B A G I A N 11 | Terjebak

336 15 0
                                        

"Agung!" Ucapan Zara menyadarkan Agung.

"Apa, Ra?" Agung mengerutkan keningnya. Kenapa juga Zara harus berteriak seperti itu? Padahal ia juga bisa mendengar jika Zara berkata baik-baik, pikir Agung.

"Lo lewat jalan yang kemarin," ucap Zara.

Deg, deg

Agung baru menyadari kemana ia menjalankan motornya. Kenapa lewat sini? Agung justru bertanya pada dirinya sendiri.

"Eh, Agung b*g*! Lo ngapa lewat sini?!" Agung merutuki dirinya sendiri dalam hati.

Namun agung tetap menjalankan motornya. Ia sudah ada di pertengahan jalan sejak tadi. Berbalik, ia akan semakin jauh dari rumah Zara. Jalan terus terllau bahaya. Namun tangan agung terus menjalankan motornya maju sambil mempercepat laju motornya.

Zara menggigit bawah bibirnya. Kejadian kemarin masih terbayang dipikirannya. Kelima orang dengan senjatanya terlihat menyeramkan bagi Zara.

Degup jantung Zara sudah berdetak abnormal. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Zara. Zara berusaha agar tetap tenang. Namun tetap saja jantungnya berdetak cepat.

Tanpa sadar, Zara kembali menggenggam erat baju belakang Agung yang kali ini adalah seragam sekolah.

Agung merasakan ketakutan Zara. Ia benar-benar tidak ingin Zara terluka. Merasakan genggaman Zara yang begitu kuat pada bajunya saja membuat Agung mengeraskan rahangnya.

Agung harus menyakinkan dirinya sendiri bahwa daerah ini tidak bahaya. Sekalipun kelima orang itu muncul lagi, ia harus benar-benar melindungi Zara.

Sepi. Begitu sepi suasana jalan itu. Entah Agung harus bernafas lega atau tidak. Namun nyatanya dirinya semakin tegang dengan keadaan. Ia sulit bernafas. Sejak tadi ia seakan menahan nafasnya. Ia khawatir dengan keselamatan Zara.

"Elah, lima orang kemaren mah cemen. Tenang napa, Gung!" Agung berkata pada dirinya sendiri.

Ya, jantungnya berhasil tenang. Dia tak lagi bisa mendengarkan jantungnya berdetak. Jantungnya berhenti begitu saja. Telapak tangan Agung pun serasa berkeringat. Agung bergeming kaku. Motornya berhenti berjalan.

Di depan sana, sekelompok orang membawa senjata tajam menyeringai pada mereka berdua. Bukan lagi berlima. Bukan juga bersepuluh. Bukan juga waktunya menghitung mereka. Jumlah mereka terlalu banyak. Terlebih mereka juga menaiki motor.

"Agung," bisikan lirih Zara menyadarkan Agung.

"Tenang, Gung. Tenang. Lo harus lindungi Zara," bisick Agung dalam hati.

Seluruh tubuh Zara terasa kaku dan sulit digerakkan. Tangannya pun masih menggenggam baju Agung. Ia tidak bisa melepasnya sedikitpun. Zara semakin menggigit kuat bibir bawahnya.

Kelima orang yang kemarin Agung buat babak belur kini turun dari motornya. Melangkah maju menghampiri mereka dengan percaya dirinya.

"Wow, berani juga dia lewat sini lagi. Diem aja, bang? Kenapa? Takut?" Lelaki itu menyeringai pada Agung.

Agung tak berani berkata. Ia takut perkataannya mengundang amarah mereka semua dan mereka justru menyerang Agung tanpa ampun hingga Zara tidak bisa ia lindungi.

Meskipun jika ia diam, kemungkinan itu bisa juga terjadi. Agung waspada. Ia menatap tajam segerombol orang itu.

Lelaki itu tertawa menggelegar. "Hahaha, ciut juga Lo! Bener kata pepatah, mati satu, tumbuh seribu!"

"Tau juga Lo soal pepatah," ucap teman di sebelahnya.

"Gue gitu loh." Lelaki itu tersenyum dengan sombongnya.

"Tapi kita nggak cuma satu. Kemaren kita berlima. Dan kita juga nggak mati." Lelaki di samping kedua orang itu ikut menyahut.

"Dasar g*bl*k!"

"Kurang ajar!" teriaknya tak terima.

"Woy! Kok Lo berlima malah berantem sih?" Temannya yang jauh dibelakang mereka menyadarkan kedua orang itu.

"Oh, iya ya. Maap, Bang. Gue cuekin tadi. Sekarang, Lo bisa apa?" Lelaki itu mengacungkan celurit di tangannya pada Agung.

"Hahaha, diem dia!"

"Udah, woy! Abisin aja!"

"Dasar Cemen!"

Mereka berkata bersahut-sahutan. Namun Agung masih diam. Dia masih meyakinkan dirinya. Ia harus melindungi Zara sampai darah penghabisan.

"Agung ... " Tenggorokan Zara serasa kering. Suaranya tercekat. Hanya itu yang mampu ia katakan.

"Kapan kita bakal mulai ini? Sekarang? Atau Lo masih mau diem dulu? Gue tungguin sampe lima menit mau?" Lelaki itu menyeringai.

Agung hendak turun dari motornya. Namun cengkraman tangan Zara yang begitu kuat menghentikan tindakannya.

"Tenang, Zara. Kita nggak bisa terus di sini. Lo hubungin siapapun yang bisa bantu kita. Atau kalau Lo tau nomor polisi, hubungin mereka. Semoga bantuan cepet dateng. Gue bakal lindungin Lo sebisa gue," bisik Agung ditelinga Zara.

Zara belum melepas cengkraman bajunya pada Agung. Agung kembali menoleh.

"Hp gue mati, Gung." Suara Zara pelan dan gemetar.

Agung mengeraskan rahangnya. Ia tak suka Zara yang ketakutan. Agung mendekat pada Zara. Sangat dekat hingga tangannya yang merogoh kantong celananya tidak terlihat. Ia menyerahkan handphone nya itu pada Zara.

Zara segera menyembunyikannya. Wajahnya terlihat pucat. Bibirnya pun gemetar.

Siapa juga yang tidak gemetar di kepung sekelompok orang bersenjata yang tak terhitung jumlahnya. Benar-benar menakutkan.

Agung melangkah maju. "Gue cuma mao lindungin cewe gue, Bang. Nggak bermaksud nyerang Lo sebenernya. Kita damai yah, Bang." Agung menunjukkan deretan giginya.

Zara memutar bola matanya jengah. "Malah dia nyengir."

Zara kembali konsen menghubungi nomor kakaknya lalu nomor Risya yang ia hafal. Meminta mereka menghubungi polisi. Zara menyembunyikan handphone Agung di atas roknya. Ia tentu masih duduk di atas motor.

"Damai, damai. Enak aja. Gue nih babak belur!" Lelaki dihadapan Agung tidak terima.

"Maapin gue, Bang. Lo tau lah gimana rasanya sayang sama cewek. Pasti kan pengen ngelindungin dia terus." Agung terlihat memohon.

Kegiatan Zara berhenti sebentar. Agung sedang mengarang atau yang dia bicarakan adalah kebenaran? Sayang?

"Iya, gue tau. Gue juga sayang banget ama cewek gue." Lelaki di belakangnya menyahut. Ia sepertinya ikut bersimpati.

"Lo apa-apan sih dari tadi!" bentak lelaki di depannya.

"Nggak bisa! Lo harus hadepin kita semua!"

"Gue yang nggak bisa, Bang. Gue sendiri lah Lo rameh-rameh. Mati gue, Bang."

"Emang gue peduli?!" Lelaki itu kembali menyeringai. Dia menoleh ke arah teman-temannya dan mengedipkan mata sebelah kirinya.

Motor mereka kembali dihidupkan. Kelima orang itupun menuju motor mereka.

Agung benar-benar bingung ia harus apa. Ia masih terdiam di tempat.

Kelompok bersenjata itu menaiki motornya. Membiarkan deru motornya menciptakan keramaian. Mereka berputar-putar mengelilingi Agung dan Zara.

Tangan Zara kaku. Namun ia tetap berusaha mengetik pesan pada Nando dan Ray. Ia bingung siapa lagi yang harus ia mintai tolong.

Zara ada Allah. Suara hati Zara berbisik.

Zara terdiam. Ia terus berdoa dalam hati. Ya Allah ... Aku berserah padamu. Apapun takdir yang Engkau tentukan, aku terima. Lindungi aku dan Agung.

"Woy! Liat! Ceweknya mainin hp! Wah, kayaknya dia lagi ngehubungin seseorang tuh!" teriak salah satu diantara mereka.

Semua menoleh pada Zara. Zara ketauan. Tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Tangannya berkeringat dingin.

"Ya Allah ... " Lirih Zara.

Sederas HujanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang