B A G I A N 4 | Bertahan

678 23 0
                                        

Suara deru motor Raka memasuki pekarangan rumah Zara. Ia segera memarkirkan motornya lalu membuka helmnya.

"Masuk dulu ya, Ka. Biar Mama nggak nanya ini itu. Sekalian aja kamu makan disini. Mau nggak?" tanya Zara setelah turun dari motor Raka.

"Hm, pamit aja sama Mama kamu deh. Kalau sekalian makan takutnya kemaleman. Ada janji soalnya," ucap Raka. Ia lalu turun dari motornya.

"Yaudah deh. Yuk, masuk." Zara berjalan lebih dulu. Diikuti oleh Raka.

"Ko baru pulang, Zara?" tanya Fatimah, Mama Zara ketika Zara dan Raka sudah memasuki rumah. Zara menghela nafasnya. Benar saja, Mamanya langsung bertanya.

Raka dan Zara melangkah menuju dapur menghampiri Mama Zara.

"Eh, ada nak Raka." Raka tersenyum mendengar ucapan Mama Zara. Keduanya mencium punggung tangan Mama Zara.

"Raka cuma nganterin Zara, Mah. Tadi soalnya Zara diminta ngajarin teman dulu. Kalau gitu Raka pamit yah, Mah." Raka pamit pulang.

"Oh, gitu yah. Nggak mau makan dulu, nak?" tanya mama Zara.

"Nggak dulu, Mah. Soalnya takut kemaleman. Udah terlalu sore ini. Ada janji soalnya," ucap Raka.

"Oh, yaudah deh. Makasih yah nak udah nganterin Zara. Hati-hati yah," ujar Mama Zara.

"Iya, Mah. Sama-sama. Assalamualaikum." Raka kembali mencium tangan Mama Zara.

"Wa'alaikum salam," jawab Mama Zara.

"Zara anter Raka sampe depan dulu yah, Mah." Zara meminta izin yang langsung diangguki oleh Mama Zara.

Keduanya melangkah beriringan. Zara mengantar Raka sampai ke depan pintu.

"Raka pamit yah, Zara. Assalamualaikum," ucap Raka. Ia berdiri dihadapan Zara sambil tersenyum.

"Iya, Ka. Makasih, yah. Hati-hati. Waalaikum salam," ujar Zara sambil tersenyum tipis.

Raka berbalik badan. Ia segera memakai helmnya lalu menghidupkan mesin motornya. Sebelum menjalankan motornya, Raka melambaikan tangannya sambil tersenyum dibalik helmnya.

Zara hanya tersenyum tipis membalasnya sambil menganggukkan kepalanya. Perlahan suara deru motor Raka menjauh meninggalkan pekarangan rumah Zara. Zara pun segera menutup pintu dan kembali menghampiri Mamanya.

"Kak Arkan dimana, Nah?" tanya Zara sambil duduk di kursi yang terletak menghadap ke dapur.

"Kenapa?" Tiba-tiba saja kakaknya itu muncul di balik punggung Zara membuat gadis itu kaget.

"Iih, kak Arkan mah ngagetin aja!" Zara memanyunkan bibirnya.

"Hehehe, iya deh maaf. Kan kamu nyari kakak. Yaudah kakak sahutin." Arkan kemudian terkekeh. Namun Zara masih memanyunkan bibirnya saja, kesal.

Arkan memandang wajah adiknya. Seperti biasa. Wajah yang selalu putih pucat dengan mata yang seperti membuktikan bahwa adiknya itu terus berusaha agar terlihat bahagia. Binar yang selalu ditampilkan di mata Zara malah lain di mata Arkan.

Ia lebih mengerti Zara dibandingkan semua teman teman Zara. Binar itu seperti luka yang menusuk hati Arkan. Ia mengerti. Zara sakit. Ya, dia lelah. Lelah dengan semua hal yang dibebankan kepadanya.

"Apa liat-liat!" Zara berseru galak, membuyarkan lamunan Arkan.

"Yaelah, dek. Galak banget sih. Mandi gih sana! Bau tau," ucap Arkan sambil menutup hidungnya seakan memang benar benar bau.

"Nggak ah. Males." Zara menumpukan kepalanya pada kedua tangannya yang terkepal.

"Ish, adik siapa kali males gitu." Arkan memandang adiknya itu dengan heran.

Sederas HujanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang