Kebanggaan, adalah titik kepuasan saat kita mampu melampaui pencapaian tertentu. Diyakini atau tidak, setiap manusia di sepenggal cerita hidupnya pasti memiliki sesuatu sebagai kebanggaan, entah harta, jabatan, pendidikan, apa pun itu. Cerita kali ini adalah cerita tentangku, tentang sepotong perjuangan mencapai kebanggaan. Sebuah gelar, untuk mengapresiasi jerih payah orang tua, sebagai persembahan yang sebenarnya tidak bisa membayar apa pun yang telah mereka berikan.
Siap mencapai kebanggaan maka siap juga untuk berkorban. Di Indonesia, untuk memperoleh gelar sarjana mayoritas universitas/ perguruan tinggi mewajibkan mahasiswa untuk membuat skripsi. Skripsi bagi segelintir mahasiswa menjadi sesuatu hal yang cukup menakutkan, salah satunya untukku. Aku, jujur saat itu merasa sangat takut. Ketakutan akan berlomba dengan waktu, ketakutan yang menentukan apakah mimpi sederhanaku akan terwujud atau tidak -berfoto wisuda dengan ibu. Cerita ini bukan sebuah ajakan untuk mengeluh, bukan untuk menarik simpati pembaca, jauh dari itu, cerita ini hanya sebuah pelajaran hidup tentang bagaimana keluar dari bilik jeruji bernama zona nyaman.
Skripsi? Kau tahu apa yang pertama kali aku pikirkan ketika mendengar kata itu? “Ada berapa banyak orang baru yang harus aku hadapi?” Terdengar berlebihan, tapi begitulah yang ada di pikiranku. Aku menghabiskan waktu semalaman untuk berpikir keras “kalau aku pilih kuantitatif, aku akan bertemu lebih banyak orang tapi dalam waktu singkat. Sebaliknya, kalau aku pilih kualitatif aku akan bertemu sedikit orang tapi dalam waktu lebih lama, bahkan mungkin berulang kali.” Akal sehatku mengatakan bahwa tidak ada yang lebih baik di antara keduanya. Tapi hidup itu pilihan.
Aku tidak terbiasa menghadapi orang baru, rasanya canggung jika aku harus berbasa-basi dengan orang yang tidak aku kenal. Aku terlalu takut dengan penolakan, seperti kamu sudah memaksakan diri untuk terbuka tapi malah diabaikan. Apa ketakutan ini hanya terjadi pada diriku saja?
Singkat cerita, setelah berbagai drama ganti pembimbing dan pergantian judul -sepertinya setiap mahasiswa mengalami drama ini, aku dengan mengucapkan basmallah memutuskan untuk memilih kuantitatif. Subjek penelitianku adalah anak-anak SMA/SMK di Kota Bandung sehingga otomatis aku harus berkeliling mengunjungi sekolah-sekolah di daerah tersebut. Perlu kamu tahu, aku buta arah, aku tidak bisa menyeberang jalan, aku bahkan tidak familiar dengan daerah Bandung. Sempurna. Aku merutuki masa-masa kuliah yang tidak aku manfaatkan untuk menikmati kehidupan di luar kampus.
Saat pertama kali aku harus turun ke lapangan, aku benar-benar merasa tidak sanggup jika harus sendirian. Di sinilah hidayah pertamaku dimulai. Saat itu aku sempat membatin “Ya Allah, coba aku punya pacar, bisa dimintain tolong buat anter tanpa harus ngerasa ga enak, bisa minta ditemani” -dangkal sekali pikiranku. Kau tahu apa jawaban Tuhan? Ia mengirimkan malaikat-malaikat tanpa sayap yang bersedia aku repotkan. Tuhan seolah menjawab “Kamu gak mesti punya pacar, kamu hanya mesti punya teman.” Ada saja kemudahan yang diberikan untukku, Tuhan seperti menunjukkan dan menuntunku untuk tak melakukan ‘kesalahan’ yang sama.
Setelah melewati banyak perjalanan bersama para malaikat ini, aku menghadapi ujian baru -sebuah penolakan. Memang benar, mindset kadang memengaruhi kenyataan, apa yang aku takutkan terjadi. Penolakan dengan cara yang manis sampai yang pahit, verbal maupun nonverbal aku sudah cukup paham untuk mengartikan maksudnya. Ditolak wakil kepala sekolah dengan beragam alasan sampai mendapat nyinyiran guru karena skripsiku terkesan aneh bagi mereka.
Awalnya aku merasa jatuh sejatuh-jatuhnya, seperti sudah tidak tahu mau bagaimana lagi. Aku merasa sudah tidak sanggup harus ke sekolah-sekolah hanya untuk perizinan. Takut ditolak. Mau cerita, cerita ke siapa? Pacar? Sudah jelas tak punya. Teman? rasanya kami semua punya masalah yang kurang lebih hampir sama. Dosen pembimbing? Sudah mau membimbing saja sudah patut bersyukur. Keluarga? Aku lebih memilih diam, tak ingin menjadi beban mereka. Eitts… kenapa aku lupa dengan yang begitu dekat, dengan yang selalu mendengarkan juga maha memberikan solusi. Allah, kenapa aku lupa dengan keberadaan-Nya?
Hidayah kedua muncul. Memang benar ketika kita sedang diuji, kita justru akan semakin dekat dengan Allah. Sebenarnya aku malu, datang kepada Allah ketika butuhnya saja, dulu ketika aku senang aku ke mana? Lari pada siapa? Mengerjakan kewajiban terhadap Allah sepertinya terasa berat, tapi sekarang benar-benar merasa bahwa tempat kembali itu memang pada Allah. Semenjak menyadari itu, aku selalu berdoa, “Ya Allah, jika dengan ujian semakin mendekatkanku pada-Mu, maka aku ikhlas, aku hanya meminta bersamai ujian itu dengan kekuatan untuk menghadapinya.”

KAMU SEDANG MEMBACA
LANGKAH KAKI
Short StoryLangkah kakiku adalah langkah kaki yang bertelanjang, menginjak segala sesuatu yang dihamparkan tanah tanpa terkecuali. Langkah kakiku menapaki ruang yang tak berbatas, memasuki ribuan lorong waktu. Langkah kakiku menghasilkan berbagai kisah yang pa...