"Eh gila! duh,,,,brantakan kan buku gue" omel Natasya refleks lalu memunguti buku-bukunya yang sudah tergeletak di lantai
"Njir apes banget sih gue" kata si cowo sembari berdiri tanpa berniat membantu mengumpulkan buku-buku Natasya yang jatuh
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara riuh teriakan anak-anak sedang terdengar di kantin sekolah, melihat dua orang laki-laki yang sedang beradu kekuatan otot, orang yang sekarang jadi tontonan adalah Bryan dan Dean, masalahnya berasal dari Dean anak XI IPA, pagi tadi dia melihat dina gebetannya memberikan coklat kepada Bryan karena terbawa emosi ia langsung mendatangi Bryan DKK di kantin lalu langsung beradu jotos Bryan yang tidak mengerti apa permasalahannya langsung membalas Dean, toh dia juga tidak mungkin diam.Tidak ada yang berani melerai mereka berdua, semua orang tau bahwa kalo sudah Bryan yang punya masalah sudah susah untuk melerainya setidaknya mereka juga berjaga-jaga agar dirinya tidak terkena pukulan. Setelah beberapa menit perkelahian itu suara riuh makin terdengar sangat keras, lalu ada salah seorang guru yang datang berhentikan perkelahian mereka.
"Stop!!!!" teriak Madya yang memasuki kantin Bryan dan Dean langsung terhenti karena suara teriakan guru BK itu.
"Kalian kenapa berantem?" tanya Madya tapi tidak ada yang membuka suara di antara mereka
"Sekarang ikut ibu ke ruangan"
Dengan nurutnya mereka ikut dengan Madya, mereka harus bertanggung jawab atas ketidaknyamanan ini di sekolah.
"Ibu tidak akan tanya alasannya kenapa karena bagi ibu masalah yang kalian buat hanya itu-itu saja, terutama kamu Bryan"
Mereka masih saja terus berdiam karena mereka tau kalo sudah Madya yang berbicara guru BK ini sudah tidak bisa di gombal-gombal lagi ataupun di beri alasan apapun, kalau masalah sudah dia liat maka akan terus menjadi masalah tidak ada toleransi lagi.
"Ibu minta kamu Bryan bersihkan aula sekolah dan kamu Dean bersihkan lapangan sekolah" suruh Madya
"Kok saya aula sih bu, kan gede gedungnya"sambar Bryan
"Ibu tidak terima bantahan, kalo tidak mau di perberat lagi hukumannya"
Mereka hanya membalasnya anggukan lalu segera melakukan hukuman dari Madya.
Jam menunjukkan pukul 15.00 sore, anak-anak sudah pulang sejak dua jam yang lalu, Dean pun sudah pulang karena telah selesai melakukan hukumannya tetapi Bryan masih belum selesai dengan tugasnya, bagaimana tidak aula sekolah adalah gedung terbesar yang ada di sekolah. Anggota osis pun masih belum pulang termasuk Natasya DKK karena Varo mengadakan rapat dadakan jadi seluruh anak osis di wajibkan mengikutinya termasuk Natasya DKK.
Natasya melihat Bryan yang sedang membaringkan tubuhnya di dalam aula, aula sekolah sudah terlihat bersih tampaknya Bryan sudah menyelesaikan hukumannya. Bryan memang anak yang badung tapi dia sangat bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat, pikirnya lelaki yang tidak bertanggung jawab atas kesalahannya adalah lelaki brengsek dan dia tidak akan menjadi lelaki seperti itu.
Natasya lalu menghampiri Bryan dengan sebotol air mineral yang di genggamnya.
"Kak Bryan" panggil Natasya dan tampak gugup
"Iya" jawab Bryan singkat
"Ini diminum" Natasya menyodorkan botol minuman itu dan tidak ada jawaban apapun dari Bryan
"Yaudah kalo ga mau Natasya permisi" katanya lagi
"Sini minumnya" katanya membuat Natasya berbalik lagi kepadanya
"Makasih" katanya lagi lalu di balas anggukan oleh Natasya
"Ehmmm, itu pinggir bibir kak Bryan berdarah" kata Natasya
"Tau"
"Natasya obatin boleh?"
"Ga" tolak Bryan
"Hm, sekali aja kak nurutin Natasya" Natasya maju ke hadapan Bryan lalu mengambil kapas dan plester obat di dalam tasnya
Bryan hanya diam memerhatikan wanita di hadapannya ini, bagaimana bisa dia berani mendekatinya padahal Bryan adalah lelaki yang tidak pernah di sentuh wanita siapapun sebelumnya, apalagi saat-saat dia sedang dalam masalah begini
"Lo liat gue berantem tadi?"tanya Bryan
"Iya" jawab Natasya sembari membersihkan luka Bryan
"Oh"
Suasana hening kembali di antara mereka, Natasya merasakan hembusan nafas Bryan sangat dekat pikirnya bagaimana para siswi di sekolahnya tidak mengidam-idamkan sosok Bryan walaupun mukanya sudah terkena pukulan pun masih tetap tampan Bryan sangat tampan menurutnya apalagi terlihat dengan sangat dekat seperti sekarang.
Jantung Natasya berdegup tidak karuan sekarang hanya saja untung dia dapat mengendalikannya.
"Udah kak" katanya setelah menempelkan plaster obatnya ke Bryan
"Makasih" balas Bryan
"Natasya pulang dulu"
"Iya"
Natasya lalu segera keluar dari aula, Bryan menatapnya dengan tersenyum.