Zara melangkah memasuki rumahnya. Lampu rumahnya sudah menyala. Malam telah menggelapkan langit. Ia tau kakaknya pasti menunggunya sepulang dari kantornya.
Zara juga tau, mamanya pasti terus khawatir pada dirinya karena dia tidak pulang dengan sahabatnya dan tidak pula mengabari.
Zara membuka pintu perlahan dan menutupnya dengan hati-hati. Ia tau ketika berbalik, ia akan melihat wajah kakaknya yang pasti marah padanya.
"Dari mana kamu? Ko nggak bareng Risya?" Tanya Arkan ketika Zara sudah berbalik arah menghadap kakaknya itu.
Tidak jauh dari Arkan, mamanya menatap Zara khawatir. Disampingnya, Risya yang juga cemas padanya.
Zara diam menatap ketiga orang yang khawatir padanya itu. Dia sudah terlalu bosan untuk terus menjaga kondisi dirinya. Dia sudah bosan untuk terus dikhawatirkan. Lebih tepatnya, dia bosan untuk terus dikekang.
"Zara baik-baik aja," Jawab Zara sambil berjalan melewati Arkan.
"Zara!" Panggil Arkan. Semakin lama tingkah adiknya itu semakin membuatnya khawatir dan jengah. Apalagi dengan sikap tidak peduli Zara.
"Zara baik baik aja, kak! Kenapa harus khawatir sih? Kenapa Zara selalu dikekang sih? Zara capek! Sesekali Zara mau keluar bebas. Nggak terus di rumah, sekolah, olahraga, minum obat. Gitu terus setiap hari," ujar Zara setengah jengkel, mengeluarkan seluruh unek-uneknya.
Zara mencengkram dadanya. Begitu sesak dan sakit. Dipejamkan matanya. Dengan bersusah payah ia berusaha untuk bernafas. Ia lalu terduduk dilantai.
"Zara?" mamanya langsung menghampirinya dan membawa Zara menuju ke kamarnya dibantu oleh Risya.
"Kamu nggak papah kan, Za?" tanya mamanya saat mereka sudah sampai dikamar Zara.
Zara terdiam sejenak. Nafasnya sudah kembali normal. Ia menunduk begitu dalam. Dengan penuh penyesalan, Zara kemudian berucap dengan lirih, "Maafin Zara, mah."
Mama Zara tetap tersenyum lembut pada Zara. Ia mengusap lembut kepala Zara. Dengan pelan Mama Zara berkata, "Nggak papah, Za. Mama ngerti ko. Sekarang Zara istirahat yah. Nanti turun ke bawah yah kita makan malam terus kamu minum obat."
"Iya mah," jawab Zara, masih dengan posisi menunduk.
Fatimah, Mama Zara lalu keluar dari kamar Zara. Risya dengan segera duduk disamping Zara. Diantara banyak sahabat Zara, Risya yang paling dekat dengan Zara. Dia yang paling mengerti Zara. Dia tau masalah keluarga Zara bahkan yang belum diketahui sahabat Zara yang lain.
"Kamu nggak papah, kan? Dari mana emang?" tanya Risya sambil menggenggam tangan dingin Zara. Dia menatap cemas Zara.
"Sama Agung. Kan tadi udah bilang," jawab Zara.
"Iya sih. Tapi aku nggak ngira sampe jam segini, Za. Aku juga bingung mau bilang apa pas sampe sini kamu belum pulang. Aku nggak mungkin bilang kamu sama Agung," ujar Risya.
"Maaf, aku lupa waktu." Zara tetap menunduk. Enggan mengangkat kepalanya bahkan untuk sekedar menatap Risya.
"Za, jangan terlalu deket yah sama Agung. Bukannya ngelarang atau ngekekang kamu. Tapi, Agung pergaulannya kurang baik." Risya berusaha menasehati Zara dengan pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sederas Hujan
Fiksi RemajaSederas Hujan, terlalu banyak aku terjatuh. Namun aku tak setegar hujan yang memberikan kehidupan meski jatuh berkali-kali. Bisakah aku bangkit? Bahkan bernafas pun sulit. Sungguh takdir membuat mereka keliru dengan skenario-Nya. Bahkan untuk yang...
