Bab 17

5.8K 442 49
                                        

Azri POV

Sengaja adalah tindakanku saat ini, membiarkan gadisku sendirian di rumah sana, rumah yang sekelilingnya adalah hutan. Tepatnya hutan buatan, aku tidak akan rela membiarkan Ghania hidup di lingkungan penuh binatang buas.

Memangnya kenapa? Aku berusaha menjaga apa yang menjadi milikku, tidak boleh ada yang mengusiknya dan tidak boleh ada yang menyentuhnya. Seujung kuku-pun. Pengecualian untukku, Azri Ephraim.

Aku sedang kesal saja, kenapa bisa gadisku dengan lantang mengucapkan, ingin kembali ke rumahnya? Jelas-jelas disanalah keberadaan penghalang cinta kami. Memang sudah satu minggu berlalu percakapan itu terjadi, tetapi tetap saja aku tidak bisa melupakannya. Emosi, kesal berkecambuk menjadi satu di dalama otakku.

Segalanya! Segalanya telah aku berikan kepada Ghanianya, untuk apa ini semua jika gadis itu bersikeras akan meninggalkannya, tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, Ghania harus tetap berada di dekat dan genggamannya.

Sekarang ini aku butuh meluapkan segala emosi yang sudah berada di ujung tanduk, mencari mangsa untuk mainannya malam ini. Tidak mudah karena sudah berjam-jam lebih aku mengendarai mobil BMW kesayangannku ini tidak ada satupun mangsa yang menarik perhatianku. Mungkin belum, aku berusaha sabar jika ingin mendapatkan mangsa yang bisa membuatku puas.

Akhirnya mau tak mau aku berhenti di sebuah cafe yang menyediakan berbagai macam varian kopi, hm boleh juga. Mungkin saja akan ada yang menarik perhatiannya disini, remaja? Wanita? Pria? Anak kecil? Mungkin saja salah satu diantara mereka ada yang bisa membuatnya suka.

Aku membuka pintu jalan masuk ke dalam cafe ini, bunyi 'klining' saat aku mulai mendorong pintu membuat beberapa perhatian pelanggan sini melihat ke arahaku. Bagus! Aku benci menjadi sorotan. Jangan lupakan bau kopi yang langsung saja menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku. Hm sedikit bisa membuatku tenang.

Langkah kakiku membawa langsung pada kloter pemesanan minuman disini, hm seorang wanita? Tersenyum genit ke arahku saat aku mulai memesan minuman.

"Ah! Ingin pesan apa ka?" Wanita itu mengatakannya sambil menggigit bibir bawahnya seolah menegaskan bahwa di bagian itu aku bisa tergoda rayuannya.

Aku tersenyum miring, menunjuk buku menu yang berada tepat di depan belahan payudara besar milik wanita ini. Fiks! Bersilikon.

"Hot Coffe late-nya satu," ucapku kemudian, mataku tak lepas dari mata wanita di depanku ini yang berkedip-kedip seolah kemasukan debu di dalamnya.

Wanita itu mengangguk kemudian dengan sengaja meremas tanganku yang bertumpu di meja kaca tersebut. "Ah! Tunggu sebentar ya ka, akan saya buatkan secepat mungkin," ucapnya dengan nada suara yang sengaja di desahkan. Wanita gatal.

Aku mengangguk kemudian meninggalkan kloter itu berjalan mencari meja yang masih kosong, hm disini lumayan ramai pelanggan. Tetapi syukurlah di pojok kiri sana ada meja tanpa penghuni, berada tepat di jendela besar. Sangat strategis untuk melihat keramaian jalanan di malam hari begini.

Tak lama kemudian pesananku pun datang bersamaan wanita tadi yang berniat sekali menggodaku, tidak akan pernah. Hanya Ghania satu-satunya gadis yang bisa memunculkan gairahku, tanpa disentuh sekalipun.

"Ini ka silahkan diminum, ah! Ya jika butuh teman aku bisa menemani kaka disini." Wanita itu meletakan minumannya yang masih mengepul panas sambil menawarkan dirinya, bagus sekali.

Tattoes? No problem Or Problem?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang