[23] Via Pingsan

2K 70 0
                                    

"Seketika jadi pengen mie bakso, Vi" ucap Qaissa seolah mengode agar Via mentraktir dirinya.

"Beli" sial nya jawaban yang Via berikan tidak seperti yang Qaissa harapkan.

"Ih, beliin!" ucap Qaissa dengan nada yang manja.

"Ayok!" entah kesambet apa sampai-sampai Via rela membelikan Qaissa mie bakso. Qaissa yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya kali ini memilih untuk terkekeh didalam hati dan mengikuti kemana Via dari belakang.

Sewaktu di mobil, Via tetap fokus dengan jalanan yang ada di depan nya. Qaissa pun sama, gadis itu memilih untuk melihat kearah luar jendela yang sengaja ia buka agar dapat leluasa menghirup udara segar walau aslinya tidak segar. Tak perlu memakan waktu yang lama, mobil Via sudah sampai di area parkir bakso milik 'Kang Adi', tempat tersebut adalah tempat langganan Via dan Qaissa, selain rasa nya yang enak, bakso nya banyak, juga harga nya murah maka dari itu mereka lebih nyaman makan di tempat 'Bakso Kang Adi'.

Seperti tadi, Via yang memimpin. Gadis itu jalan duluan lalu memilih tempat duduk yang langsung menghadap ke jendela karena Via adalah tipe gadis yang tidak bisa makan di tempat dengan ruangan yang tidak memiliki jendela.

"Pesen!" suruh nya pada Qaissa yang juga sudah duduk di depan nya.

"Kang!" ucap Qaissa sedikit berteriak untuk memanggil pelayan yang ada di sekitar mereka.

"Mau pesen apa, neng?" tanya seorang pelayan yang baru saja sampai di meja mereka.

"Mie bakso spesial nya dua sama teh dingin dua, oh ya pake tetelan yaa dua-dua nya!"

"Sip, neng!" dan pelayan itupun pergi dari hadapan Via dan Qaissa.

"Anti pedes-pedes ya, Vi!" kata Qaissa menyindir Via yang suka makan mie bakso dengan saus yang bahkan tidak tau itu sehat atau tidak.

"Ngga! Ngga gue bayar kalo lo larang!!" tolak Via.

"Dih!! Okeyy, terserah lo mau makan pedes atau ngga! Pokoknya saos nya jangan kebanyakan, awas aja kebanyakan, gue bacok lo!" ancam Qaissa dengan nada serius nya.

"Bodo!" setelah Via mengatakan kalimat itu. Pelayan yang tadi datang kembali sambil membawa nampan yang berisi pesanan mereka, Qaissa langsung mengambil mangkok yang berisi sangat banyak tetelan dan menyisakan satu mangkok yang lebih banyak mie. Sepertinya Kang Adi memang sudah tau pesanan atas nama mereka, terbukti karena Qaissa yang suka tetelan sehingga mangkok nya berisi banyak tetelan dan Via yang sangat suka mie berisi banyak mie.

"Wohooooo!!!" ucap Qaissa heboh sambil mengangkat tetelan miliknya dengan sendok.

"Biasa aja, bodoh! Malu gue bawa lo, sumpah!!" ucap Via yang kesal melihat tingkah laku Qaissa yang sangat memalukan. Mereka makan dengan nikmat nya, tidak ada satupun yang membuka suara mereka, hanya ada suara desahan yang keluar dari mulut Via karena mie bakso milik nya di tuang banyak saos dan cabai. Melihat Via yang kepedesan seperti itu membuat Qaissa berdecak kemudian menyingkirkan mangkok milik Via dari hadapan gadis di depan nya itu.

"Loh? Kok di geser?? Siniin!!" ucap Via sedikit berteriak membuat beberapa pengunjung melihat kearah nya.

"Ngga! Udah pedes banget itu, Vi!!" kata Qaissa sambil meneliti wajah Via yang di penuhi keringat.

"Ih engga!! Ngga pedes, sumpah! Balikin woi!!" ucap Via meminta mangkok nya untuk di kembalikan.

"Ngga! Udah.cukup!!"

"Belommm Qai...."

"Ntar lo sakit perut, bego! Mikir ngga sih!? Ntar masuk lagi ke rumah sakit gimana?" ucap Qaissa frustasi. Satu sisi ia tidak mau Via, sahabat sejak kecil nya itu masuk rumah sakit karena makan pedas dan satu sisi nya lagi ia tidak tahan ketika melihat Via yang memohon padanya seperti ini.

"Ya bodo! Masuk juga sekali, besok ngga lagi. Janji deh! Siniin!!!" kata Via lagi berusaha menggapai mangkok mie bakso nya yang sengaja di sembunyikan oleh Qaissa.

"Ambil noh ambil!!! Kalo sakit perut jangan ngerengek ke gue, ngga mau gue denger rengekan lo!" ucap Qaissa tak kalah kejam dengan yang tadi.

"Iya!!!" jawab Via enteng lalu kembali memakan mie bakso yang tadi sempat tertunda karena Qaissa menyembunyikan mangkok nya.

<<>>

"Vi!! Berhenti di toko Hp yang biasa yaa?"

"Ngapain!?" tanya Via dengan nada tidak santai.

"Ganti Hp. Soal nya udah keluar yang baru" jawab Qaissa enteng.

"Yaampun!!! Gue kira lo ngga gonta-ganti Hp lagi, lah ini malah menjadi gue rasa. Baru sebulan yang lalu lo beli Hp ini, Qai.. Masa iya mau beli lagi!? Mending di tabung, ntar ngga lucu kalo kuliah lo berhenti tengah jalan!" mulai, Via menjadi penasehat yang handal untuk menangani sifat Qaissa yang satu itu.

Ya, Qaissa memang mempunyai kebiasaan tergiur dengan Hp pengeluaran terbaru dan langsung membeli nya, sehingga membuat kamar Qaissa penuh dengan Hp yang tidak terpakai padahal masih bagus. Pernah sekali Via tidak sengaja pergi ke ruang pakaian yang ada di kamar Qaissa dan menemukan sebuah lemari dengan pintu yang berasal dari kaca, isi dalam lemari itu adalah Hp yang selama ini tidak di pakai oleh Qaissa dan yang bikin Via takjub lagi adalah Hp tersebut tersusun sangat rapi di lemari.

"Udah, ih! Berhenti aja pokoknya. Awas ya kalo ngga berhenti!"

"Iya-iya, bawel!!"

Akhirnya. Setelah perjalanan yang tidak panjang, mereka pun berhenti di sebuah toko Hp langganan Via dan Qaissa. Kalau kalian pikir mereka pasti mempunyai toko langganan dari segi apapun maka semua itu benar, karena mereka lebih suka mengingat satu toko dari pada banyak toko. Kalau kata Via "Karena kalo lo harus ingat banyak toko, bisa-bisa ubanan lo gara-gara mikir cuma kek begituan. Mending satu toko, selama nya bisa di inget!".

"Om!!!" sapa Qaissa ceria saat melihat pria yang usia nya sedikit diatas gadis itu sedang berbicara pada seseorang.

Yang di panggil menoleh lalu tersenyum, "Eh, Qai?"

"Om apa kabar? Baik kan? Terakhir kali aku kesini awal bulan lalu kan?" inilah Qaissa. Dia lebih terbuka dan suka basa-basi dengan orang, sangat berbeda dengan Via.

"Baik, iya kamu datang sebulan yang lalu. Om tebak, kamu kesini mau beli Hp yang baru keluar itu kan?" tanya Om Wira, pemilik 'Wira Cell'.

"Iya, Om! Hehe.."

"Udahlah Om. Kasih dia Hp mahal sekalian biar kapok! Bodo amat sama duit nya, ngga bakal ngaruh sama dia!" ucap Via kesal.

"Apasih lo? Iri tanda tak mampu ya. Mending lo duduk manis aja disana, ntar kalo udah siap gue samperin. Oke?" usir Qaissa terang-terangan.

"Iya-iya! Jangan lama-lama!!"

Via duduk sendiri di bangku khusus untuk menunggu. Gadis itu melirik ke kanan dan ke kiri melihat orang-orang yang bolak-balik keluar masuk ke dalam toko. Toko milik Om Wira termasuk toko yang banyak di kunjungi oleh orang-orang, jadi wajar saja kalau toko tersebut ramai. Tiba-tiba, ia merasakan sakit yang luar biasa di daerah perutnya, membuat gadis itu mencengkram kuat perutnya, napas nya pun tersenggal-senggal sangking menahan rasa sakit itu sampai akhirnya ia merasakan mual setelah itu pandangan nya gelap. Namun sebelum itu, ia sempat melihat Qaissa berlari kearah nya bersama seorang pria dan wanita yang lebih tua dari Qaissa dan kemudian pandangan nya menjadi warna hitam total.

TBC

Semoga suka:*

Kjexeonjk

The Story of a Badgirls [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang