“Bagaimana aku bisa hidup di perantauan nanti?” Ditha mulai mencemaskan kehidupannya pasca lulus SMA. Bagi Ditha, berinteraksi dengan orang baru adalah hal tersulit. Sebegitu menyeramkan di benaknya jauh dari ayah dan ibu di pelupuk mata. Dia tidak akan lagi dituntun oleh keduanya, ia harus bisa menuntun langkah kakinya sendiri.
Ditha, perempuan pendiam, bukan seseorang yang pandai beradaptasi. Satu waktu seluruh kepribadiannya jelas menggambarkan seorang introvert. Tapi, di sisi lain ia bisa menjadi seorang ekstrovert, pada segelintir orang yang mampu membuatnya nyaman. Ia butuh waktu lama untuk membuka percakapan dengan orang lain. Jangankan dengan seseorang yang tidak ia kenal, bahkan dengan teman dekatnya sendiri pun kamu akan menemukan dia dan keterdiamannya hanya untuk berpikir “Enaknya ngomongin apa ya?”. Kemudian ia mulai merangkai kata di kepalanya, menyampaikannya secara perlahan. Takut-takut apa yang ia sampaikan salah atau mungkin malah menyinggung perasaan lawan bicarannya. Serumit itu.
Ia, tak suka menjadi pusat perhatian. Ia lebih suka memperhatikan. Senang baginya mengamati perilaku orang lain. Jika bisa dihitung, mungkin mata dan telinganya lebih sering berfungsi dibandingkan mulutnya. Kacamata tak membatasi jarak pandangnya, jangkauannya luas. Satu pandangan bisa menciptakan berbagai rasa di benaknya. Ia bahkan bisa menemukan seseorang yang ia rindukan di keramaian. Pun dengan telinganya, menyimak pujian dan umpatan seperti sudah keseharian. Bagaimana dengan mulutnya? Ah, sebagian besar kalimat yang ingin ia ucapkan selalu berakhir di tenggorokan. Menguap bersama embusan napas yang tak terdengar.
#
Di hari pertama ia menjejakkan kakinya di tempat yang baru, ia dikenalkan pada rumah kedua. Pamasagi namanya.
Takut-takut, ia mencoba berbaur.
Takut-takut, ia mencoba tersenyum.
Tak banyak bicara, memperhatikan sekelilingnya.
“Waaah, sepertinya aku dikelilingi oleh orang-orang ekstrovert. Apa aku akan diterima?” Batinnya.
Mereka semua tampak asing baginya, tapi mereka begitu akrab satu sama lain seperti sudah kenal sejak lama. Ataukah hanya dia yang tak mengenal siapa pun? Ia mulai cemas. Ia menoleh ke kiri dan kanan, berharap menemukan teman satu sekolahnya. Nihil.Ia ingin mengucapkan “Hai” pada teman barunya, tapi terlalu malu.
Ia menunggu.
Dan…..
Akhirnya mereka berdatangan, tersenyum, menyapa, mengulurkan tangan, mengajak berkenalan.
Ketakutannya luruh seketika.Sejak saat itu, bahkan sampai detik ini, Pamasagi begitu berarti untuknya.
Tidak, ia tidak seterkenal itu karena Pamasagi. Ia hanya dekat dengan segelintir orang. Segelintir dari angkatan atas, teman seangkatannya, juga satu angkatan di bawahnya. Kalau kau bertanya tentang Ditha mungkin tak akan banyak yang ngeuh tentang keberadaan Ditha. Namun bagi Ditha, Pamasagi itu rumah, bukan sekadar organisasi.
Pamasagi
Tempat di mana ia bisa kembali tertawa tanpa perlu alasan.
Tempat di mana ia mendapatkan pelukan hangat ketika pilu.
Tempat di mana ia menerima banyak perhatian –meski dengan keterdiamannya, dari banyak teman dan kakak-kakak beda angkatan.Tak ada senioritas. Hanya keluarga, yang ketika kamu lelah kamu ingin kembali pada mereka. Berkelakar bersama. Ah tidak, lebih tepatnya Ditha hanya mendengar kelakar mereka, ia tak banyak terlibat. Tapi ia suka. Ia suka mendengarkan mereka.
Pamasagi, mengajarkan ia banyak hal. Bahagia, solidaritas, tenggang rasa, empati, kerja sama, tanggung jawab, pengorbanan. Ya, pengorbanan. Baginya, waktu yang ia habiskan untuk Pamasagi tidak pernah sia-sia. Tidak pernah, sekalipun ia kehilangan detik terakhir untuk bersama cinta pertamanya.
Pamasagi adalah salah satu bagian penting bagi hidupnya, meski ia mungkin tidak sepenting itu. Ia merasa diakui, merasa disayangi, merasakan kehangatan di dalamnya, meski hanya dari segelintir orang saja. Kita tidak pernah tahu bahwa satu tindakan kecil bisa berarti begitu besar untuk seseorang, pun sebaliknya. Pamasagi adalah salah satu hal yang ia syukuri karena pernah menjadi bagian di dalamnya. “Berbicara tentang Pamasagi adalah berbicara tentang rasa, memilihnya adalah bagian dari keinginan hati”.

KAMU SEDANG MEMBACA
LANGKAH KAKI
Short StoryLangkah kakiku adalah langkah kaki yang bertelanjang, menginjak segala sesuatu yang dihamparkan tanah tanpa terkecuali. Langkah kakiku menapaki ruang yang tak berbatas, memasuki ribuan lorong waktu. Langkah kakiku menghasilkan berbagai kisah yang pa...