Reuni Ibu dan Anak

1 3 0
                                    

"Hey kau kenapa??!" panik Raphael sambil menggoyangkan tubuh Elie.

"Kyaaa...... Tamvanz......" gumam Elie dengan mata berbinar2.

"Nenek dia kenapa??" tanya Raphael yg semakin tidak nyaman.

"Sudahlah dia memang begitu.. Nenek pikir.. Ehm , dia cocok denganmu." seringaian sejuta kebahagiaan terpampang diwajah keriputnya.

"Ehh?! Nenek apa yg kau katakan...?! Kami bahkan baru saja bertemu.." Raphael memerah gaes :'v

"Sudahlah.. Ikuti saja alirannya." ucap nenek penuh kepercayaan.

Nenek itu keluar. Raphael yg penasaran pun mengikutinya.

"Lihatlah.. Kehidupan disini sangat damai.. Walaupun kami para vampir , makhluk haus darah.. Tapi kami juga , bahkan 'harus' mementingkan kebersamaan." kata nenek.

"Hn.. Jadi? Kapan nenek akan mengenalkanku pada penduduk desa ini?" tanya Raphael.

"Nanti , saat waktunya sudah tiba."

Raphael hanya terdiam dan memikirkan perkataan nenek barusan.

'Waktunya? Tapi kapan?'

Nenek kembali beranjak masuk , tentunya diikuti cucu semata wayangnya tersebut.

"Aoi apa kau tidak lapar?" tanya nenek.

"Hm.. Entahlah? Tapi aku haus.." jawab Raphael dengan jujur.

"Tunggu sebentar nenek akan membawakanmu minum." ucap nenek yg berjalan dengan langkah tuanya menuju belakang rumah.
Mengambil seekor domba yg berkeliaran dan menghisap darahnya hingga domba itu amnesia eh, anemia.
Setelah itu ia masuk dan duduk disamping Raphael.

"Ini , minumlah."

Betapa terkejutnya Raphael saat neneknya melukai pergelangan tangannya sendiri dengan kuku2 tajamnya.
Hingga darah itu mengalir begitu derasnya.

"Nenek apa yg--" kata2 Raphael terpotong bersamaan dengan gigi taringnya yg memanjang dan matanya yg bersinar.

Nenek mendorong tubuh Raphael hingga tergeletak ditempatnya , lalu meneteskan cairan merah itu kedalam mulut cucunya tersebut.
Raphael memejamkan matanya , menikmati rasa darah yg manis baginya.
Tapi kemudian ia tersadar.

"Nenek! Aku tidak mau!" Raphael menarik tubuhnya mundur menjauhi neneknya.

"Apa maksudmu Aoi? Ini makanan untukmu.." ucap nenek.

"Tidak2.. Aku tidak mau melukai siapapun untuk mendapat makanan!" Raphael mulai ketakutan.

"Bft! Hahahahaaha.. Siapa.. Yg kau lukai..? Ha? Lihat ini.. Kita vampir.." nenek itu tertawa lantang lalu mengambil pisau yg ada dijangkauannya , dan menggoreskannya di lengan Raphael.

"Gyaa!! Nenek apa yg kau lakukan?!!" teriak Raphael histeris.

Tapi tak lama kemudian ia kembali tenang ketika luka itu menutup dengan sendirinya , begitu juga punya nenek.

"A-apa yg--"

"Itulah yg kami maksud dengan 'kemampuan regenerasi'. Saat kita terluka kita bisa menutupnya kembali , dengan menghubungkan otot yg putus dan memperbaiki dinding pembuluh darah , sampai memperbaiki lapisan kulit sehingga luka itu hilang tak berbekas. Tapi hati2 dengan satu luka yg sangat berbahaya , yaitu luka hati. Karena sampai kapanpun luka itu akan membekas dan hanya tinggalkan sebuah kenangan pahit." eaak , ehm , niy ceritanya si nenek bucin?

Raphael hanya ber oh panjang.
Padahal , ia masih bingung.

"Nek , apa selama ini nenek tinggal sendirian?" tanya Raphael.

Real FriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang