08 : Again

11.7K 1.4K 166
                                        


    Siapa bilang Taehyung itu kejam? Siapa bilang Taehyung itu kasar?
Siapa bilang Taehyung itu galak? Oh ya ampun, tentu saja hanya Soojae yang bisa bilang begitu. Gadis lain mana tahu ada seorang pria berwajah tampan dengan kadar kekerasan yang paling mutlak semacam Taehyung tinggal di dalam hutan yang masih perawan. Mengasingkan diri dari dunia luar entah dengan tujuan apa. Ia cukup aneh dan unik.

Gemericik air hujan masih terdengar deras, memang tidak ada petir, tapi ada gemuruh yang berasal dari langit dan rintikan airnya. Matahari sama sekali tak mau timbul, sama sekali tidak berminat, atau memang sengaja melakukannya supaya gadis bertubuh mungil dengan air mata kering di pipinya itu tidak bisa berjauhan dari tubuh hangat lawan jenisnya.

Gadis itu merintih kedinginan, punggung polosnya tertusuk udara dingin, dan tangan kekar Taehyung otomatis merambat untuk mengurangi hawa dingin yang menerpa punggung tersebut.

"Hujannya tidak mau berhenti." Soojae mengatakannya sambil terpejam, ada nada sedih di intonasi kalimatnya. Taehyung tak goyah, ia diam dengan bibir terkatup rapat. Gadis itu galak dan menyebalkan, apalagi kalau mulutnya yang cerewet sudah memaki.
Wahh... sungguh, Taehyung ingin sekali menyumpalnya dengan jerami yang ada di lumbung belakang.

"Ini musim hujan, jadi wajar saja hujannya tidak mau reda. Kau ini penakut sekali! Dengan petir saja kalah." Kini giliran Taehyung yang angkat bicara, jemarinya ia mainkan di punggung bersih yang sudah polos tanpa benang sejak semalam. Soojae tidak mengatakan apapun, ia malah menempelkan wajahnya ke dada bidang polos milik Taehyung.

"Lupakan yang semalam, ya. Kau hampir-hampir memperkosaku," kata Soojae yang pipinya sudah bersemu merah.

Oke, jadi begini. Mereka sama-sama polos sekarang. Tidak, ya ampun jangan berpikir yang bukan-bukan. Sudah aku ingatkan, tidak ada yang seperti itu di sini. Mereka memang telanjang, tapi hanya setengah. Taehyung hanya membuka kaos belelnya, sementara Soojae hanya sisakan sehelai branya.

Ciuman memabukan yang semalam mereka lakukan adalah penyebab semuanya, belum lagi papan tempat mereka terbaring terasa dingin, hanya terlapisi karpet yang terbuat dari daun pandan besar yang dianyam lebar. Dingin dari bawah tanah mampu merasuk ke tulang-tulang lewat sana.
Tungku yang biasanya menyebarkan hangat pada seisi pondok tiba-tiba saja seperti tak berarti, apinya memanglah berkobar, tapi itu seperti hiasan saja.

"Ada sesuatu yang menyebabkanmu takut dengan petir?"

"Ya, rumit," Soojae bergumam lirih, bibirnya pucat, dan hidungnya masih merah. Ada lipatan pada dahi Soojae, gadis itu segera tengadah dan mendapatkan Taehyung tengah menatapnya lekat-lekat.

"Ceritanya panjang. Pokoknya itu mengerikan. Kau mana paham."

"Baik kalau kau tidak ingin mengatakannya. Simpan saja sendiri." 

"Kau cukup bijaksana karena tidak memaksaku."

"Ya, benar. Sama seperti ketika aku melepas pakaianmu."

"Kau menelanjangiku? Pantas saja dingin!" Soojae marah sekali, ia hendak bangkit dari tubuh Taehyung, tapi lagi-lagi Taehyung seakan tak pernah memberikan kesempatan barang sedetikpun.

"Kau yang mengundangku, aku hanya sedikit membantumu, ingat?"

Taehyung senang sekali bermain-main dengan Soojae. Ia melakukan semua itu bukan karena ia benar-benar menginginkannya, ah apa memang sebenarnya ia ingin? Ya, oke. Ia menginginkannya, tapi tidak sungguh-sungguh.

"Kau yang lebih dulu menciumku," kata Soojae, kedua bilah pipinya bersemu merah.

"Ya itu benar, tapi kau menyambutnya. Iya, 'kan?" Taehyung mengetatkan rangkulannya, kedua gundukan Soojae bahkan terhimpit di antar dadanya. Ya ampun itu sungguh membuat Taehyung ingin menyumpah-nyumpah dengan kasar.

[KTH] My Patron ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang