangis sambil peluk tubuh sepupunya, Hoseok. Meminta kata-kata bijak yang sering Hoseok ucapkan atau sekedar dongeng ketika ia akan pergi tidur. Soojae tidak tahu seperti apa reaksi sepupunya yang cerewet itu--begitu tahu kabar ini, nantinya.

Hanyut dalam lamunan, ternyata hujan mereda lebih cepat dari perkiraan, seakan ia mengerti pada keadaan Soojae yang malang. Gadis berprofesi sebagai chef itu bernapas lega, menghasilkan uap air di udara. Bersandar di batang pohon besar Soojae memeluk tubuhnya yang basah kuyup. Ya Tuhan, apakah ia masih bisa bertahan hidup lebih lama?

"Aku jadi menyedihkan begini," katanya dengan derai air mata, "Padahal, kalau di rumah aku paling menyebalkan."

Gadis itu masih belum bisa menerima semua yang terjadi padanya, rasanya mati memanglah satu-satunya jalan keluar agar terbebas dari tempat terkutuk ini, tetapi ada satu dorongan yang tidak membuatnya putus asa. Ia ingin membuktikan pada ayahnya. Membuktikan bahwa ia jauh lebih gemilang daripada Soohyun, kakak perempuannya yang berprofesi sebagai aktris.

"Ya tentu saja, aku tidak boleh mati di sini."

Soojae akhirnya membangkitkan tubuh dengan berpegangan dan menyandarkan sebagian beban tubuhnya pada pohon besar tersebut, sambil terseok-seok layak Zombie. Soojae akhirnya menentukan jalan yang ia pilih sendiri, kerusukan di gelapnya hutan. Membiarkan lengannya tergores cabang-cabang pohon, kaki telanjangnya tertusuk duri tajam. Tidak ada secercah cahaya. Soojae berjalan menurut instingnya, ia meraba lapis demi lapis pohon yang berdiri di hadapannya. Mungkin jika di depannya ada lubang atau jurang yang lebih dalam. Ia akan terperosok ke sana.

Tepat setelah empat atau lima langkah di depan. Terdengar gemerusuk semak. Seketika Soojae menghentikan langkah, selain kaki kanannya terasa mau copot, Soojae meremang ketakutan kala mendengar geraman seekor binatang. Ia tercekat, beberapa lolongan itu membuatnya ingin jatuh pingsan, terlalu dekat, sangat dekat.

Instingnya mengatakan untuk segera kabur dan berlindung, di mana pun, asalkan bisa selamat. Dengan langkah yang dipercepat ia berusaha mengenyahkan lolongan-lolongan. Pada akhirnya ia berhenti melangkah, seekor serigala menghadangnya di kegelapan. Menatap dengan sepasang matanya yang tajam, Soojae bisa dengar hewan itu menggeram, serigala itu memiliki ukuran besar dengan tinggi antara sepinggang pria dewasa. Cakar-cakar panjangnya mencengkram tanah, menyeringai dengan gigi-giginya yang tajam. Karena panik sekaligus terkejut, Soojae menjerit. Benar, ia sudah terlambat. Serigala-serigala itu berhasil mengepungnya. Menggeram, melolong keras, memanggil kawanan. Mereka datang karena mencium bau amis darah pada kakinya yang terluka.

"TOLONG!" Napasnya tercekat, suaranya menggema ke segala arah, yang ia dapati hanya kesunyian.

"Oh! Tuhan, selamatkan aku!" Teriak Soojae panik, ia terpincang-pincang ketika menerobos semak. Sampai kakinya tersangkut ranting kering. Tubuhnya terhuyung ke belakang, seekor Serigala menggigit ranselnya, ia berpegangan pada salah satu batang pohon dan lalu berusaha melepaskan jerat ransel dari tubuhnya. Ia terguling ke tanah untuk menghindari kawanan serigala.

"Aargh!" Soojae meraih sebuah cabang kering, ia menghunuskannya pada salah satu serigala yang berusaha mendekatinya. Dari arah belakang, serigala lain mendorong tubuhnya hingga jatuh tengkurap, sementara kaki besar hewan itu menekannya ke tanah, Soojae menjerit tertahan. Kuku-kuku tajam hewan itu tertancap kasar.

Soojae memberontak, hewan-hewan itu mengerubunginya. Berusaha menarik-narik tangan dan rambutnya. Soojae berbalik badan. Ia melawan dan berusaha menghempas jauh hewan-hewan itu.

"ARGH!" Hewan itu menggeram makin bringas, lalu salah satu pemimpin di antaranya melolong. Soojae hampir pingsan, kepalanya sakit dan kunang-kunang menari di atas kepalanya.

Apa ia akan berakhir sekarang, saat ini? Tapi semua yang di bayangkan Soojae tak kunjung terjadi, hingga telingannya menyambar suara letupan keras. Hewan-hewan itu mundur, berlarian menjauh.

Soojae membuka mata letih, mulutnya terbuka untuk meraup oksigen. Ia tersengal, paru-parunya nampak panas terbakar. Cahaya apa itu? Kenapa ia merasa sangat aman setelah melihatnya? Apa ia sudah tewas dan sedang pergi ke surga? Oh! Apa dia si malaikat penjaga pintu surga? Tapi kenapa wajahnya begitu kasar dan keras? Kenapa dia tidak tersenyum padaku? Kenapa dia...

"Jangan senang dulu," katanya kasar. Soojae terkejut hingga ia membuka mata lebar-lebar, benar, ia memang tidak salah dengar, sosok itu bukanlah malaikat, melainkan seorang pria berwajah menyebalkan tengah membungkuk tepat di dekatnya.

"Tolong..." Kepala Soojae tersandar lemas di dada pria itu saat ia ditarik dalam gendongannya.

"Tolong..." lirih Soojae, ia mencengkram mantel si pria dengan lemah. Pria itu, yang tadi menatap garang padanya. Menunduk untuk menatap wajahnya. Lebih dekat, lebih dekat sampai Soojae bisa rasakan napas pria itu di pipinya.

"Apa kau bisa menahannya?" Suaranya begitu berat, serak menghipnotis.

Soojae menatap sayu, ia mengangguk. Soojae benar-benar telah kehilangan kewarasan. Ia mengalungkan tangan pada leher si pria dan menenggelamkan wajahnya di mantel hangat pria itu.

Rasa aman dan nyaman menyelimutinya, seperti ia tengah berbaring di kasur hotel yang empuk. Tak lama setelahnya, terdengar umpatan-umpatan kasar dari mulut si pria, sampai Soojae berharap kalau ia salah dengar. []

10-Februari-2019 (revisi 25/Apr/21/Alim)

[KTH] My Patron ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang