B A G I A N 20 | Berubah

376 17 0
                                        

Beberapa bulan kemudian..

"Ra, gue ke toilet dulu. Lo yang layanin dulu yah. Di bar juga ada Nando." Afnan menepuk pundak Zara. Zara segera mengangguk.

Peran Afnan memang sangat penting. Selain karyawan kepercayaan Nando, diapun kadang menjadi baristanya menggantikan Nando jika lelaki itu sedang sibuk.

Kriinggg..

Beberapa menit kemudian, bunyi lonceng terdengar menandakan seseorang memasuki coffee shop. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling coffee shop.

Zara yang baru saja selesai memberikan pesanan pada salah satu pengunjung, menoleh ke arah pintu.

Deg

Gerakan Zara terhenti. Ia mencoba menetralisir rasa dalam hatinya. Ia mencoba tetap sadar. Zara segera menunduk.

Ah, ya. Ia baru teringat Afnan sedang ke toilet. Mau tak mau ia harus melangkah melayani lelaki di depan sana.

"Selamat datang."

Zara berhenti melangkah. Afnan sudah berdiri disana menyambut pengunjung. Zara menghembuskan nafas lega.

Ia segera berbalik dan menghampiri salah satu pengunjung yang hendak memesan.

"Espresso Based, 2 Americano dan Manual Brew, 1 Cold Brew." Zara menyampaikan pesanan pada Nando.

Nando mengangguk dan mulai berkutat pada mesin espresso-nya.

"Ra."

Zara menoleh pada Afnan. "Iya?"

"Lelaki di sana minta Lo yang layanin."

Ucapan Afnan membuat Nando menoleh dan mengerutkan keningnya. Ia belum pernah mendapatkan pelanggan yang pemilih pada pelayan sebelumnya. "Lelaki yang mana?"

"Itu yang dipojok sana." Afnan menunjuk lelaki yang tengah duduk dengan menekuk kaki kirinya di atas kaki kanannya.

Nando memicingkan matanya. Ia sangat mengenali lelaki itu. "Biar gue yang ngelayanin. Afnan gantiin gue dulu."

"Tapi ...." Afnan nampak ragu. Bukan ragu untuk menggantikan posisi Nando. Namun ragu karena takut pelanggannya itu tidak senang.

"Udah cepetan gantiin gue. Ra, cepetan itu pesanannya dikasih." Nando berjalan menghampiri lelaki yang memakai jas berwarna hitam itu.

"Eh, Gung. Tumbenan ke sini. Lagi nggak sibuk?" Nando duduk dengan tenang di hadapan Agung.

"Tadi gue lewat sini. Makanya ke sini dulu. Mao buktiin yang Lo bilang itu bener." Agung menegakkan tubuhnya yang semula bersandar.

Nando mengangkat sebelah alisnya. "Emang Lo kira gue bohong?" Ia kemudian tersenyum miring.

Agung tetap diam. Ia tak membalas ucapan Nando.

"Kemana pacar Lo si Viera? Biasanya ngintilin Lo mulu." Nando terkekeh pelan membayangkan Agung yang selalu diikuti perempuan itu.

"Nggak juga." Agung kembali menyandarkan punggungnya.

"Gue rasa, semuanya di sini lagi pada sibuk. Jadi, Lo mao pesen apa? Barista nggak biasanya loh ngelayanin pelanggan. Tapi karena Lo pelanggan istimewa, jadinya gue layanan." Nando masih tersenyum miring. Ucapannya terdengar ramah namun menyindir.

"Hahaha, gue nggak perlu diistimewain. Gue tau Lo sibuk." Agung tertawa hambar.

"Nggak papah. Jadi, Lo mao pesan apa?" Nando kembali bertanya.

"Biasa, satu Americano." Agung menyebutkan pesanannya.

"Oke. Tunggu sebentar ya." Nando melangkah meninggalkan Agung. Kembali ke tempatnya sebagai barista.

Sederas HujanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang