Soojae sedang sibuk menekuri buku masakannya ketika Han Jira melangkah masuk dengan wajah tak berekspresi. Soojae seketika bangkit berdiri. Ia menatap gadis di seberangnya dengan tidak percaya, tetapi pun merasa sangat senang.
"Jira ...."
"Jangan senang dulu."
Langkah-langkah Soojae kontan terhenti. Niatnya untuk memeluk Jira segera urung ketika melihat tatapan dingin di mata gadis itu.
Tuhan! Soojae tidak tahu mengapa ia sangat sedih melihat perubahan sikap pada Jira. Adik kecil yang sangat ia sayangi. Apa yang terjadi? Apakah ... apakah Jira membencinya?
"Maafkan aku, Eonnie. Aku datang ke sini bukan untuk melakukan reuni denganku. Aku ke sini untuk ...."
Jira mengulurkan tangan, mendorong sepucuk amplop di atas meja. "Apa ini?"
Penasaran, Soojae meraihnya dan melihat. Raut di wajah gadis itu mengeras.
"Kau ingin mengundurkan diri dari sini?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin berhenti." Soojae mencengkram amplop itu dengan marah.
"Tidak bisa!"
"Aku mendapatkan pekerjaan baru."
"Kau akan meninggalkan tempat ini demi sesuatu yang tidak jelas? Kau menghilang selama beberapa hari. Kau membuatku dan teman-temanmu cemas. Sekarang kau datang hanya untuk ini?"
Jira memalingkan wajah.
"Aku akan kembali ke desa, besok pagi. Jadi, aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini. Sebelumnya aku ingin berterima kasih karena sudah mau memberikan pekerjaan ini untukku."
"Kau akan kembali ke desa?"
"Ya."
"Dengan siapa?"
"Aku punya peternakan kecil di sana. Aku akan membangun ulang rumahku dan ...."
"Lari dari sini?" tekan Soojae.
"Itu bukan urusanmu!"
"Jelas itu urusanku! Karena kau sudah seperti adikku sendiri. Jira ... aku sungguh ingin meminta maaf padamu."
Soojae melempar amplop itu, dan secara spontan meraih Jira. Dipeluknya gadis itu erat-erat.
"Ini semua salahku," bisik Soojae, lalu tangis keduanya terdengar.
"Ini semua salahku, kau ... seharusnya tidak mengalami semua ini.
Hal yang paling menakutkan bagi Soojae adalah ia akan ditinggalkan. Hancur, hatinya hancur ketika mendapati kenyataan bahwa Jira--yang sudah seperti adik baginya, menderita karena dirinya.
Jira harus menelan semua pil pahit itu karena ingin melindunginya, dan Soojae sudah muak hidup dalam penyesalan. Ia ingin membuat semua luka dalam diri orang lain sembuh, tetapi mengapa selalu saja gagal. Ia selalu saja mengacaukan semuanya.
"Eonnie ...." Jira terisak, wajahnya terbenam dalam lekuk leher Soojae. Napasnya gemetaran.
"Ini keputusan yang tepat."
"Tidak, Jungkook masih belum mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan padamu."
"Aku yang menginginkannya melakukan itu."
"Jungkook harus bisa kuseret ke meja hijau. Dia sudah menodaimu. Dia sudah merusak masa depanmu."
"Tidak, Eonnie. Kalau kau melakukannya, Jungkook akan menyakitimu. " Jira menggeleng. Air mata banjir di pipinya. Soojae menatap sepasang mata Jira dengan perasaan sakit hati. Teganya Jungkook melakukan hal itu pada gadis belia ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
[KTH] My Patron ✔
FanfictionChoi Soojae tumbuh dan besar dalam dunia gemerlap kota Seoul. Saat mengalami kecelakaan tragis itu, ia diharuskan bertahan hidup di hutan yang tak pernah terjamah oleh manusia. Dalam keadaan yang tidak berdaya, Kim Taehyung datang menyelamatkannya...
![[KTH] My Patron ✔](https://img.wattpad.com/cover/177055408-64-k508428.jpg)