Pertama Kalinya

9.4K 797 21
                                        

"Tumben ada yang menemani Agatha ke sini" petugas UKS bernama Indira itu memberi susu kemasan dingin rasa stroberi.

"Makasih, kak" 

Gue panggil 'kak' karna dia kelihatannya masih muda banget. Selesai mengurus Agatha, Kak Indira duduk di mejanya dan fokus menatap layar laptopnya lagi. Agatha masih tidur dan gue duduk menunggunya sambil minum susu stroberi dari Kak Indira tadi.

"Sebenarnya aku kasihan banget sama dia" Celetuk Kak Indira tiba-tiba.

"Kenapa kasihan?"

"Dia sering ke sini sendirian, at least once a week. Kalau datang, pasti ada aja luka di tubuh atau wajahnya. Kalau aku lagi sibuk, dia sendiri yang mengobati lukanya. Kadang, juga izin tidur sebentar di sini"

Kak Indira melanjuti ceritanya, "Aku udah sering tanya kenapa dia selalu kayak gitu, tapi dia nggak mau jawab. Dia malah bilang sampai mohon-mohon minta aku nggak melapor hal ini ke semua guru. Katanya, masalah bisa semakin besar dan mungkin dia bisa-bisa dapat perlakuan lebih buruk lagi kalau sampai ada guru yang tahu"

"Tapi-"

"Posisi aku kecil di sini, cuma jadi petugas UKS dan bantu-bantu sekolah. Aku juga nggak bisa berbuat lebih. Aku takut yang dibilang Agatha benar. Mengizinkan Agatha pakai perlengkapan UKS dan tidur di sini, cuma itu bantuan yang bisa aku berikan"

Gue menatap Agatha lebih saksama. Ada memar baru di ujung bibirnya, pasti karna pukulan pagi ini atau saat istirahat tadi.

Pasti sakit banget.

Dari warna memarnya aja yang udah ungu kebiruan gitu membuat gue ngilu sendiri lihatnya. Dari bibirnya, tatapan gue sedikit naik ke kedua kelopak matanya yang tertutup. Tidurnya pulas banget.

Sebenarnya ada apa antara Agatha dan murid-murid gila itu?

"Ekki, bisa tolong bantuin aku obatin luka-luka di wajah Agatha?  Luka-luka yang sebelumnya udah aku obatin, tapi harus diobatin lagi biar lebih cepat sembuhnya. Aku mau ke toilet sebentar."

"Aku bisa kok, kak"

Kak indira menghela napas sambil tersenyum, "Aku berharap banget Agatha bisa punya teman untuk menemani dia di sekolah ini. Aku nggak tahu sebenarnya dia kenapa, tapi butuh fisik dan mental yang kuat untuk dia bisa lulus dari sekolah ini." Kak Indira memberi kapas dan obat merah ke gue.

Gue nggak menjawab ucapannya itu. Walaupun gue membantu Agatha tadi, bukan berarti gue mau jadi temannya. Lagipula gue nggak benar-benar sadar melakukannya tadi. Gue nggak mau jadi teman si cewe aneh yang dimusuhin hampir satu angkatan. Gue nggak mau masuk ke dalam masalah yang nggak jelas kayak gini. Gue cuma mau fokus sekolah dan cepat-cepat lulus.

Kak Indira udah pergi dan gue mulai mengobati luka di wajahnya sepelan mungkin biar tidurnya nggak terganggu. Udah pelan-pelan banget, tapi ternyata percuma. Nggak lama sejak gue mulai mengobati dia, perlahan dia membuka matanya dan langsung menjadikan gue sebagai objek pertama yang dilihatnya. Gue langsung cepat menjauh dan membereskan alat-alat  dari Kak Indira.

"Cuma gitu aja?"

"Hah?"

"Lu ngobatin gue cuma kayak gitu aja? Kenapa berhenti?"

"Lo nggak kaget ada yang lagi nyentuh wajah lo?"

"Lo kan lagi ngobatin gue, ngapain kaget? Lanjut aja"

Gue ngangguk-ngangguk kayak orang bego. Gue sedikit mencondongkan tubuh gue, mulai mengobati luka wajahnya lagi dengan kapas baru yang udah gue basahin pakai salap. Pelan-pelan gue mengusap luka-lukanya itu. Dia nggak meringis kesakitan sedikitpun dan tatapannya cuma tertuju lurus ke gue. Sial, gue panik ditatap tanpa ekspresi kayak gitu.

"Disuruh guru?"

"Iya"

"Makasih"

"Iya"

Setelah percakapan singkat itu, nggak ada obrolan lagi antara gue dan dia. Kita sibuk sama aktivitas masing-masing. Gue sibuk mengobati dia dan dia... masih aja sibuk menatap gue. Gue reflek gigit bibir gue sendiri. Gue sama sekali nggak tahu apa yang dia pikirin sambil natap gue kayak gitu.

Setelah gue mengobati semua lukanya, gue meletakkan perlengkapan obat di atas nakas dan gue lanjut minum susu stroberi yang masih sisa banyak. Gue menatap keluar jendela, nggak mau menatap Agatha yang gue nggak tau masih menatap gue atau udah nggak.

"Boleh minta nggak?" Gue langsung menoleh ke dia.

Saat gue mengulurkan kotak susunya ke dia, tiba-tiba Agatha menarik pelan tangan gue, otomatis membuat keseimbangan tubuh gue hilang.

Gue kira gue bakal jatu, tapi saat gue buka mata, pertama kali yang gue lihat wajah Agatha. Gue menelan kasar saliva gue sendiri. Tatap-tatapan dengan Agatha sedekat ini yang jaraknya mungkin cuma sejengkal. Posisinya nggak wajar banget tapi anehnya dia ataupun gue, sama-sama nggak ada yang bergerak sedikitpun untuk menjauh. ​Gue bingung harus gimana, jadi gue diam sambil menatap iris hitamnya. Padahal dari tadi gue berusaha menghindar untuk saling menatap dengannya, tapi sekarang gue malah menatap kedua bola matanya sedekat ini.

​Nggak tahu berapa lama gue menatap dia, tapi tangan Agatha malah semakin erat memegang tangan gue. Bukan cuma digenggam, tapi diusapnya juga dengan ibu jarinya. Nggak kayak gue, dia lebih berani menatap gue dan sama sekali nggak mengalihkan pandangannya kemanapun selain gue. 

Asli sih ini canggung banget. Mau menjauh tapi..

"Makasih...Ekki" 

"Ya" 

Dia akhirnya melepas tangan gue, "Kalau mau balik, sekarang aja. Gue nggak apa-apa. Gue nggak mau lo ketinggalan pelajaran cuma gara-gara gue aja" Kedua kalinya gue melihat senyuman tipisnya, tapi kali ini perut gue terasa aneh gitu, kayak ada rasa kesetrum dan menggelitik di dalam perut gue, tapi maksudnya apa ya? Gue nggak ngerti.

"Yaudah, cepat sembuh ya" Loh loh loh kenapa gue ngomong kayak gitu ke dia?  Sejak kapan gue perhatian selebay gitu ke orang lain? Apalagi sama orang yang nggak gue kenal kayak dia?

Sebelum keadaan ini semakin canggung, gue cepat-cepat keluar dari UKS. Semoga gue nggak bakal ngobrol sama dia lagi. Jangankan ngobrol, tatapan mata kayak tadi jangan sampai. Bahaya kalau gue sampai lihat senyumnya lagi.

TBC

You Make Me Melt (GxG)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang